"Di sekolah baru ini eonni tidak mau mendengar kalian membuat masalah yang berat yang akan membuat kalian keluar dari sekolah lagi. Arraseoyo?"
"Arayo..." ucap 6 yeoja itu kepada eonni asuh mereka di panti.
"Kajja!"
Mereka ber-6 keluar dari bus bersama dengan eonni asuh mereka. "Dimana sekolah nya suzy eonni?" tanya eunha membuka suara.
"Sebentar lagi kita sampai." ucap suzy, sambil tersenyum. "Ini dia!" tegas suzy sambil menunjuk gedung tua, bercat putih dengan pagar hitam yang panjang.
"Hakgyo?" tanya sinb melotot memandang tak yakin dengan sekolah baru mereka.
"Ini lebih mirip panti kedua!" celetuk yerin yang memandang aneh gedung di depannya.
"YAK.... palli!" suzy mengisyaratkan anak asuh nya itu agar cepat masuk.
'Suzy POV'
Telingaku panas rasanya mendengar ucapan yeoja-yeoja asuh ku ini. Baru menginjakkan kakinya di luar sekolah belum sampai masuk melewati pagar mereka sudah berkomentar.
Memang benar juga sih sekolah yang baru ini lebih mirip panti asuhan, tapi setidaknya mereka tidak berkata seperti itu. Aku juga tidak ada pilihan lain selain menyekolahkan mereka di sini. Semua sekolah yang baik tidak mau menerima mereka karena catatan buruk di rapot mereka.
Hanya sekolah ini saja yang mau menerima mereka, jadi kenapa tidak?. Yang terpenting adalah mereka bersekolah untuk hidup mereka lebih baik dikedepan nya nanti.
Aku dibuat tercengang dengan keadaan halaman depan sekolah ini.
"Apa tidak ada yang membersihkan halaman ini?" sekarang ganti yuju berkomentar. "Panti asuhan bahkan lebih baik dari ini!"
OMO~ mulut mereka benar-benar pedas sekali, bagaimana jika ada murid atau guru yang mendengar itu nanti. "Sstt....!" "jangan banyak bicara masuk saja!"
'Suzy POV end '
***
Saat ini mereka ber-6 tengah duduk di sofa ruang kepala sekolah, dan tidak lupa dengan pengasuh mereka suzy.
"Eonni di mana kepala sekolahnya?" ucap yerin yang mulai terlihat bosan.
Sudah 20 menit mereka disuruh menunggu di dalam ruang kepala sekolah tapi sang kepala sekolah malah tidak ada ditempat.
Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan itu. Wanita berumur empat puluhan, bertubuh gemuk dengan balutan pakaian kerja rapi.
"Dia besar sekali!" bisik eunha ditelinga umji. Umji yang mendengar itu menahan tawa nya, sambil matanya terus memperhatikan guru itu yang berjalan ke tempat duduknya.
"Baiklah!, saya sudah menerima rapot mereka dan saya cukup tercengang membacanya."
Suzy mendengar dengan seksama penjelasan kepala sekolah. "Padahal mereka ber-6 ini kelihatan seperti gadis polos dan baik pada umum nya." papar kepala sekolah membuat suzy membulatkan matanya.
'gadis polos?' batin suzy tak habis pikir.
Memang sowon dan yang lain terlihat polos di luar tapi kenyataannya mereka tak se polos dan sebaik itu.
"Kalian akan ditempatkan di kelas yang berbeda!, dan kalian harus mengulang mulai dari kelas satu!"
"HAH!" teriak mereka berenam serempak.
"Ne, bukan masalah kepala sekolah! Yang terpenting mereka mendapatkan pendidikan disini!" jawab suzy tanpa menggubris teriakan anak asuh nya.
***
"Sowon eonni, ada apa dengan suzy eonni itu?" ucap eunha mengeluh pada eonni nya.
"Suzy eonni pernah bilang, ini adalah sekolah terakhir yang mau menerima kita. Kalau sampai kita dikeluarkan lagi kita tidak akan mendapatkan sekolah lain lagi!" sowon menjelaskan apa yang dijelaskan suzy eonni padanya tadi.
"Jeongmalyo?" ucap yerin memutar badannya ke belakang untuk melihat eonni nya.
"Yerin eonni perhatikan jalanmu!" ucap eunha melihat ulah sang eonni yang berjalan sambil melihat belakang.
"Anio, gwen... AA......"
"Eonni Gwenchanayo?" umji yang berada tepat di samping yerin, membantu eonni nya itu berdiri dari jatuhnya.
"YAKK.... kau tidak punya mata? Kau membuatnya terjatuh!" bentak sowon melihat yerin yang sedang mengelus dengkul nya walau tidak terluka.
Tujuh namja itu menoleh mendengar bentak kan sowon, tak terkecuali namja yang membuat yerin terjatuh.
"Aku tau dia yang tidak punya mata?, jalan itu menghadap depan bukannya belang!" tegas namja itu penuh penekanan.
"Mereka murid baru jin hyung!" ucap lagi salah satu dari namja itu.
"Kau sudah salah karena membuat urusan dengan kami semua!" tegas namja bernama jin itu.
"Tapi kalian yang menabrak ku tadi!" ucap yerin yang mulai angkat bicara.
"orang seperti mu itu hanya bisa membuat suasana menjadi lebih gila." papar taehyung menatap kearah yerin.
Yeah... mereka itu adalah Jin, Suga, Jhope, RapMons, jimin, taehyung, dan jungkook.
"Yerin eonni, sudah!" ucap eunha agar eonni tidak berbuat sesuatu yang akan merugikan mereka nantinya.
"Orang seperti mu itu hanya bisa melakukan hal licik!" ucap jungkook memandang rendah eunha yang baru saja menasehati eonni nya.
"Kajja!, kita pergi dari sini!"
"Orang seperti mu juga tidak akan kuat menahan emosi. Dirimu atau mereka semua."
Yuju yang mendengar itu. Hanya mendengar dan mengambil napas panjang.
"Mianhae... kita harus pergi dari sini." ucap sinb lagi, yang berniat memutar badannya.
"kau juga orang yang tidak pernah berpikir menggunakan otak!" j-hope mulai mengejek sinb.
Lagi-lagi yuju hanya menarik napas kasar, tanpa menjawab apa pun, atau menanggapi apa pun.
"Orang diam menandakan dia yang paling liar!" suga kali ini yang berbicara. Matanya beradu dengan umji yang sedari tadi hanya diam.
"Jangan dengarkan, ayo cepat!" ucap sowon. Saat mereka semua dah berbalik.
"Dan orang yang hanya bisa menghela napas adalah orang yang paling tidak bisa dikontrol!" ucap jimin tang membuat langkah yuju berhenti yang diikuti pula yang lain.
"Yuju jangan dengarkan mereka!" bisik eunha.
Yuju berbalik dan menatap 7 namja itu "Gamsahamnida, karena sudah memberi sambutan untuk kita." lalu yuju sedikit menunduk untuk rasa hormat nya.
Mereka ber-6 kembali melanjutkan langkahnya menjauh dari 7 namja itu.
"Target selanjutnya!" ucap RapMons menatap punggung 6 yeoja itu.
***
"Apa kita boleh gabung?"
"Tentu saja boleh!, kita belum berkenalan kan!"
***
Selesai part 1 nya semoga suka. Maaf kalau enggak suka.
Like nya ya.. dan comment juga.
Bye
KAMU SEDANG MEMBACA
Problem Complex (BTS X G-FRIEND)
FanfictionBercerita tentang permasalahan dari 7 namja yang masih duduk di sekolah menengah atas. Permasalahan yang membuat mereka menjadi seorang anak nakal dan tidak tau aturan. Tidak sampai disitu, sekolah itu pun juga memiliki catatan buruk karena kelakuan...
