Stay? It's too Hard #7
“Tidak. Kumohon jangan pergi. Prilly! Prill!” Ali berteriak memanggil-manggil namaku. Aku tidak perduli. Aku sudah muak. Aku bukan malaikat. Aku hanya manusia biasa.
***
Aku melonjak kaget ketika Gritte menempelkan segelas air dingin di pipiku. Aku menoleh cepat, kemudian mamasang wajah kesal.
“Melamun lagi?” Gritte memutari tubuhku. Kemudian menarik kursi disampingku.
“Kau mengagetkanku! Bodoh!” aku memutar bola mataku kesal.
“Berhenti mengataiku bodoh! Kalo bodoh aku tidak akan menang kemarin.” Gritte menggerutu, meneguk habis gelasnya. Aku terkekeh mendengarnya.
Benar juga. Beberapa hari yang lalu, Gritte memang mengikuti sebuah acara yang memberikan hadiah sebuah kafe elit. Aku tidak menyangka dia memenangkannya. Itu artinya, kafe elit itu resmi miliknya.
“Ck! Sombong sekali!”
“Aku sedang membanggakan diri!”
“Apa bedanya?”
“Jangan merusak pagiku. Aku sedang berbahagia sekarang!” Aku terkekeh geli mendengar ucapannya.
“Yayayayaya. Kau memang hebat!”
“Terimakasih.”
“Tapi bagaimana dengan butikmu?” Aku kini menatapnya serius. Dia juga sedang menatapku.
“Aku sudah menyerahkannya pada omaku.”
“Lalu karyawanmu. Termasuk aku juga. Kau akan memecatnya?” Aku begitu was was. Kalau Gritte memecatku, aku harus mencari pekerjaan dimana?
“Hei. Aku tidak seburuk itu. Mereka akan tetap bekerja denganku. Di kafe itu.” Gritte tertawa kecil mengamati perubahan wajahku.
“Termasuk aku?”
“Ya. Kau juga.”
“Kau memang yang terbaik!” Aku beringsut bangkit, memeluk lehernya erat.
“Aku tau. Aku terlalu bosan mendengarnya.”
“Kau mau membantuku? Aku ingin meresmikan kafeku besok.”
“Aku selalu siap!” Aku mengangkat kedua ibu jariku didepan wajahnya.
“Beristirahatlah. Aku akan menyiapkannya!” Aku mengangguk pelan, kemudian berjalan menuju kamar Gritte. Perlu kalian ketahui, saat ini aku memang sedang berada di apartemen Gritte. Tepatnya, dua hari yang lalu.
***
Aku menuruni tangga pelan. Tubuhku rasanya sakit semua. Ditambah lagi kepalaku yang terasa berat. Dan rasa mual yang tidak ada hentinya.
“Kau sudah bangun?” Aku menoleh kearah dapur— yang berada di bawah tangga. Ada Gritte yang sedang berkutik disana.
“Hemm..” jawabku seadanya. Kepalaku masih sedikit pusing.
“Bagaimana? Sudah merasa enak?” tanya Gritte menghampiriku yang sedang duduk di ruang makan.
“Sedikit. Kau masak apa?” jawabku serak. Mataku beralih menatap nampan yang sedang di bawa Gritte.
“Aku sedang mencoba memasak rendang. Kau suka?” Rendang? Astaga! Tiba-tiba saja sekelebat bayangan Ali yang begitu lahap memakan rendang terlintas diotakku. Aku merindukannya. Masih boleh?
“Aku menyukainya.” Bohong! Bukan aku yang menyukainya, melainkan— Ali.
“Kalau begitu tunggu dulu. Aku akan menyelesaikannya cepat.” Gritte berlonjak senang, kemudian kembali berkutik di dapur.
KAMU SEDANG MEMBACA
IT'S TOO HURT
Hayran KurguDendam. Semua ini tentang dendam. Satu kata yang dapat menghancurkan hidup seseorang. "Aku ingin memilikinya. Bukan karena Aku mencintainya. Bukan karena Aku menyayanginya. Tapi, karena Aku begitu menginginkannya." --Aliandra Syarief "Jika dengan me...
