Part 5

1.1K 94 10
                                    

"Dua hal itu adalah, pertama pembatasan pernikahan akan segera ditetapkan. Aku akan mulai mencari putri mahkota untuk menjadi pendamping putraku, Hwanjung. Kabar ini pasti membuat kalian senang, bukan begitu?" Tanya raja Haejong yang hanya dibalas dengan senyuman para mentrinya itu.

"Itu adalah yang pertama, dan untuk yang keduanya, mungkin sebagian dari kalian akan senang mendengar kabar ini." Raja terdiam memperhatikan wajah-wajah dari para mentrinya yang terlihat penasaran. Seulas senyum tersungging diwajahnya itu sebelum ia melanjutkan perkataannya itu. "Aku memutuskan untuk membawa masuk pangeran Kangjeon kedalam istana, dan akan menjadikan dia sebagai kepala dibagian dapur istana."

Dugaan raja Haejong benar, para mentrinya itu mengekspresikan ekspresi yang berbeda. Fraksi timur yang adalah fraksi pendukung pangeran Kangjeon tersenyum puas dengan apa yang dikatakan oleh raja tadi. Tapi hal itu berbanding terbalik dengan fraksi barat yang bukanlah pendukung pangeran Kangjeon. Fraksi barat terlihat sangat terkejut dan juga tidak setuju dengan keputusan sang raja.

"Je-."

"Keputusanku mengenai pangeran Kangjeon sudah bulat, jadi aku tidak akan menerima penolakkan apapun mengenai hal ini. Ah, mungkin sebagian dari kalian pasti bertanya, kenapa aku memutuskan untuk menjadikan pangeran Kangjeon menjadi kepala dibagian dapur istana. Baiklah aku akan memberitahu alasan itu, dan alasannya adalah."

~”~

Pangeran Kangjeon menatap gerbang yang begitu besar yang ada dihadapannya itu. Sebuah gerbang yang didalamnya adalah tempat dimana sang ayah memerintah. Ya istana. Hari ini ia memutuskan untuk kembali ke istana. Rumahnya sejak kecil.

Ia memutuskan untuk kembali ke istana karena ia dipanggil oleh sang ayah yang akan menjadikannya seorang atasan dibagian dapur istana. Entah kenapa ayahnya itu menempatkan dirinya dibagian dapur istana. Ia sempat menolaknya semalam ketika ia bertemu dengan para mentri itu, tetapi setelah dipikirkan matang-matang akhirnya ia memutuskan untuk kembali masuk kedalam istana.

Selain kembali untuk menjadi atasan dibagian dapur istana, ia juga memiliki niatan terselubung. Ya apa lagi kalau bukan merebut posisi putra mahkota yang saat ini diduduki oleh sang adik.

"Baiklah, mari kita masuk."

Pangeran Kangjeon melangkahkan kakinya memasuki gerbang tersebut. Ia melihat kesekelilingnya. "Istana sama sekali tidak berubah ternyata," gumamnya.

Beberapa pelayan dan dayang yang kebetulan berpapasan dengannya terlihat bingung. Mereka memberikan hormatnya walaupun tidak mengenali sang pangeran pertama. Kangjeon hanya tersenyum geli melihat dayang-dayang itu yang bersikap seperti itu. Mungkinkah dirinya ini sudah berubah? Sehingga tak ada satupun yang mengenalinya sebagai pangeran Kangjeon?

"Pangeran Kangjeon, anda sudah datang?" Seorang pria berpakaian kasim menghampirinya.

Kangjeon sama sekali tidak lupa dengan wajah dari pria itu. Kasim Oh. Kasim pribadi sang ayah. Ia menyunggingkan senyumannya. "Sudah lama kita tidak berjumpa, kasim Oh," sapa Kangjeon.

Kasim Oh hanya menanggapi sapaan pangeran dengan senyumannya saja. "Pangeran, jeonha sudah menunggu anda sekarang, jadi bergegaslah untuk menemuinya dikediamannya," jelas kasim Oh.

"Ah begitu? Baiklah terimakasih." Kangjeon kembali melanjutkan perjalanannya menuju kediaman sang ayah dan diikuti oleh kasim Oh dibelakangnya.

~”~

Kesibukan di dapur istana masih berlangsung. Para dayang saat ini tengah menyiapkan makanan dan juga teh untuk disajikan kepada pangeran Kangjeon yang saat ini sedang berada dikediaman sang raja. Mereka menyiapkan beberapa kudapan dan buah plum kering kesukaan sang raja serta teh hangat.

The Throne [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang