Ternyata udah lama banget aku nggak update. Nah pas update ini aku bawa kabar gemira 😍😍😍😍😍.
Reconciliation bakalan aku update teratur mulai hari ini dan Guts over fear akan muali diupdate begitu Rc kelar.
Enjoy
Setiap kali hubunganku dengan Rey mulai membaik, Laura selalu muncul di antara kami. Dulu aku menganggap kecemburuanku kekanak-kanakkan, dan biasanya jika merasa seperti itu aku mencoba menenangkan diri dengan berpikir kalau kedekatan mereka memang wajar, mereka sudah bersahabat dari kecil. Namun ternyata tidak mudah. Rasa cemburu itu tetap saja muncul dan menggerogotiku. Pengakuan Rey semalam harusnya bisa membuatku tenang, Rey bilang dia mencintaiku, harusnya itu cukup tapi tetap saja ada yang mengganjal. Aku tidak akan pernah bisa tenang dan menghadapi semuanya jika Laura masih muncul di antara kami.
Aku ingin Rey untuk diriku sendiri, tak terbagi.
Rey tetap tidur nyenyak walau handphone-nya terus berdering, saat dering ketiga matanya baru mengerjap.
"Siapa yang telepon?"
"Laura," Jawabku seraya memberikan handphone padanya. Matanya langsung terbuka, lalu menatap handphone-nya dengan tatapan tajam yang seolah bisa menghancurkan besi.
"Kamu keberatan kalau aku angkat?" tanyanya kemudian.
Pertanyaan Rey membuatku terkejut, aku tidak menyangka dia akan bertanya seperti itu.
"Hmm..." aku menggumam sebagai jawaban.
"Nggak aku angkat kalau begitu."
Kami bertatapan selama beberapa saat, sampai Rey tersenyum ragu. Dengan hati-hati dia menarik tanganku dan menciuminya lembut. Aku termangu melihatnya, sikapnya berubah. Sebelumnya tindakan Rey tidak pernah mempertimbangkan perasaanku, dia selalu seenaknya sendiri. Melihatnya seperti ini membuatku senang. Rey berusaha merobohkan dinding yang menutupi egonya. Berusaha membebaskan hatinya dan menerima pendapatku.
"Kamu masih meragukanku?" tanyanya sendu.
"Susah menghilangkannya."
"Kita bisa pelan-pelan melakukannya." Rey bangun, selimutnya jatuh ke pinggang, menampakkan dadanya yang liat menggoda. Dia tersenyum kecil dan mencium keningku cepat. "Jam berapa?"
"Delapan."
"Anak-anak pasti nyariin, kita nggak pulang semalam. Untung hari Minggu, mereka nggak sekolah. Kamu udah mandi? Mau langsung pulang atau sarapan dulu?" tanyanya bertubi-tubi.
Mengindahkan ucapannya, aku langsung memeluknya. Kuat dan erat. Tubuh Rey menegang, kaget dengan tindakanku yang tiba-tiba, Jarang sekali aku menyentuhnya lebih dulu. Rey membalas pelukanku, dia menaik-turunkan tangannya di punggungku, bibirnya menciumi bahuku lembut, sesekali menggigitinya pelan.
"Kita nggak bakalan keluar dari sini, kalau kamu terus menggodaku kayak gini," Bisiknya.
"Tempat ini nggak berubah, masih sama seperti dulu," sejak semalam aku menyadari tidak ada yang berubah di apartemen ini, baju-bajuku masih di tempatnya, bahkan parfum, sabun dan sepatuku juga tidak bergeser sama sekali. Furniturenya masih sama seperti dulu, ornamen dan penataannya juga masih sama. "Aku seperti kembali ke masa lalu."
Pelukan Rey semakin erat, "Aku kesini tiap kali kangen kamu. Sejak kamu pergi aku punya kebiasaan baru,"
"Apa?"
"Diam di sini selama berjam-jam dan terus mengingatmu."
"Hhhh... gombal."
"Benaran. Tanya mama kalau nggak percaya. Pernah berhari-hari aku mengurung diri dan hanya diam sambil bayangin kamu. Kalau mama nggak paksa aku pergi dengan membawa dokter kesini dan menyuntikku aku pasti bakalan mati kelaparan." Rey menangkup wajahku, mendaratkan ciuman cepat tepat di bibirku. "Jangan pergi lagi, hmm?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Reconciliation
RomansaTrust takes years to build, seconds to break and forever to repair. Dia kembali hadir dalam hidupku dan akhirnya mengetahui rahasia yang selama ini aku sembunyikan. Dia kembali hadir dalam hidupku, saat aku sedang mencoba membuka hatiku untuk oran...
