Saat kami berjalan, aku berhenti karena haus. Aku dan Revan pun mencari sumber mata air terdekat. Dan tak lama, kami melihat sebuah air terjun tak jauh dari sini. Revan mengajak kesana dan aku mengangguk tentunya.
Kami berhenti di tepi danau yang terbentuk karena air yang terjun dari atas tersebut. Aku segera duduk ditepi danau. Suasananya sangat tenang. Air yang mengalir turun tak terlalu deras yang tak membuat suasana berisik.
Tunggu, bagaimana aku akan minum?
Aku melontarkan tatapan bingung kearah Revan. Pria itu sedang melihat-lihat sekitar. Dan kemudian duduk di batu besar dan mengasah sebuah... pedang? Pedang kayu sepertinya. Mungkin disini tak ada yang namanya besi. Ah, tentu saja ada, tapi mungkin sangat jarang? Entahlah. Aku tak peduli, yang penting sekarang bagaimana aku bisa minum dan membekal air untuk perjalanan nanti?
Saat aku termenung tersebut, sebuah suara mengagetkanku. Ayolah, kali ini bukan Revan. Aku mendengar suara gemerisik daun. Aku mengedarkan pandanganku kepenjuru danau. Tak ada apapun. Aku semakin melihat detil.
Srrrkkk...
Suara tersebut terdengar lagi. Revan mendengarnya tidak, ya? Aku kembali termenung, menerka-nerka bagaimana suara itu ada dan terbentuk. Angin? Aku tak yakin.
"Jangan bergerak atau aku akan mengayunkan pedangku!"
Aku menoleh ke sumber suara. Tepat didepanku, berdiri seekor tupai setinggi 8 inci mungkin? Tapi yang membuatku terkesima bukan keberadaan tupai tersebut, tapi suara yang mengiringinya. Tunggu, bukan dia yang berbicara kan? Aku mengedarkan kembali pandanganku ke segala penjuru.
"Hei, nona manis. Aku sedang berbicara padamu."
Aku terkesiap. Tupai ini benaran berbicara. Ini seperti dongeng. Tunggu, dongeng? Jadi cerita-cerita di dongeng itu nyata?
"Kenapa kau diam saja." Ucap tupai itu yang mulai jengkel.
"A... apa kau benar-benar bisa berbicara?" Tanyaku ragu. Dia melontarkan pandangan kesal kepadaku.
"Tentu saja." Ucapnya.
"Ini bukan mimpi kan? He... hewan bisa berbicara!" Ucapku setengah berteriak diekori oleh rasa kagum. Mungkin karena mendengar suaraku atau apa, Revan datang.
"Ada apa?" Tanya Revan. Dia memegang lututnya sambil berdiri menatapku. Aku melihat kepadanya sekilas lalu kembali menoleh ke arah tupai ajaib yang berbicara kepadaku tadi. Dan ya, kali ini dia tidak mengagetkan.
"Hei, sekarang ada dua orang. Jangan bergerak, atau aku akan mengayunkan pedangku pada kalian." Ucapnya. Bukannya takut, aku malah terkikik. Dia lucu.
"Jangan tertawa. Aku sedang tidak bercanda." Ucapnya yang mungkin melihat kikikanku tadi. Aku terkesiap.
"Baik-baik. Maaf." Ucapku.
"Kau siapa?" Tanya Revan to the point. Ia menatap tupai tersebut.
"Kau tidak tahu siapa aku? Aku adalah penjaga danau ini. Tanggung jawab keluarga tupai untuk menjaga danau ini sudah dilimpahkan kepadaku. Jadi jangan macam-macam." Dan dia kemudian menunjukkan pedang kecil, mungkin. Dan itu juga tidak terbuat dari besi.
"Kau benar penjaga danau ini? Karena setahuku danau ini bukan milik siapapun." Tanya Revan santai sambil membuka fakta. Tupai itu menyengir, aku terkikik lagi. Dia benar-benar lucu.
"Emm... itu..." Entahlah, yang jelas dia bingung sekarang.
"Sebenarnya aku berbohong. Aku bilang begitu karena aku ingin mendapatkan sedikit makanan dari kalian." Jujurnya. Revan tertawa.
Hah? Sungguh dia tertawa? Aku melihat wajahnya yang tertawa tersebut, lalu kurasakan wajahku panas. A... aku bertingkah begini lagi, astaga.
"Hei, kenapa wajahmu merah seperti apel merah diatas sana?"
A... apa? Tupai tersebut berbicara dengan polosnya sambil menunjuk buah yang berada di atas. Revan pun menghentikan tawanya dan melihat ke arahku seperti halnya tupai tersebut. Aku yang ditatap tersebut hanya menunduk malu. Wajahku lebih memanas.
"Ah, itu makanan. Kenapa kau malah mau meminta dari kami?" Ujarku mengalihkan topik. Dia tampak menggaruk-garuk belakang telinganya yang berada di atas kepalanya tersebut.
"Emm... pohonnya terlalu tinggi. Aku takut jika memanjat terlalu tinggi."
Aku benar-benar tertawa sekarang. Tupai? Takut ketinggian? Itu benar-benar lucu.
"Kau tertawa?"
Ah, aku hampir jantungan. Wajah Revan berada di depan wajahku, bertanya dengan muka sedikit terkejut. Bu... bukan itu masalahnya. Wajahnya terlalu dekat kembali. Dan sukses membuat pipiku memanas lagi.
"Wajahmu merah lagi." Tutur polos tupai tersebut. Aku kembali menunduk karena malu.
Aku benar-benar gagal mengalihkan topik.
"Ka... kalau begitu a... aku akan mengambil air." Aku segera berjalan menjauh dari kedua makhluk yang membuatku sukses merasa malu. Kudengar tawa mereka berdua.
"Dia benar-benar lucu."
"Emm... Tupai... apa kau... hah? Lucu?" Ucapanku terpotong karena menyebutkan kalimat yang terlontar sebelumku. Aku memang berbalik untuk meminta sebuah tempat yang bisa menampung air. Tapi mendengar Revan menyebutkan kata itu, membuatku terkejut.
"Ah, iya. Kau lucu." Dan sekarang dia terang-terangan mengatakannya. Tentu aku merasa malu lagi.
"Namaku Riko." Tutur tupai tersebut.
"Ah ya, kau tadi mau bilang apa?" Tanya Riko.
"A... aku mau bertanya apakah kau mempunyai tempat untuk menampung air agar bisa berbekal untuk perjalanan nanti?"
"Perjalanan? Kalian akan kemana?" Tanyanya. Aku menatap Revan, meminta izin untuk memberitahunya, yang ditatap Cuma mengangguk.
"Aku akan kembali ke kamarku, emm... maksudku ke..." Aku berpikir, mencoba mencari kata yang pas untuk mengungkapkannya. Aku menoleh ke Revan, meminta bantuan untuk menjelaskan.
"Ke ujung RReiLand." Sambungnya mantap. Tupai itu terkejut.
"U... ujung katamu?" Tanyanya kaget. Aku mengangguk mantap.
"Waahh... aku selalu penasaran dengan ujung RReiLand." Ujarnya dengan sedikit mengkode, mungkin. Aku kembali terkikik melihat tingkahnya.
"Kalau begitu, Riko... ah... aku lupa mengatakan namaku." Aku kembali memotong ucapanku dengan hal lain.
"Namaku Rizqa Rei dan dia Revan." Ucapku memperkenalkan diri sambil menunjuk Revan saat menyebutkan namanya. Aku melihat wajah terkejut terpatri di wajahnya.
"Rei?" Tanyanya kaget. Aku mengangguk bingung.
"Memangnya kenapa?" Tanyaku. Dia lalu berlutut. Aku semakin mengernyitkan alisku.
"Aku ternyata berbicara dengan keturunan penyelamat dunia ini." Ucapnya dalam hormatnya. Penyelamat?
"Kau tidak perlu seperti itu." Ucapku. Dia lalu mengangkat tubuhnya.
"Aahh... yaa..." Riko tampak tak tahu lagi harus berkata apa.
"Oh iya, kau menanyakan tempat untuk menampung air, kan? Ada disitu." Ia lalu menunjuk ke bawah sebuah pohon tua yang tinggi. Disana ada beberapa tempat yang sepertinya bisa dijadikan tempat untuk menampung air.
"Terima kasih." Aku lalu pergi ke arah tempat yang dimaksud.
Aku melihat beberapa beberapa daun yang membentuk sebuah gelas. Kau tahu tanaman kantong semar? Seperti begitulah kira-kira bentuknya. Tapi yang ini lebih besar. Aku mengambil beberapa dan beralih ke tepi danau dan mengisi benda tersebut dengan air. Ajaib! Tidak bocor. Aku juga menyempatkan diri untuk minum.
Disela-sela aku mengisi air, aku menoleh ke Revan dan Riko. Mereka sepertinya sedang terlibat percakapan ringan. Aku tak terlalu memikirkannya. Lalu, sesuatu terbesit dipikiranku.
Bagaimana jika aku mengajak tupai itu untuk perjalanan ini? Dia pasti tahu sesuatu dan mungkin bisa membantu. Dia kelihatannya baik. Aku akan menanyakannya pada Revan.
Aku lalu berbalik dan menuju ke arah mereka.
Menyadari kedatanganku mungkin, mereka menghentikan percakapan mereka.
"Kalian sedang membicarakan apa?" Tanyaku ingin tahu.
"Bukan apa-apa." Jawab Revan santai.
"Oh iya, lihat, aku sudah mengambil air untuk perjalanan nanti." Ucapku menunjukkan beberapa tempat tersebut.
"Sudah? Kalau begitu mari kita pergi." Ucapnya. Dia kemudian menarik pergelangan tanganku. Aku melihat kebelakang, melihat Riko. Aku kemudian menahan langkahku.
Dia menyadarinya dan menoleh kepadaku. "Ada apa?"
Aku gugup, aku belum mengatakan keinginanku untuk mengajak Riko.
"Bagaimana kalau kita mengajak Riko? Dia sepertinya tupai baik." Tanyaku.
"Tentu saja boleh." Jawabnya. Aku menampikkan senyumku kemudian berbalik menghampiri Riko.
"Hei, Riko. Apa kau ingin ikut bersama kami?" Tawarku. Dia tampak kaget sesaat lalu kemudian tersenyum lebar.
"Tentu saja mau." Antusiasnya. Aku tersenyum melihat antusiasme tupai tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
RReiLand
FantasyRizqa Rei, gadis keturunan keluarga Rei yang akan diberi tanggung jawab untuk melanjutkan cerita di RReiLand. Bagaimana kisahnya?
