Chapter 2: Kisah Dimulai!!

45 5 0
                                        

"Selamat datang di RReiLand."

Sambutnya. Aku mengernyitkan alis.

"Selamat, kau adalah keturunan ke 51 dari keluarga Rei. Kau terpilih untuk melanjutkan kisah tentang RReiLand. Dan kita akan melakukan perjalanan, menumpas penyihir jahat yang ingin menguasai RReiLand." Jelasnya. Aku semakin bingung.


Aku ingin bertanya, tapi... aku tak berani.

"Jika kau ingin bertanya, tanyakan saja." Ucapnya seperti membaca pikiranku. Tunggu, dia tidak bisa membaca pikiran, kan?

"Bagaimana kau tahu?" Tanyaku. Dia mengernyit.

"Tahu apa?"

Fiuuhh... Dia tak bisa membaca pikiran.

"Lu... lupakan saja. Ma... maksudku, kenapa aku ada disini?"

Aku meracau. Itulah yang kutahu. Aku terlalu gugup saat dirinya menatapku. Perasaan apa ini?

"Karena kau keturunan Rei dan orang terpilih yang ke 51." Jawabnya. Aku tahu itu... tak bisakah memberi jawaban lain?

"Emmm... bagaimana dengan keluargaku? Sekolahku? Dan kehidupanku diduniaku sebelumnya? Emm... maksudku, bagaimana aku bisa kembali ke kamarku?" Jangan menatapku seperti itu. A... aku malu, tau.

"Kau bisa kembali ke duniamu jika selesai menuliskan kisahmu didunia ini. Dan jika kita telah sampai keujung RReiLand." U... Ujung RReiLand katanya.

"Dan ketika kau bisa menumpas RDarkQueen."

Aku bergidik, tiba-tiba saja ucapan ramahnya berubah menjadi desisan tajam.

"RDarkQueen itu siapa?" Tanyaku. Kali ini gugupnya hilang, okay?

"
Penyihir gelap yang gagal dan melanggar ketentuan RReiLand. Dia disebut RDarkQueen karena dia juga merupakan keturunan Rei yang berkhianat." Nadanya benar-benar tajam. Aku mengurung niatku untuk bertanya lebih lanjut.

"Jadi, mulai kisah ini."

Dia menyodorkan sebuah buku, dan hei. Buku itu buku yang ada dikamarku sebelumnya. Aku menyambut sodoran buku darinya, dan aku pun membuka halaman keenam, halaman setelah Kata Pengantar.

Saat aku berniat untuk menulis, sebuah pena muncul dihadapanku. Aku menatap bingung dan melontarkan tatapan ke arah pria tersebut. Yang ditatap mengangguk meyakinkan.

Aku pun mengambil pena tersebut dan mulai menulis kalimat.

"Namaku Rizqa Rei. Katanya, aku keturunan Rei dan orang terpilih ke 51 untuk melanjutkan kisah RReiLand. Aku menemukan buku ini dan mengucap mantra yang kemudian membukakanku gerbang menuju RReiLand. Aku bertemu seorang pria yang tak aku tahu namanya, dan dia membawaku ke RReiLand. Setelah dia menjelaskan dan menjawab beberapa pertanyaanku, kami akan memulai kisah dibuku ini. Dan kisah ini akan berlanjut seiring perjalananku dengannya. Dia bilang, aku harus mengalahkan RDarkQueen untuk bisa sampai kembali keduniaku. Di ujung RReiLand. Dan aku akan memulai kisah ini. Kisah yang tak aku sangka-sangka akan terjadi."

"Waahh... aku sampai lupa mengenalkan diriku."

Aku terlonjak saat sebuah suara terdengar tepat disamping telinga kananku. Saat aku menoleh kekanan, wajah pria tersebut tepat beberapa senti disamping telingaku. Sontak wajahku memerah dan mundur memberi sedikit jarak. Mungkin dari tadi ia berdiri disitu sambil melihatku menulis.

"Apa aku mengagetkanmu?" Tanyanya. Aku menggeleng.

"Oh iya, namaku Revan." Ucapnya kemudian mengangkat ujung bibirnya.

Wajahku memerah melihat senyumannya itu. Di... dia benar-benar membuatku jantungan. Jika dia berada diduniaku, aku bertaruh bahwa dia akan menjadi seorang Top Model remaja pria.

"Be... berapa umurmu?" Tanyaku. Kegugupan kembali melandaku.

"5165 hari." Jawabnya. Aku menganga. Memakai perhitungan hari...

"Umurmu sekitar... 14 tahun, mungkin?" Ucapku. Dia mengernyit.

"Tahun?" Tanyanya.

"Emmm... di duniaku, memakai perhitungan tahun. Kau bilang umurmu... 51..."

"5165." Bantunya.

"Iya, 5165. Dalam perhitungan tahun, 1 tahun ada 365,25 hari. Mungkin umurmu 14." Jelasku. Entahlah, yang penting ini sedikit dari yang kutahu. Dia mangut-mangut entah mengerti atau tidak.

"Umurmu 13 tahun, ya? Berarti... 4749 hari." Aku menganga, dia tersenyum. Dia menghitung semuanya. Bagaimana dia bisa tahu umurku?

"Emmm... mungkin." Aku menyerah, tak tahu lagi.

"Bagaimana kau menghitung hari?" Tanyaku mencoba mengalihkan topik.

"Saat melihat matahari terbit dan terbenam." Jawabnya santai.

"Tidak memakai jam?" Tanyaku lagi.

"Jam? Benda yang melingkar di tanganmu?" Aku menoleh ketangan kananku. Ada jam yang melingkar disana.

"Iya..."

Aku kemudian melihatnya, jarum jamnya tidak bergerak. Rusak? Tidak mungkin. Ini hadiah kenaikan umurku yang ke 13 kemarin. Lalu kenapa? Apa jam tidak berfungsi disini? Atau mungkin waktu? Waktu tak berfungsi disini?

"Ada apa?" Tanya Revan.

Jantungku benar-benar copot. Dia selalu muncul disamping telingaku sambil melihat apa yang aku lakukan. Ini bukan masalah apanya, hanya saja dia terlalu dekat yang membuatku malu.

"Bu... bukan apa-apa." Jawabku gugup kembali. Aku yakin wajahku sangat sangat merah saat ini.

"Kalau begitu, mari kita mulai perjalanan ini."

Ucapnya bersemangat. Aku tersenyum. Ia lalu mengambil pergelangan tanganku dan mulai berjalan. Aku tak tahu seberapa merah wajahku saat ini tapi yang jelas aku bahagia.

Disela-sela perjalanan kami, aku membuka buku, berniat menulis dan pena tersebut muncul dengan sendirinya. Aku tersenyum dan mulai menulis sebuah kalimat.

"Dan pria tersebut bernama Revan." >%

RReiLandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang