8. C r u s h

5.3K 612 133
                                        

| c r u s h |

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

| c r u s h |

"I really want to just scream and let him know what is truly inside."

[]

Aku mencoba membuka kelopak mataku, perlahan, bisa ku rasakan pendar-pendar cahaya dari luar. Aku masih sangat lemas sekali. Entah, aku juga bingung saat ini ada di mana. Yang jelas, aku ingin segera pulang.

Aku bangkit dari kasur putih ini. Memandang jendela luar, kemudian menatap langit-langitnya, sepertinya aku kenal dengan tempat ini.

"Eh, Nadin sudah bangun? Diminum dulu Nduk tehnya," ucap Bude Ratih kepadaku. Rumah Bude Ratih memang tidak begitu dekat denganku tapi, sudahlah. Untuk memikirkan bagaimana-bagaimananya nanti saja, aku sudah cukup senang bisa kembali pulih dari pingsanku.

"Makasih banget Bude," segera ku terima teh hangat itu dan menyeruputnya perlahan, kemudian muncul niatanku untuk menanyakan sesuatu hal. "Bude, aku mau nanya."

Sebelum beranjak pergi, Bude Ratih kembali melihatku. "Oh, silakan nanya aja Nduk." Bude Ratih kembali duduk, tepatnya di pinggiran kasur ini.

"Yang bawa aku ke sini siapa ya Bude? Apa Bude sendiri? Soalnya tadi aku ngerasa ada tangan yang kokoh gitu langsung nangkep badan aku pas jatoh."

Bude Ratih tersenyum, "Oh, kamu penasaran siapa yang bawa kamu ke sini?"

Aku mengangguk semangat. Apakah yang membawaku Pakde Trimono? Namun, rasanya tidak mungkin. Beliau kan ingin melayat ke rumah Mas Parjo. Mana mungkin juga Pakde Trimoni kuat mengangkatku yang berat ini? Maksudku aku bukan gemuk ya.

"Ayo Nduk duduk di luar kalo kamu mau liat siapa yang udah bawa kamu ke sini," ajak Bude Ratih kepadaku. "Udah nggak pusing kan Nduk?" Tangan beliau menyentuh dahiku seperti memeriksa suhu tubuhku.

Aku menggeleng semangat, "udah seger Bude, makasih ya tehnya."

"Sama-sama Nduk, kayak sama siapa aja deh. Kita kan sekampung." Bude Ratih tertawa pelan, kemudian tangannya menggandengku membawa keluar, menuju arah ruang tamu. Yang saat itu juga, aku melihat sosoknya yang tengah berbincang dengan Pakde Kasim—suami Bude Ratih. Seperempat detik kemudian iris mataku bertabrakan dengan sosok laki-laki bermata teduh nan sayu, dengan senyum yang ia berikan, senyum keteduhan serta perasaan lega. Mas Alan kini menatapku dengan lembut seraya berkata, "Udah baikkan Nadin?"

Aku mengangguk. Anggukan yang entahlah dari dalam hatiku. Aku tidak menyangka kalau Mas Alan yang akan membawaku ke sini. Jantungku masih berdebar sangat kencang kala mendapatinya duduk dan menungguku yang belum pulih dari pingsanku.

"Makasih ya Mas, maaf ngerepotin Mas yang lagi sibuk tadi."

"Nggak apa-apa Dek, yang penting sekarang kamu udah baikkan, Mas seneng liatnya." ucapnya sambil tersenyum. Sangat betah memandangi wajahnya, tidak pernah sekalipun aku mengingkari perkataan warga desa kalau Mas Alan memang benar-benar tampan. Bahkan dari kecil aku sudah sangat kagum dengannya. Entah sejak kapan perasaan kagum ini berubah menjadi rasa suka. Apakah saat Mas Alan sering datang ke rumah hanya untuk mengerjakan tugas dengan Mas Agung? Atau sejak Mas Alan sering menumpang wudhu di rumahku? Entahlah, yang jelas aku hanya bisa menahan rasaku untuk segera teriak dan berterima kasih pada Tuhan.

"Ya udah Bude ambil makanan dulu ya buat kalian, pasti pada laper kan?" Bude hendak beranjak menuju dapur namun langsung ditahan oleh Mas Alan. "Eh, bentar Bude. Jangan repot-repot hehe, ini Alan mau langsung pulang aja sama Nadin. Maaf ya Bude udah ngerepotin Bude."

"Duh, sama-sama cah ganteng. Kalo ada apa-apa ke sini aja ya Le, Nduk. Bude pasti bantuin kok."

Mas Alan mengangguk pasti. Kemudian saat itu juga kami menyalami Bude Ratih dan Pakde Kasim, izin untuk beranjak pulang.

"Makasih ya Bude," ucapku. Kemudian aku dan Mas Alan berjalan bersamaan keluar dari rumah ini. Tak terasa tangan Mas Alan menggenggam pundakku agar kokoh dan mungkin yang ia takutkan aku akan terjatuh (lagi).

[]

"Tadi Mas Agung nelpon aku Dek, katanya Mas Agung sekeluarga lagi ada acara di Solo. Emang kamu ndak ikut, Dek?" tanya Mas Alan.

Oh iya! Aku bahkan lupa kalau keluargaku sedang ada acara. Percuma juga kalau ke rumah pasti tidak ada orang. Kalau tidak ada orang pasti tidak ada makanan juga. Duh, padahal aku sangat lapar.

"Iya Mas, aku tau kok. Mas mau langsung pulang?" tanyaku pelan.

"Mas mau anterin kamu pulang tapi di rumah ndak ada orang kan? Sekarang mau cari makanan, mending ikut Mas aja mau, kan?" ajak Mas Alan kepadaku.

"Emang boleh Mas?"

Mas Alan tersenyum, "boleh dong! Malah seneng kalo ada temennya. Kalo sendirian kan dikira jomblo gitu."

Aku tertawa pelan dan setelahnya Mas Alan memasangkan helmnya kepadaku. Entah, aku merasa darah yang berdesir detik ini juga berhenti. Melihat wajah keturunan jawa kental yang sangat menawan. Juga rambutnya yang teracak berantakan, dan harum parfum yang dikenakan di kemeja flanelnya tak pernah berubah sejak SMA, sampai sudah di bangku kuliah tetap sama. Dan aku sangat menyukainya.

Aku bersyukur bisa pingsan tadi kalau akhirnya seperti ini. Entahlah, yang aku rasakan hanyalah butir-butir keindahan seperti sekarang. Otakku sibuk merangkai frasa demi frasa untuk mengucapkan rasa terima kasih untuk Mas Alan.

"Pegangan Dek, takut jatuh lho kalau ndak pegangan." Aku mengangguk, dan melingkarkan tanganku dipinggangnya.

Segera ku tepis jauh-jauh bahwa aku pernah mengira kalau Mas Alan adalah sosok pembunuh yang telah mengintai warga desa kami.

Kenyataanya adalah saat ini, aku sedang duduk menunggu pesanan. Kami berhenti di warung makan jawa, menunggu pesanan. Dan di depanku sudah ada es teh manis segar. Yang tambah manis jika di depanku adalah Mas Alan.

Selesai makan kami bertukar playlist. Aku tidak menyangka kalau Mas Alan juga suka dengan spotify! Menyangkan sekali, apalagi saat ini hujan sedang turun. Kami sedang memilih lagu apa saja yang bagus. Kemudian harus suit siapa yang menang akan memutar playlistnya duluan. Dan ya! Aku kalah, akhirnya aku yang harus mendengarkan lebih dulu lagu-lagu Mas Alan sambil menunggu hujan reda untuk pulang.

Dan detik itu juga, saat angin ikut dengan pembicaraan kami. Juga beberapa tetesan hujan yang memaksa ikut bergabung dengan berbagi cipratan denganku. Mas Alan kini memasangkan headsetnya satu di telinganya kemudian di telingaku. []

***

Kira-kira ada yang penasaran nggak sih sama visualnya Mas Alan? Heheh. Aku bawain visualnya Mas Alan nih biar kalian tambah semangat baca ceritanya wkwkwk!

Nah itu dia ya! Next chapter bawain visualnya siapa? Nadin? Okee! Hehe, oh iya makasih yah udah mau baca bab ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nah itu dia ya! Next chapter bawain visualnya siapa? Nadin? Okee! Hehe, oh iya makasih yah udah mau baca bab ini. Nggak tegang-tegang banget kan? Masih pada ngira kalo Mas Alan pembunuhnya? Tunggu next chapter ya!!!

40 votes for new update?

- Adaptasi -

The Truth About AlanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang