Iya, coeg banget rasanya waktu kepala Bencis tersentak ke belakang secara tiba-tiba.
Kampret. Kaget gue. Awalnya gue kira dia kesurupan. Tapi gak, setelah gue pikir lagi, gue baru sadar. Setan mana sih yang tega masuk ke jiwa temennya sendiri?
Tapi syukur deh gue selamat dari adegan ambigu tadi.
Bencis mengusap kepalanya sambil meringis kesakitan.
“Kenapa lo?” tanya gue, prihatin.
Bukannya menjawab pertanyaan gue, si Bencis malah ketawa. “See? Yang ngelempar kepala gue pakai kerikil, itu dia yang gue maksud,” katanya.
Gue yang gak punya titisan Edison, cuma melongo bingung. “Maksud lo?”
Bencis memutar pundak gue 45 derajat ke kanan, kemudian menunjuk seseorang yang berjalan di depan kami. “Dia, orang yang diam-diam suka lo.” Bisiknya.
Gue shock. Yang bener aja?!
“Dia?” tanya gue, memastikan.
“Hm..” Bencis mengangguk pelan sembari melepas tangannya dari bahu gue.
Jantung gue berdetak lebih cepat dengan sendirinya, sedikit nyeri. Bencis baru aja bilang kalau Yudhan ternyata suka gue. Sumpah, gak lucu!
Apa Yudhan segoblok itu? Boro-boro bersyukur, gue malah takut karena disukai teman sendiri. Ah, mati aja deh.
Karena terlalu sibuk dengan pikiran sendiri, gue berjalan sambil menggerutu dan meninggalkan Bencis jauh di belakang. Dia sampai repot-repot teriak. “Panty, tungguin gue, elah.”
###
Beberapa jam kemudian, kami berenam udah sampai kembali ke Latar Ombo. Semua anggota 9 setan sepakat bagi tugas buat bersih-bersih dan masak untuk makan siang.
Mata gue gak bisa lepas dari gerak-gerik Yudhan. Gue mengamati dia diam-diam. Bencis yang mergokin kelakuan norak gue senyam-senyum gak jelas. Sialan tuh anak. Gue tau kalau dia terang-terangan mengejek gue. “Iya tau yang mulai jatuh cinta,” cibirnya.
Gue yang lagi masak mie jadi kesel sendiri. Tanpa ampun gue gepukin pahanya pakai sendok makan.
“Ampuuuun..” Bencis berusaha bangkit dari posisi duduknya buat menghindari serangan bertubi gue. Sayangnya, gue menahan bajunya duluan. “Gue bercanda, Panty. Yudhan bantuin gue!” lanjutnya, memanggil bala bantuan.
Yudhan yang lagi sibuk melipat tenda, menunjuk dirinya sendiri. “Gue?” tanyanya, memastikan kalau Bencis beneran memanggilnya.
Melihat Yudhan menoleh ke arah gue—sebenarnya gue dan Bencis sih, berhasil bikin gue makin nervous. Stay cool Panji, batin gue komat-kamit.
Gue memalingkan wajah ke arah lain, gak kuat lihat Yudhan lama-lama.
“Gak apa-apa, Pak. Lanjutin sono bersihin tendanya.” Balas Bencis pada Yudhan.
Selanjutnya, Bencis beralih menatap gue. “Go get him. Gue capek dicurhatin mulu tentang lo,” ucapnya sungguh-sungguh.
Gue malu, anjir demi apa. Panji si unyu malu? Fix, otak gue udah geser. Bikin gue makin gila. “Gue gak tau,” balas gue pelan. Sebenarnya si Yudhan udah berapa lama sih curhat ke Bencis, sampai-sampai yang dicurhatin bosen?
Gue bingung harus bersikap gimana setelah ini.
###
Kami akhirnya kembali ke parkiran tepat pukul 1 siang.
Karena kelelahan dan terlalu bahaya untuk melakukan perjalanan jauh, 9 setan memutuskan menginap di rumah salah satu saudara jauh Aldo-Aldi yang ada di Malang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Satan
Random[Boyslove] Pepatah bijak mengatakan : "Jika kamu ingin tau mana teman sejati, ajak dia ke gunung". Begitu pula Panji. Dia ingin membuktikan apakah pepatah itu berlaku secara universal-dia dan kedelapan sahabatnya? Motif lain, dia ingin meneguhkan h...
