"Ayo muncak." Ucap gue. Di tengah perdebatan seru antara 9 setan yang ribut nentuin tempat liburan, gue hadir dengan ide terbrilian sepanjang masa. Mendaki gunung alias muncak.
Gue emang sesuatu.
(garing)
"Panty, please. Ide lo gak banget. Gue males ah. Mending tidur aja di rumah." Muh yang paling mager kalau diajak olahraga, langsung nolak mentah-mentah.
"Ribut amat sih? Mau liburan apa cari jodoh, mbak?" balas Aldo. Doi keliatan udah bosen hidup.
"Eh lo, gak usah banyak bacot ya. Sini lo kalau berani!—" oke, adegan terpaksa cut disini. Emosi Muh emang kadang mengerikan—hal terakhir yang pengen gue dapet. Bahkan dia gak segan nunggu lawannya di gerbang. Begal? Bukan. Mau nebeng pulang. Modus, biasa.
"Oke, berangkat. Setuju kan semuanya? Siip." Diandra yang paling bijaksana (baca:gak mau repot) akhirnya buka suara.
"Oi kampret, gue belum ngasih suara cuks. Sabar dikit napa. Kita voting aja deh. Siapa yang setuju?" Yudhan kembali ke tampang 'bapak'nya.
Delapan tangan terangkat ke atas. Itu berarti, hanya Muh yang nolak ide gue. Gak apa-apa, pada akhirnya tuh anak pasti bakal luluh. Gue jamin 0,9999% (eh?). Dia kan paling gak suka dikentangin.
"Menurut kalian enaknya tanggal berapa?" gue minta pendapat lagi. Gak enak juga kan kalau mutusin sendiri. Betewe, si Muh kenapa masih diem aja dari tadi? Kok dia belum luluh?
"Gue pulang dulu." Parah, dia bahkan mau pulang. Aduuuh kenapa virus gondoknya datang di saat yang gak tepat gini? Bikin awkward kan.
"Iye, pulang aja yang jauh. Jangan balik." Balas Lola, agak ketus. Mereka berdua kenapa? Gue gak terbiasa liat mereka marahan. Cewek emang susah dimengerti.
Muh tanpa banyak bacot langsung keluar. Ruangan ekstra dimana kami nongkrong sejenak jadi sunyi. Gak ada yang berinisiatif memulai pembicaraan.
Lima menit kemudian, Arma mengetuk lantai dengan pensilnya keras. Mungkin mencoba menarik perhatian kami ber-7. "Tanggal 23, 24 Juni. Awal liburan semester. Selasa-Rabu. Semua setuju kan?" kami mengangguk bersamaan, "Gue balik dulu ya, bosen disini. Diem mulu. Trus masalah Muh, udah jangan diusik. Dia lagi pms kali. Kalian tau sendiri lah, kalau pms dia suka jadi naga. Assalamu'alaikum."
Setelah kepergian 2 cewek itu, satu-persatu geng setan balik ke rumah masing-masing.
Dan saat gue cuma berdua sama Diandra, gue baru menyadari sesuatu. "He, lo gak ngerasa ada yang aneh?" tanya gue ke Diandra, memastikan bukan cuma gue yang lihat 'itu'.
Diandra celingukan. Tepat ketika kepalanya menoleh ke pojokan, ada gundukan misterius tertutupi tikar lapuk. "Lo punya katana? Bedhil (pistol)? Atau bom nuklir?" ucapnya dingin, sembari beranjak berdiri dan membuka gundukan misterius itu.
Gue menghela napas panjang dan teriak. "Setan sialan. Mereka pinter banget bikin kita berdua menderita. Monopoli, uno, domino, dakon! Mereka yang main, kita yang bersihin. Pantesan pada pulang semua! Dasar licik!"
Sumpah ya, dasar para rubah! Mereka sengaja pulang biar bisa kabur dari tugas bersih-bersih sekret. Ooh, awas kalian semua. Gue bakal bales suatu hari nanti.
"Brengsek," umpat Diandra. Meski begitu dia tetap bersihin semua mainan yang berserakan. Ini nih yang paling gue suka dari dia. Sabar. "Kalau lo mau pulang, pulang aja Ty." lanjutnya. Mata gue berbinar, tumben mau ngalah? Sabar kan gak selalu sepaket sama ngalah. Gue beneran mau pamitan sebelum dia balik badan gusar, "tapi langkahi dulu mayat gue." Tanpa ampun, dia menjewer telinga kiri gue. Pantesan aneh, cuma tipuan ternyata!
"I..iya aduh! Lepasin. Sakit bego." protes gue.
Yang terjadi kemudian benar-benar seperti dugaan gue. Dia berhenti bersih-bersih dan ganti memperbudak si Panji unyu-unyu ini! Bangsat. Emang dikata ini jaman penjajahan Jepang kali ya. Please deh, udah mirip romusha tau gak. Gue urung deh suka dia!
"Trus kalau cuma gue yang kerja, kenapa lo gak pulang aja?!" gue gak habis pikir, dia punya otak apa gak?! Udah tau nganggur banget, masih aja berdiri di menjulang di depan gue yang lagi jongkok ngumpulin kartu Uno. Dan lagi, apa-apaan sama tampang sok kuasanya itu? Menjengkelkan.
"Gue pengen ngawasin lo. Siapa tau lo juga berniat kabur?" balasnya ritoris. Diandra....ganteng sih. Tapi psikopat. Sayang sekali, bung.
Gue melempar dadu monopoli ke wajahnya. "Ya bantuin kek. Gue kan capek kerja sendirian."
"Sabar, bee."
Gue tertegun sepersekian detik, kemudian mencoba berpura-pura mengerutkan dahi. Jijik. "Bangke. Geli gue dengarnya. Aldo-Aldi banget. Dasar plagiat." balas gue pedas.
Diandra nahan tawa. Dia mengulurkan tangan menggoda sambil beringsut mendekati gue.
"Jauh-jauh lo dari gue," ancam gue. Sumpah, gaya mesumnya gak banget. Bahkan bapak impoten dekat rumah gue masih mending.
"Sini..." bisiknya, ganti menyeringai. Gue ngeri sendiri. "Gak lucu." balas gue, mulai keganggu sama tingkah konyolnya.
Bukannya pergi dan kembali ke sikap sok kuasanya, Diandra malah melompat dan mengurung tubuh gue di dekapannya. "Kena lo! Haha." ucapnya sembari menggelitik perut gue tanpa ampun.
Gue ketawa, campuran antara rasa geli dan konyol. Diandra niat banget ngerjain gue. Kunyuk satu ini..
"Udah...haha..hah..lepasin bego. Badan gue sakit semua. Hoi lepasin, mau gue tuntut lo?" protes gue, sedikit tersenggal-senggal.
Diandra melepaskan pelukannya. "Oke. See ya." ucapnya kemudian beranjak ke pintu.
"Lo mau pulang?" tanya gue sambil merapikan seragam. Serius, seragam gue sekarang udah mirip korban pemerkosaan. Hadeh.
"Iya, kenapa? Mau nebeng?" balasnya.
"Kagak. Betewe, lo ikut muncak kan?" entah kenapa gue pengen tau dan rada deg-deg'an juga nungguin jawaban Diandra.
Semoga ikut. Semoga ikut. Semoga ikut.
"Liat ijin nanti. Kalau boleh sama ortu, ya ikut."
Keyakinan gue hilang separuh. "Alah..usahain deh."
Dia memandang gue heran. "Lo kenapa, Ty? Ngarep banget gue ikut?"
Gue ketawa kecut. "Kalau iya, lo mau apa?" kata gue, ngode. Tapi ujung-ujungnya pasti percuma, dia gak bakal peka.
"Haha. Oke deh, terserah. Yang pasti gue bakal tau alasannya kan?"
Dia tau gue tipe orang yang bakal ngasih tau rahasia di waktu yang tepat. Itu kenapa gue secara khusus dapet gelar si Tuan Tak Berpendirian, saking seringnya gue bongkar rahasia gue sendiri. Ah, shit. "Yeah, segera."
"Oke, gue tunggu."
Baiklah, hari itu akan segera tiba. Kira-kira, bagaimana reaksinya kalau tau gue...
...suka?
###
Selamat liburan, teman2. Inget buat temen-temen kelas 3, SMA jadi ujian btw :v
KAMU SEDANG MEMBACA
Satan
Random[Boyslove] Pepatah bijak mengatakan : "Jika kamu ingin tau mana teman sejati, ajak dia ke gunung". Begitu pula Panji. Dia ingin membuktikan apakah pepatah itu berlaku secara universal-dia dan kedelapan sahabatnya? Motif lain, dia ingin meneguhkan h...
