4. Sounds of death

3.4K 438 8
                                        

| s o u n d s  o f  d e a t h |

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

| s o u n d s  o f  d e a t h |

[]

Aku pun langsung terburu - buru masuk ke rumahku, tapi aku malah terpeleset batu licin di dekat deretan bambu besar itu. Aku tahu Mas Alan sempat menyadari itu. Tapi aku langsung bangkit dan masuk ke rumahku.

Ditutuplah pintu belakang dengan selopan kayu. Aku masih bersandar di pintu itu, nafasku juga masih terengah - engah. Hei, seharusnya aku tidak usah setakut ini. Lagi pula Mas Alan laki - laki yang baik. Semua warga kampung tahu itu, dia juga ramah ke setiap orang. Serta kerap membantu warga desa yang dilihatnya sedang membutuhkan pertolongan.

Aku mengintip di balik pintu kayu itu. Aku mendapati Mas Alan yang kembali ke arah rumahnya. Dia membawa bambu, di topangnya bambu itu di bahu kuatnya. Aku menghembuskan nafas berat. Tuh kan, lagi - lagi prasangka. Gerutuku kesal. Seharusnya aku tidak setakut ini. Seharusnya juga aku membantu Mas Alan. Siapa tau dia membutuhkan pertolongan. Kataku dalam hati.

"Heiii." Kata Mas Agung sambil melambaikan telapak tangannya tepat di wajahku.

"Eeh-iya, kenapa Mas?" Tanyaku gugup.

"Duh adikku ini kenapa sih, sekarang sikap kamu jadi aneh tau!" Katanya kepadaku sambil memegang segelas air putih kemudian meneguknya.

"Masa?" Hanya itu kata - kata yang keluar dari mulutku.

--

"Eh orang yang tinggal di belakang bambu - bambu itu nanti sore mau di grebek warga lho." Kata Dito dengan suara cukup kencang.

"Beneran Dit?" Tanya Linda bingung.

"Iya, kita lihat aja nanti sore." Kata Dito singkat.

Aku pun kembali membuka halaman demi halaman buku mata pelajaran kimia.

"Din, kamu tadi bareng Mas Alan lagi?" Tanya Ajeng mengagetkanku.

"Enggak Jeng." Kataku singkat. Lah iya iya, tadi pagi aku gak ngeliat Mas Alan berangkat sekolah. Kemana dia? Ah mungkin berangkatnya lebih pagi. Atau lewat gang belakang.

"Tapi Din. Kemaren sore itu aku liat dia lagi beli buku gitu." Kata Ajeng.

"Oh iya, dimana?" Kataku sekarang mulai menatap wajah teman sebangkuku yang terlihat semangat jika membicarakan Mas Alan. Sebenarnya bukan hanya dia aku juga semangat kalau membicarakan tentang Mas Alan.

"Di toko buku deket alun - alun. Sumpah dia ganteng banget Din, pake baju kemeja kotak - kotak merah di tangan kirinya dia pake gelang ya? Sama jam tangan yang buat dia jadi tambah keren." Katanya sambil menaikkan kedua jempolnya.

"Dia beli buku apaan Jeng?" Tanyaku heran.

"Gatau, aku gak sempet liat dia beli buku apa. " kata Ajeng singkat.

Aku hanya menangguk dua kali.

--

Aku beranjak dari kasurku dan mengambil cardigan di belakang pintu. Aku berencana untuk membeli es serut di lapangan sekaligus mencari teman - temanku disana. Es serut sudah berada di tanganku, tapi aku belum melihat gerombolan teman - temanku disitu. Mungkin mereka ada di belakang pos? Aku berjalan santai,.sedikit demi sedikit kusuap es serut ke mulutku.

Aku masih belum mendapati teman - temanku yang berada di sini. Daun - daun rindang menyentuh rambutku, semilir angin sore membuat bambu - bambu itu menjorok menuruti kehendak angin. Sampai akhirnya suapan terakhir, aku baru menyadari aku berjalan terlalu jauh.

Sebelum fajar terbenam berganti malam, aku bergegas lari dan kembali ke arah rumahku. Namun sayup - sayup ku dengar teriakan dari ujung sana.

"Toloongggg!"

Suara - suara kematian.
Adalah suara - suara hidup yang dikorbankan.

Suara - suara itu.
Dalam sunyinya senja.

Jam sudah menunjukan pukul 05.30 sore apa aku harus menolongnya? Sampai - sampai aku lupa kalau di desaku sedang bahaya? Keringat dinginku menetes pelan di keningku aku memegang erat - erat cardiganku. Lalu aku menoleh kebelakang dan yang kulihat hanya sapu tangan biru yang membiusku. Badanku seketika lemas, gelas plastik yang masih setia ku genggam jatuh tak bertuan.

"Tolongggg! Siapapun tolong!" Namun lolonganku percuma, suaraku tidak terdengar dan sore ini sangat sepi.

"Tolonggg!"

*****

A/N: Chapter 4 udahh di post yaap! Maaf lama update bgt. Soalnya aku banyak tugas he-he.

Btw, siapa yg senin UAS? Semoga kalian lancar, dapet nilai memuaskan juga hehe.

The Truth About AlanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang