Adaptasi Part 3

246 19 0
                                        

  Direkomendasikan membaca sambil mendengarkan lagu dari video di atas, untuk meningkatkan imajinasi masing-masing ^^

-------------------------------------------------------------

  Lyn berjalan dengan Mya menelusuri suatu jalan kecil. Kata Mya, itu jalan yang menuju ke kotam mereka berjalan di bawah matahari yang lumayan terik, karena saat itu sudah agak siang--sekitar jam 9.

  "Haa.. Haa.." entah kenapa, Lyn ngos-ngosan saat ia berjalan, langkah kakinya pun sedikit terseok-seok. Lyn tertinggal oleh Mya yang sudah terbang dengan cepat ke depan.

  "Mya..! Tunggu..." Lyn memanggil dengan pelan. Untungnya, dengan suara sekecil itu, Mya dapat mendengarnya.

  "Lyn!! Ada apa?" Mya langsung menghampiri Lyn yang tertinggal di belakang.

  "A-aku tidak tau.. kurasa.. ini karena.." napas Lyn makin tersengal. Sebelum sempat melanjutkan perkataannya, Lyn kehilangan kesadarannya.

  "E-eh?!" Mya sempat panik, namun ia segera berpikir dengan cepat. Kalau Mya tidak mengendalikan gravitasi di sekitar Lyn, tubuhnya pasti sudah menabrak tanah. Dan agar tidak ada yang melihat, Mya membuat tubuh Lyn menjadi transparan.

  Mya membawa Lyn ke pohon yang cukup besar agar tak terkena sinar matahari. Karena, jika terlaly lama dibawah sinar matahari, kekuatan Mya akan pudar. Dia berpikir cukup lama. Sampai akhirnya, karena tak menemukan jawaban yang pasti tentang Lyn, Mya memutuskan untuk membuka Panduan Pixie.

  Hanya dengan memikirkan buku panduan itu, sebuah cahaya langsung muncul di hadapan Mya dan berubah menjadi layar monitor kecil. Mya mencari bab yang membahas tentang Sayap Putih. Dan ia menemukan sebuah kalimat yang menjadi jawaban dari pertanyaannya.

  Sayap Putih tidak tahan matahari.

  Dengan kalimat yang singkat itu, Mya langsung terbelalak. Ia melupakan salah satu point yang penting dalam menjadi Pixie--ia harus mengetahui kelebihan dan kekurangan pemiliknya. Ia menoleh ke arah Lyn yang masih terbaring di dekat batang pohon yang besar.

  Kapan dia sadar? Mya bertanya-tanya dalam hati.

  Karena bosan menunggu Lyn siuman, Mya memutuskan untuk pergi ke kota sendirian dan membeli segala keperluan mereka. Namun sebelum itu, pihak Bulan telah memberikan sejumlah uang kepada Mya.

  Setelah beberapa saat terbang, Mya akhirnya sampai di pusat kota, tempat yang dipenuhi oleh manusia. Mya melihat-lihat etalase toko, sampai akhirnya ia menemukan toko roti.

  Mya yang bertubuh mungil tentu saja tidak bisa membawa roti. Ia pun meletakkan beberapa lembar uang setelah melihat harga roti itu, kemudian membuat roti itu menjadi transparan, lalu menerbangkannya dengan cara mengendalikan gravitasi. Mya juga membeli beberapa minuman.

  Mengapa Mya tahu cara melakukan jual-beli di Bumi? Itu karena saat di Bulan, ia selalu memperhatikan bagaimana sikap dan perilaku manusia, agar saat pemiliknya ditugaskan di Bumi, ia dapat berguna.

  Seperti itulah kehidupan Pixie di Bulan. Apabila pemiliknya tidak terpilih untuk bertugas di Bumi, Pixie itu pun akan ikut berdiam diri sampai masa hidupnya berakhir. Sementara untuk beberapa Sayap Putih yang dilenyapkan karena melanggar aturan, Pixie milik mereka akan lenyap pula.

  Mya terbang dengan cepat menuju pohon besar tempat Lyn terbaring tadi. Setelah dekat, Mya dapat melihat Lyn yang duduk sambil memainkan tanah dengan ranting kayu kecil di bawah pohon itu.

  "Lyn!" Panggil Mya dengan senang. Lyn menoleh.

  "Ah, kau sudah kembali"

  Mya mendekati Lyn dengan beberapa bungkus roti dan beberapa botol minuman melayang-layang di dekatnya. Lyn yang baru pertama kali melihat yang seperti itu mengernyitkan dahi.

  "Ini apa?" Tanya Lyn sambil mencomot salah satu bungkus roti yang melayang itu.

  "Itu roti cokelat.."

  "Hah?" Lyn mengangkat salah satu alisnya.

  "Iya! Roti isi selai cokelat.." sahut Mya.

  "Aku tau roti, kok.. Tapi, selai cokelat itu apa?" Lyn mengerjap-erjapkan matanya di hadapan Mya. Menunjukkan rasa ingin tahu yang besar. Mya menghela napas pelan.

  Repot juga, ya.. gumam Mya dalam hati.

  "Pokoknya selai cokelat itu seperti krim keju di Bulan. Hanya saja, rasanya manis dan gurih gimana gitu.. Terus.." Mya sedikit bingung menjelaskan.

  "Ah! Pokoknya selai cokelat itu enak kok..! Tidak beracun, jadi tenang saja" lanjut Mya.

  Lyn merobek bungkus rotinya. Setelah menggigit roti itu sekali, mata Lyn membulat sempurna.

  "Ini enak! Lebih enak daripada keju..!" Seru Lyn. Mya terkikik pelan melihat Lyn yang begitu takjub dengan cokelat.

  "Kau mau?" Tanya Lyn sambil menyodorkan rotinya.

  "Tentu saja..!"

  Setelah beberapa menit, akhirnya mereka selesai melahap habis roti dan minuman yang dibeli oleh Mya. Tiba-tiba, Mya menyentuh Lyn dengan tangannya, dan seketika tubuh Lyn menjadi transparan.

  "Terbanglah pulang ke rumah.. Kau tidak bisa berjalan di bawah matahari terlalu lama" perintah Mya. Lyn masih berusaha mencerna kata-kata Mya.

  "Cepat!" Mya sedikit menggertak.

  "Hah? O-oke..!" Lyn agak gelagapan. Namun, ia segera membentangkan sayapnya, kemudian terbang dengan cepat.

  "Hh.. apa dia belum tahu kelemahannya sendiri?" Keluh Mya saat Lyn sudah tak terlihat.

  "Sudahlah.. sekarang saatnya belanja..!" Mya menyemangati dirinya sendiri. Walaupun ia tak yakin akan mengangkat barang-barang belanjaannya yang banyak dengan kekuatannya, di bawah terik matahari yang semakin panas ini.

  Pokoknya, beli saja semua yang kira-kira perlu, dan cepat pulang! Batin Mya sembari mengepak-ngepakkan sayap mungilnya kembali menuju pusat kota--tempat ia membeli roti tadi.

  Sementara Lyn yang sedang terbang, tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak enak.

  Dan benar saja, seekor Kurt sebesar lemari sedang terbang di dekatnya.

The WingsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang