Cuaca sore ini lumayan cerah tapi agak sedikit berawan dan sekarang saya sedang dalam perjalanan menuju rumah Alana. Lima belas menit yang lalu dia menelpon saya, meminta untuk saya menemaninya dan memberitahu kalau dia sedang tidak enak badan dan lagi dia sendirian di rumah, kedua orang tua dan adiknya sedang keluar kota atau bisa dibilang berlibur akhir tahun tapi Alana lebih memilih untuk tidak ikut alasannya karena masih harus masuk kuliah. Ampun deh anak itu memang selalu buat saya kepikiran.
Oh iya saya sampai lupa mengenalkan diri, nama saya Fadli Karim Abqari biasa dipanggil Fadli. Saya sama seperti anak laki-laki berusia 20 tahun biasa bedanya saya lebih beruntung karena mendapatkan seorang perempuan yang susah ditemukan di dunia. Oke saya lebay, tapi ini benar kenyataannya. Saya merasa sangat beruntung bisa kenal Alana, saya merasa sangat bahagia bisa 'memiliki' Alana. Dan semoga dia juga merasakan hal yang sama. Disini saya mau cerita tentang apapun yang saya dengan Alana lakukan, jadi jangan bosan ya.
****
"Yuk berangkat ke rumahku aja ya, biar kamu gak sendirian"
"Iya Dli, sebentar ya aku ganti baju dulu"
"Gak usah Na"
"Fadli, aku cuma pake baju tidur. Kaya orang gila aku pake baju tidur keluar gitu. Diketawain orang nanti"
"Oiya hahaha yaudah cepet ya"
"Iya sayang" astaga Lana, kenapa jantung saya selalu ingin lepas kalau kamu mengucapkan kata itu.
Sepuluh menit berlalu sekarang Alana sudah rapi, dia mengenakan dress brokat motif bunga warna putih gading selutut ditambah cadigan warna maroon dengan rambutnya dibiarkan terurai kebelakang walaupun mukanya masih agak sedikit pucat tapi tetap tidak mengurangi auranya. Ya Tuhan dia sangat cantik. Detak jantung saya semakin tidak karuan sekarang.
"Fadli? Kok malah bengong?"
"E..eh iya Na?"
"Kenapa? Aku jelek ya? Aku salah pake baju ya? Aku ganti lagi deh"
"Eh engga kok engga, hehe aku terpesona, kamu cantik banget"
"Serius?"
"Iya aku serius hehe kamu cantik banget kaya bidadari"
"Hahaha apasih kamu tapi makasih Fadli" dibarengi dengan dia menarik hidung saya dan senyuman mekar dibibirnya.
"Aaww sakit Na, aduh hidung aku copot deh nih, aduh duh"
"Ahahaha apaan sih Dli aku perasaan pelan deh"
"Beneran nih aduh duh sakit" saya sambil terus memegangi hidung saya yang tadi ditariknya.
"Eh Dli, seriusan sakit? Maaf yaa aku gak sengaja" ekspresi muka Lana langsung berubah menjadi khawatir, saya tidak tega liatnya.
"Hahahaha kena tipu"
"Ih kamu ngeselin banget"
"Hahaha yaudah yuk berangkat sekarang?"
"Let's go" ucapnya sambil menggandeng tangan saya.
****
Alana sangat mudah akrab dengan orang yang baru dia kenal, baru setengah jam dia sampai di rumah saya sekarang dia sudah tertawa riang dengan bunda saya di dapur sambil membantu menyiapkan makan malam.
"Eh Dli. Kenapa?"
"Hmm gapapa hehe lagi seru banget ngobrolnya. Ngomongin aku ya?"
"Hahaha PD banget kamu"
"Hehe lagian seru banget sampe aku didiemin" saya berjalan mendekati dan berdiri disampingnya.
"Ehhaha iya ya. Maaf maaf"
"Gapapa, lagi ngapain sih? Aku bantuin sini"
"Ini nih mas tolong bawain ke meja makan ya" ini bunda saya yang menyuruh, beliau memang memanggil saya dengan sebutan mas di rumah.
"Siap bun!"
Di meja makan ada ayah, bunda, saya dan Alana. Selama acara makan malam Alana cerita banyak hal, dan respon dari ayah bunda saya sangat baik. Semoga bisa seperti ini sampai nanti. Setelah selesai makan malam dan mengobrol bunda menyuruh Alana untuk menemani saya karena dari tadi dia sampai hanya dengan bunda.
"Yaudah nak, kamu sama Fadli aja gih. Temenin dia" bunda saya membuka suara. Akhirnya bun, aku udah kangen mau ngobrol sama Lana dari tadi bun.
"Hehe gapapa tante?"
"Gapapa kok, yaudah gih"
"Yaudah tante, aku permisi dulu ya"
"Iya cantik"
"Ayo Na. Ikut aku ya" saya langsung menarik tangannya menuju rooftop rumah saya.
"Mau kemana Dli?"
"Ikut aja" Alana menjawabnya hanya mengangguk.
Sekarang sudah jam 8:47 malam, langit sudah gelap dan bintang-bintang menyinarkan cahayanya. Saya dan Alana duduk di rooftop rumah saya. Disana ada karpet dan satu bantal besar, saya suka duduk disana hanya untuk sekedar menghilangkan penat.
"Tunggu sebentar ya Na"
"Kamu mau kemana?"
"Ambil sesuatu hehe. Tunggu sebentar ya sayang" sungguh bibir saya gemetar saat mengucapkan kata itu.
"Iya"
Saat saya kembali Alana sedang memandangi bintang dan dia sangat cantik, sudah berapa kali hari ini saya menyebutkan kata cantik untuk dia.
"Nih Na, biar anget badan kamu" saya memberikan secangkir susu coklat hangat, Alana sangat suka dan katanya saya itu susu coklat hangatnya.
"Waaahh makasih Dli"
"Sama sama"
"Kamu bawa apa?"
"Hehe ini kembang api"
"Hahahaha kamu beli?"
"Iya tadi pas di jalan ke rumah kamu, ada yang jualan trus aku pengen yaudah beli aja"
Alana tertawa, tertawa yang benar-benar tertawa lepas.
"Kok malah ketawa sih Na? Aku kan beneran"
"Iya tapi kamu tuh kaya anak kecil, aku gemes"
"Hehe kita bakar ya"
"Iya iya ayooo" kata dia dengan nada sangat bersemangat.
Sayapun mulai mengeluarkan satu batang kembang api dan memberikannya ke Alana.
"Dli..."
"Hmm"
"Aku takut pegangnya hehe"
"Serius? Hahaha aku kira kamu berani"
"Hehe takut"
"Oke tunggu sebentar ya"
Saya menarik sebuah pot berisi tanaman bunda yang sudah agak besar yang ada di pojok sana untuk saya jadikan gantungan kembang api hehe jangan bilang bunda ya saya takut bunda murka.
Saya gantung beberapa kembang api tadi dan mulai membakarnya satu persatu. Saya kembali duduk disampingnya.
"Selamat tahun baru Alana"
"Tapi ini belom tahun baru Dli, baru tanggal 26"
"Hehe gapapa kan? Kita duluan aja tahun barunya"
"Haha iya deh iya. Selamat tahun baru juga susu coklatku" katanya sambil menyandarkan kepalanya ke bahu saya. Ya Tuhan ampuni saya.
Semoga ditahun baru tahun baru berikutnya dan entah sampai kapan kamu tetap berada disamping saya, menemani saya, mengisi hari-hari saya dan semoga saya selalu menjadi susu coklat kamu sama seperti kamu yang selalu menjadi bintang tercerah untuk saya. Saya sayang kamu, Alana.
-Fadli Karim Abqari-
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerita Kami
Fiksi PenggemarTidak ada yang spesial, hanya sebuah cerita antara kami dan wanita kami. Hanya sedikit momen kami dengan wanita kami. Tapi terimakasih jika mau membaca. Selamat membaca - Nata, Wirga, Fadli, Aldi & Ar...
