Jantung berdenting bersama sorak sorai rerumputan disepanjang perjalananku. Cakrawala langit yang sudah berubah sangat terang setelah terakhir kali aku melihatnya masih pucat tanpa terik matahari. Kedua tanganku menyusup pada saku di kedua sisi jaketku. Kulirik converse high putih yang berjalan menuruti perintah kaki sang pemiliknya yang berada tepat di sebelahku. Langkahnya sejurus bersamaan denganku.
"Kenapa?" Sang pemilik kaki menegur saat belum sampai lima detik aku meliriknya.
"Ya?"
Ia berhenti berjalan, kedua tangannya juga bersembunyi di balik saku celananya. Aku ketahuan meliriknya.
"Apa aku salah jika melihat sepatumu?" Kepalaku menunduk lebih dalam dari sebelumnya menyembunyikan ekspresi ini. Bukan itu yang menjadi ketertarikanku untuk meliriknya. Kudengar ia menghela nafas panjang.
"Sudah kubilang jangan takut, tatap saja aku!"
Itulah yang kumaksud, karena tidak memiliki sedikitpun keberanian menatap manik hazelnya. Aku masih menyimpan sejuta rasa takut yang kapan saja bisa membuncah menghilangkan kesadaran normalku. Perlahan kuangkat kepalaku dengan jemari yang menggenggam erat kedua tali tasku, aku bisa melihatnya, aku bisa melakukannya,
Aku bisa..
"Ya, seperti itu..."
Aku bisa.. Ini memang perkara mudah, hanya yang menjadi masalah ada seseorang yang pemilik manik itu. Diriku sudah mendirikan benteng yang kokoh agar ia tidak bisa menggangguku lagi, tapi apa daya jika dia memang takdir dihidupku.
Ia meraih tanganku yang mengepal erat, dibelainya perlahan menenangkanku. Ia sudah melakukan ini sebelumnya.
"Bisakah aku mempercayaimu..." Bibirku bergerak lamban, "Ranna?" Ia tersenyum lalu mengangguk meyakinkan.
Kembali ia melangkah dengan dituntunnya lenganku. Siapa pria ini, apa dia sedang merayuku? Persetan dengan semua itu, karena tak pernah kusangka sebelumnya bahwa Devil Angel itu memiliki hati yang sangat putih. Aku mengakuinya setelah pertemuan tadi berlangsung. Ranna, kak Febi, bukan seseorang yang bisa menyakiti orang lain seperti yang kuduga. Bukan karena mereka mencekokiku dengan kalimat dewa nan manisnya, hanya saja tuhan mengirimkan perasaan ini untuk percaya pada mereka.
"Kamu boleh menangis, boleh juga berteriak namun tidak untuk niat menyusul ibumu, Jessica."
Kalimat itu, memerintahkanku agar bersiap menerima masa depan yang lebih berat. Menyuruhku untuk terus bertahan meskipun sakit, dan sampai kini karena itu masa depan jadi aku belum mengetahuinya apa yang akan membuatku menangis, berteriak, bahkan niatan bunuh diri.
"Monster itu, adalah musuh kami." Ranna yang mengatakan itu, bahwa monster yang pernah datang itu adalah musuh mereka. Yang juga sudah mengobrak-abrik kediaman tersembunyi mereka, bukit Santa. Itu karena aku, karena niatanku yang terlalu bodoh untuk mengunjungi kota itu tanpa kutahu bahwa bangsa mereka selalu mengawasi kemanapun aku melangkah.
"Benar dialah Devil Angel itu, dan aku hanya pengawal yang ditugasi menjaganya." Itu adalah kalimat kak Febi yang terakhir sebelum kami mengakhiri perbincangan tadi pagi. Masih mengiang sangat jelas dikepalaku.
"Hey, mikirin apa?" Ia menyadarkan kembali fikiranku, tak terasa perjalanan kami sudah cukup jauh dan tak jauh beberapa meter adalah rumahku.
***
BRAAAKK!
Bibirku terkatup rapat bahkan terlihat seperti akan menangis, tapi memang begitu sebenarnya. Kutahan dalam-dalam perasaanku berusaha untuk tidak mengeluarkan setitik cairanpun. Meski kalimat sebelumnya terputar lagi untuk menyuruhku menangis saja jika memang menginginkannya. Tapi ini bukan saatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Future Angel
FantasyKisah keturunan Malaikat dan Iblis yang berjuang di bumi untuk mendapat kehidupan layak.
