Chapter 6: Desa Para Peri

15 4 0
                                        

Setelah kami berlima berjalan cukup lama, akhirnya kami tiba di tempat tujuan yaitu desa Rika dan Raka, desa para peri. Desa ini bukan desa kecil yang berada di pohon, tapi desa pada umumnya, desa manusia. Aku tak tahu mengapa, tapi yang jelas para peri lebih memilih tempat tinggal untuk ukuran manusia normal.

Kami menghentikan langkah kami didepan gerbang yang hampir ambruk. Ekspresi kami semua sama, yaitu terkejut. Pemandangan ini... seseorang telah masuk ke desa dan membuat kekacauan. Rumah-rumah sebagian hancur, jalanan berserakan. Yang tersisa hanyalah puing-puing kayu yang berdiri. Tak ada satupun peri. Me... mereka menghilang!

"Ap... Apa yang..."

"Aaaaa!!!"

Rika terlihat histeris. Raka menepuk pundaknya menguatkan gadis itu. Rika memeluk Raka erat.

"De... desa kita..." Ucap Rika sambil menangis di pelukan adiknya. Adiknya terus mengusap punggung Rika.

Aku menoleh ke Revan dan Riko. Tatapan Revan tajam mengawasi desa yang telah hancur, sementara tatapan Riko khawatir melihat Rika.

"Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanyaku bingung.

"RDarkQueen." Desis Revan dan Raka bersamaan. Suara keduanya tajam.

"RDarkQueen?" Tanyaku mengulangi. Mereka berdua menatapku.

"Rizqa, jangan buat keadaan yang mengesalkan. Mereka berdua sudah terlanjur kesal." Bisik Riko yang sudah di bahu kiriku. Aku mengangguk pelan.

"Eeemm..."

Aku gugup, mau bagaimana lagi ini? Suasana sudah terlanjur tegang, kecuali isakan Rika yang tak berhenti.

"Ri... Rika..." Panggilku.

"Tenanglah, pasti ada jalan keluar dari masalah ini." Ucapku setengah gugup. Kedua mata pria tersebut masih menatapku.

"Rizqa, kau keturunan Rei, kan? Hanya kau yang bisa membantu kami." Ucap Rika. Aku terlonjak. Bagaimana bisa aku membantu?

"Kalahkan RDarkQueen. Kumohon..." Sambung Rika seraya memohon.

Ba... bagaimana bisa? Aku saja tidak tahu kemampuanku, lalu disuruh melawan RDarkQueen yang aku tak tahu kemampuannya juga. Aku benar-benar bingung.

"Tidak sekarang, kau bisa berlatih terlebih dahulu." Sambung gadis itu. Aku menunduk kemudian mengangguk pelan.

"Terima kasih..." Rika lalu memelukku, dia menekan bahu kiriku. Aku membalas pelukannya sampai dia melepas pelukannya padaku.

"Kalau begitu, kita akan ke lapangan pelatihan para peri." Ucap Rika. Semua mengangguk.

"Disana." Tutur Raka menunjuk. Kami semua pun berjalan ke tempat yang dimaksud.

Tak lama, kami pun sampai. Lapangan latihan ini sangat luas. Mungkin lapangan ini adalah tanah lapang tak bertuan sehingga para peri menjadikannya sebagai tempat latihan. Di sebelah kanan ada sungai, sementara disisi kiri ada pohon-pohon yang berdiri. Dan ditengahnya kosong, tanah yang luas.

"Ini adalah tempat latihannya." Tutur Raka.

"Kalian bisa berlatih disini." Sambungnya lagi.

"Apa yang akan aku latih?" Tanyaku masih bingung. Aku menatap Revan meminta jawaban.

"Kau bisa berlatih apapun. Karena kau keturunan terkuat." Jawab Riko.

"Tapi setidaknya, ajarkan aku sesuatu. Aku benar-benar tak mengerti apapun." Aku mendesah, seharusnya aku memang tidak disini.

"Aku akan mengajarimu."

Hee? Aku menatap Revan dan Raka bergantian. Mereka selalu mempunyai pikiran yang sama. Keduanya saling menatap dan sama-sama menggambarkan raut wajah kesal. Ada apa sebenarnya dengan mereka berdua?

"Emm... kalian bisa mengajariku sama-sama." Ucapku mencoba melerai tatapan diantara mereka berdua. Mereka hanya mendengus kesal.

"Baiklah, dimulai dengan mengeluarkan elemen." Apapun itu, mereka berdua memang mempunyai pikiran yang sama.

"Bagaimana caranya?" Tanyaku.

"Akan..." Revan dan Raka menyahut dengan bersama.

"Ku..." Ayolah, mereka tetap berbicara bersama-sama.

"Hhh... Ajari..." Helaan nafas yang tepat bersama-sama dan perkataan sama yang bersama-sama.

"Terserah, aku akan menonton." Ujar Revan kesal. Ada apa sebenarnya?

Pria itu lalu menyingkir ke sisi kiri dan duduk dibawah pohon. Dia sama sekali tak mau menoleh.

"Baiklah, kalau begitu..."

"Tunggu,"

Aku memotong ucapan Raka. Pemuda itu bertanya melalui tatapan matanya.

"Aku akan menulis dulu." Ujarku. Raka mengangguk mengerti.

Dan seperti biasa, pena muncul dan aku akan menulis.

"Hhh..." Desahku sebelum akhirnya tanganku berkerja untuk menulis.

"Ditengah perjalanan, Rika mengajak kami ke desanya, desa para peri. Kami pun kemudian pergi kesana. Tapi setelah sampai disana, hal yang tak terduga terjadi. Desa porak-poranda tanpa menyisakan satu orang pun peri disana. Rika menangis histeris, sementara Revan dan Raka mendesis nama RDarkQueen, sepertinya RDarkQueen yang menyebabkan kekacauan ini. Rika memintaku untuk mengalahkan RDarkQueen, tapi tidak terburu-buru. Aku akan berlatih terlebih dahulu di tanah lapang tempat pelatihan para peri."

"Aku bingung apa yang akan ku latih, lalu Revan dan Raka menawariku bantuan. Kau tahu apa yang mengejutkan? Revan dan Raka mempunyai pikiran yang sama. Sedari tadi mereka mengucapkan kata yang sama. Lalu diakhir cerita, Revan memilih menyerah dan duduk dibawah pohon tanpa menoleh ke kami lagi. Dan Raka yang akan mengajariku, dimulai dari elemen apa yang ku miliki."

Aku menutup buku dan pena pun menghilang.

"Baiklah, mari kita latihan."

RReiLandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang