Pertama-tama, Anin melakukan facial atau sejenis perawatan pada wajahnya.
Saat Anin sedang bersantai, selagi pegawainya me-massage wajahnya, Anin diajak mengobrol oleh pegawai salon perihal hal-hal yang tidak terlalu penting.
"Yang tadi itu pacarnya ya mbak?" tanya pegawai salon yang membuat jantung Anin berdebar-debar.
Anin tertawa kecil.
"Ah enggak, itu cuma temen saya." jawabnya."Tapi kok gitu banget ya. Enak punya temen kaya gitu ya mbak." lanjut pegawainya.
"Enak kenapa?"
"Ya gitu, nge bela-belain dateng ke salon demi mbak. Walaupun nadanya pas tadi nyuruh agak galak gitu. Tapi lucu, dia galaknya demi ngelindungin temennya." jelas pegawai salon tersebut membuat Anin tersipu malu.
Yang hanya bisa dilakukan Anin hanyalah tertawa kecil, karena dia tidak tahu apa yang harus di jawab.
"-pokoknya kalian relationship goals banget." tambah pegawai salon tersebut.
"Ah, biasa aja. Dia cuma temen biasa." Anin mencoba merendah.
"Kenapa gak jadian aja mbak?" tanya pegawai salon itu.
"Ya, gak deh." Ujar Anin singkat.
"Kenapa? Padahal dia udah cakep, overprotective, abis itu cool banget lagi gayanya."
"Gak, dia galak." Kata Anin singkat, mencoba mencari-cari alasan.
"Oh, hahaha. Mbak ga suka ya dikekang pacar?"
Anin mengangguk sambil menjawab,
"Iya."Setelah bercakap-cakap dengan penuh basa-basi, Anin selesai di-message dan setelah itu dia creambath.
Setelah selesai dengan perawatan-perawatan sebelumnya, sekarang giliran kuku-kuku Anin yang di poles.
Selagi dia manicure dan pedicure, pegawai salon juga menata rambut Anin agar lebih bervolume, dan lebih menarik.
Di tengah perawatannya itu, Dicky tiba-tiba dateng membawa dua tas belanjaan besar, dan minuman cola di tangan kanannya.
Dicky menghampiri Anin.
"Nih, gue beliin lo dress buat nanti malem. Lo mau pake disini juga gak apa." kata Dicky saat dia datang.
"Oh oke makasi." Anin hanya busa melihat Dicky lewat cermin di depannya karena rambutnya yang sedang ditata.
"Gue juga beliin lo makanan. Dimakan. Gue mau siap-siap dulu di hotel sekalian beres beres. Ntar malem kita check out." Ucap Dicky seperti biasa dengan wajah datarnya.
"Siap, Ky." jawab Anin sambil mengacungkan jempol di tangan kirinya.
Kemudian Dicky pergi lagi meninggalkan Anin.
Namun baru sampai pintu, Dicky kembali lagi ke Anin sambil mengusap mukanya.
"Gue lupa, ntar gue jemput jam setengah tujuh." Ucap Dicky kemudian dia pergi lagi dari salon menuju hotel.
Anin mengangguk pelan.
Setelah itu Anin melanjutkan perawatannya dan juga make over dirinya untuk pergi dinner.
§
Anin telah selesai di make over tepat pada jam setengah tujuh, namun Dicky belum juga datang untuk menjemputnya.
Setelah selesai dengan semua dandanannya, Anin bermain dengan hp barunya yang baru saja penuh terisi.
Tanpa saling menyadari, Dicky tiba-tiba masuk dan tidak melihat Anin langsung menghampiri pegawainya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Only Heaven Knows
Teen FictionSerumit apapun perjalanan hidup, akan kembali ke apa yang sudah ditentukan. "Apakah kau janji?" "Ya, saya janji."