Warning!! Typo everywhere, hope you enjoy it and happy reading :)
***
Vanessa melangkahkan kakinya memasuki lift. Dia menyenderkan badannya pada dinding lift. Memejamkan mata sesaat dan menghembuskan nafas lelah.
Beginikah hidup yang harus ia jalani? Kapan kebahagiaan akan menghampirinya? Rasanya ia sudah lelah dengan semuanya. Kenyataan pahit yang menghampirinya bertubi - tubi seakan tak pernah ada habisnya. Dulu, ia mampu bertahan karena harapannya yang ia tumpukan pada Natanya. Ia yakin jika suatu saat Natanya kembali, ia akan membawanya untuk menggapai kebahagiaan bersama.
Dan sekarang, harapan hanyalah tinggal harapan. Semua seolah menguap begitu saja. Menyerah? Apa itu yang sebaiknya ia lakukan?
Tidak! Jawabannya adalah Tidak. Dia sudah terlampau mencintai Nata dan sebisa mungkin ia akan mempertahankan hatinya. Karena satu prinsip yang ia pegang,
Nothing is impossible anything can happen as long as we believe.
Vanessa percaya akan hal itu. Keajaiban akan datang menghampirinya. Entah itu kapan. Karena ia yakin satu hal. Tuhan tidak akan pernah tertidur. Dia tidak sendiri lagi. Dia mempunyai Tuhan yang menemaninya. Yang mampu mendengarkan seluruh keluh kesahnya, mendengarkan setiap doa yang ia panjatkan.
TING
Pintu lift terbuka begitu saja. Sesosok pria berstelan rapi memasuki lift itu. Dia berdiri mematung di ambang pintu lift sembari memperhatikan Vanessa yang tengah memejamkan matanya. Vanessa seolah tidak menyadari kehadiran pria itu. Ia sibuk berkelana di dalam pikirannya sehingga tidak menyadari sosok yang menatapnya dalam.
"Ehemm.. "
Vanessa segera membuka matanya dan mendapati seorang pria di hadapannya.
"Gabriel!"
Vanessa berseru pelan. Dia menatap lelaki di hadapannya itu dengan pandangan kesal. Gabriel Demarcus, dia merupakan atasan Vanessa dimana ia bekerja di perusahaan ini.
"Kau membuatku terkejut! Kau tau huh?"
Gabriel terlihat mengendikkan bahunya. Ia segera menekan pintu liftnya dan menarik pergelangan tangan Vanessa supaya keluar dari lift itu. Ia seakan tidak memperdulikan ucapan Vanessa.
Vanessa hanya terdiam mengikuti Gabriel. Dia tadi berniat bertemu dengan lelaki yang satu ini dan akhirnya ia tidak perlu repot mencarinya.
Gabriel membuka pintu ruang kerjanya. Bau harum khas ruangan Gabriel langsung menusuk indra penciuman Vanessa. Aroma harum dari kayu - kayuan yang sangat menenangkan hati.
Gabriel membawa Vanessa duduk di sofa. Ia membiarkan Vanesaa duduk dan sementara dirinya tetap berdiri, menatap Vanessa dengan pandangan penuh intimidasi. Seketika Vanessa merasa ciut dengan tatapan Gabriel.
"Kemarin, kau kemana saja Vanessa!"
Vanessa mengerutkan dahi ketika mendengar suara Gabriel yang terdengar begitu tajam. Ia mengingat kejadian kemarin yang begitu menyesakkan untuknya.
"Vanessa! Jawab pertanyaanku!"
Vanessa mendongak, membalas tatapan Gabriel. Dia bisa merasakan ada kegusaran dalam tatapan Gabriel. Terlihat amarah, gelisah dan juga kekhawatir tercampur menjadi satu.
"Aku.. Aku kemarin hanya tidak enak badan. Jadi aku memutuskan untuk tidak masuk. Maafkan aku Gabriel"
Maafkan aku harus membohongimu Gabriel. Aku hanya belum siap membagi kisah ini kepada siapapun. Biarlah hanya aku yang merasakannya, dan kau tidak perlu tahu tentang masalahku. Sudah cukup aku merepotkanmu selama ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet (On Hold)
RomanceVanessa Dawson dan Vania Dawson. Terlahir sebagai saudara kembar yang memiliki rupa yang sama persis. Namun, mereka sangat berbeda. Vanessa gadis yang periang dan Vania gadis yang pendiam dan sering sakit-sakitan. Itulah mengapa orang tua mereka mem...
