"City of Stars, are you shining just for me?"
Gue mendengar Seira menyenandungkan salah satu soundtrack film Hollywood itu berulang kali.
Hmm, suara cewek itu ... magis. Nggak terlalu bagus memang, tapi bisa menyentuh hati.
Itulah yang gue suka dari Seira Sayanda. Ia selalu mengerjakan apapun dengan sepenuh hati, nggak pernah setengah-setengah. Meskipun yang Ia kerjakan adalah pekerjaan sepele.
"Nyanyi lagu itu terus, nggak bosen?" Gue menepuk pundak gadis itu. Melihat mata cokelatnya itu membuat gue, dengan refleks, tersenyum cerah. "Pasti masih mikirin ending filmnya..."
"Ah, lo mah. For me it's a good ending though. So realistic, isn't it?" Seira tersenyum lalu Ia mengikat rambut hitam panjangnya yang tergerai. "But, it hits me hard too."
"Gue kurang relate sama filmnya, sih. Tapi emang bagus..." kata gue sambil berjalan ke dekat pintu flat untuk mengambil koran. "Semalem Chelsea menang atau kalah? Gue baca korannya ya, Sei."
"Semalem menang 2-0 sih, Ka. Lo nggak nonton? Semalem gue kira lo pergi nonton bareng sama temen-temen lo," ujar Seira datar. "Lo kemana semalem? Kok pulangnya pagi-pagi buta?"
"Ke pub deket apartemen Ares," Gue membuka halaman koran dengan antusias. "Hah, semalem Arsenal menang juga ternyata. Alexis emang keren, mentalnya gila. Ngegolin penalti panenka di menit 97 itu nggak waras, sih."
"Ooh, ke pub. Ngapain aja?" Seira bertanya dengan nada penasaran. "Iya, Sanchez mah emang lebih bagus dibanding Hazard."
"Enak aja! Tetep bagus Hazard, dong!" Gue mendadak nggak mau kalah kalau ada orang yang jelek-jelekin pemain Chelsea. "Gue cuma minum-minum aja sih, Sei. Kenapa sih emang? Galau lagi?"
"Nggak, gue nggak galau," Seira lagi-lagi mengelak. "Gue cuma kepikiran aja gara-gara itu film."
"Sebegitu relatable-nya sama perasaan lo?" selidik gue. "Perasaan gue, nggak romantis-romantis amat sih filmnya."
"No... it kinda reminds me of my biggest fear." ujar Seira pelan, lalu menatap gue lekat-lekat. "When you finally find someone who is good for you and who inspires you but then not ending up with them... It's frightening, you get me?"
"You have found that someone?" Mendengar pernyataan Seira, entah mengapa, gue merasa... aneh. "Would you show him up to me? It's getting annoying now."
"What if... what if... it's you?" Seira tertawa lalu menggeleng. "Bukanlah, jijik amat. Kalau gue udah siap, gue bakal kasih tau orangnya siapa, Ka."
"Hahahaha, of course it's never been me," Gue tertawa, padahal, entah kenapa, gue merasa... Ah, gue nggak ngerti. "Gimana sama tulisan lo omong-omong?"
"Uhm, gue kayaknya nggak jadi ngirimin tulisan gue yang sekarang ke temen lo, deh." ungkap Seira, ia mendengus pelan. "Gue nggak puas sama tulisan gue. Gue udah diskusi sama temen lo juga kok, katanya nggak pa-pa kalau ditunda setahun lagi."
"Apa? Setahun? Lama banget!" Gue bertanya, lebih tepatnya setengah berteriak, saat mendengar pernyataan Seira. "Padahal, gue pengen banget baca. Lo 'kan selalu nggak bolehin gue baca tulisan lo yang belum selesai."
Gue menatap sekilas cewek itu. Entahlah, tanpa usaha sedikitpun, dia terlihat cantik. She is pretty with no make up. With no glamorous heels. With no fancy dress. She's effortlessly beautiful without trying.
And she never knows it.
Seira Sayanda... Dia sahabat gue. Jujur, pribadi gue dan dia memang sedikit melenceng. Yah, bukan sedikit sih, tapi memang banyak. Kami berbeda. Tapi, di dalam perbedaan itu, gue menemukan rumah dan kenyamanan.
