Begitu menyedihkan. Itulah aku.
Selalu saja mau bertengkar dengan rindu. Rinduku padamu yang tak pernah merinduiku jua.
Pagi ini aku terbangun meringis sepi. Aku biarkan tempat tidurku yang berantakan seperti kapal pecah. Biarlah. Malas hari ini menghampiriku.
Aku beranjak pergi meninggalkan kamarku yang malang. Ku hampiri dapur ku yang menyedihkan. Aku duduk di meja makan tempat aku biasa melepas rindu dalam mimpiku semalam.
Ku ambil roti dalam topless usang yang tak pernah ku ganti. Ku olesi roti itu dengan selai nanas kesukaanku. Aku menghabiskan 2 potong roti. Cukup untuk membuatku kenyang.
Aku berjalan kembali ke arah ruang tengah rumahku. Ku hidup kan televisi dan ku tonton berbagai siaran yang barang kali bisa menghiburku.
Hari ini ku lewati begini saja. Hingga malam menjemput. Aku bersiap kembali ke kamarku. Untuk meneruskan mimpi. Mimpi tentang kamu yang belum membuatku puas terlelap.
*****
Jarak kita memang terlampau jauh, namun suara rindu selalu mengalun merdu hingga membangunkanku dari keheningan tengah malam.
Selalu.
Aku selalu terjaga saat engkau diam-diam menyelinap ke dalam mimpiku.
Namun semua tak nyata, dan sayang sekali kejadiannya tak berlangsung cukup lama. Sangat cepat. Bahkan terlalu singkat. Kamu cepat menghilang, dalam mimpiku.
Sampai kapan ku tahan rindu ini?
Tahukah kamu bahwa batinku selalu menangis kesepian. Tiada hal yang bisa ku ceritakan kecuali hanya rindu mengumbar kesedihan ini. Kau tak benar-benar datang setiap waktu. Kau jauh, cukup jauh karena ini bukan hanya puluhan kilometer.
Sudah terlalu malam, saatnya aku memejamkan (lagi) mataku sampai esok hari. Saatnya aku terlelap dengan damai membungkus jiwa. Tapi tak bisa. Percaya atau tidak, hanya bayangan wajahmu yang selalu ku temukan dalam gelap gulita. Bagaimanapun jua, pikiranku tak bisa lupa. Lupa akan wajah cerah serta senyuman paling ramah, di tambah sepasang bola mata indah berbinar terang dan mempesona setiap pasangan bola mata lain yang melihatnya.
*****
Suatu saat rindu itu bicara pada siapa saja. Termasuk pada orang-orang yang menanamkan benih-benihnya. Rindu itu merambat lewat kata, tatapan mata, dan kehangatan antara kita. Kita melahirkan rindu, tapi rindu merawat kita. Lebih dekat, lebih erat.
Tiba saatnya ku harus memejamkan mata (lagi).
Mengistirahatkan seluruh organ-organku. Membuat diri ini nyaman dengan tempat tidurnya. Tetapi satu suara membangunkanku kembali. Suara ketukan pintu ditengah malam membuatku terperanjak dan merinding.
Jangan harap kubuka pintu itu tanpa tekanan, karena aku sangat takut dan gemetaran.
“Apakah itu kamu ?”
Aku terpaku menatap sepasang bola mata yang ingin aku lihat. Aku diam dalam damai yang mendadak tiba di depan mataku. Kamu mengejutkanku di tengah malam sunyi ini, tetapi aku suka cara memainkan rindu ini.
Rindu malam ini telah menjelma menjadi sesosok anak manusia paling merasa tidak bersalah setelah menyiksaku dalam gua rindu dan tak bisa aku lawan. Rindu yang kamu mainkan sangat lucu.
Dan rindu ini kembali menjadi jahat. Selalu saja mengajakku bermain. Bermain sendiri. Dalam sepi.
*****
Kucoba memejamkan mata kembali. Hingga pagi mengusir malam kelabuku. Hingga aku lupa tentang merinduimu.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEIKAT RINDU
Short StoryDo'a adalah perjalanan panjang dari mana mau kemana. Pengharapan dari dunia menuju surga. Dan, juga dari rinduku pada dirimu💚 Yang aku tahu, wanita itu lebih gampang jatuh cinta ketimbang pria. Dan, paling banyak juga menyimpan rindu. Entahlah. Sep...
