Aku terdiam dalam diri yang termenung. Meratapi setiap rasa yang bahkan tak mampu kueja dalam nalarku. Seperti berjalan sepanjang hari tanpa memiliki tujuan. Seperti bernapas tapi tidak ada oksigen yang masuk keparu-paruku. Aku bingung dengan rasaku, begitu menyakitkan tapi aku enggan untuk melangkah pergi.
Aku bisa saja berlari kearah Freid meninggalkan kehidupanku yang selalu berjalan baik-baik saja. Berlari kearah kehidupan yang mungkin begitu dinistakan oleh bangsaku, oleh agamaku, bahkan begitu menjijikkan jika aku membayangkannya.
Tapi aku mencintai Freid, itu yang aku tahu.
Aku tahu rasa ini begitu gila, sebegitu gilanya hingga dia tidak membiarkan aku untuk berpikir dengan wajar. Rasa ini membawaku ke sebuah tempat dimana rindu begitu mencekik. Yang bisa aku lakukan hanya melihat diriku yang di bakar oleh bayang-bayang. Hatiku selalu menggebu dan selalu memanggil namanya.
Semakin hari yang berjalan, aku tidak lagi menemukan akal sehatku. Akupun marah dengan masa yang tengah bergulir sekarang. tentang perbedaan stratum. Tentang perbedaan Belanda dan Inlander. Tentang Pribumi dan penjajah. Aku marah dengan perbedaan, ingin rasanya aku menembus segala perbedaan. Aku marah menjadi putih dan penakut, bisa saja aku menjadi hitam. dan aku memilih menjadi hitam
Aku menemui Nyai Juminem, seorang gundik dari tuan belanda. Memintanya agar menjadikan aku sama dengannya. aku telah meninggalkan akal sehatku di rumah, yang aku bawa hanya sebuah keyakinan dan juga tubuh yang terasa menjadi hina.
"nduk, dipikir dulu sebelum melangkah" ujar Nyai, dibibirnya ia tengah mengunyah sirih dengan kaki yang diangkat seperti orang yang duduk di warung padahal dia tengah duduk diatas tempat duduk yang terlihat mahal dengan kayu jati yang mengkilap.
Aku terdiam. "jadi Nyai itu tidak mudah. ada banyak persayaratan ketika menjadi seorang Nyai" jelas Nyai Juminem.
"apa saja itu Nyai?" tanyaku.
Nyai Juminem meludahkan sirihnya ke lantai tidak jauh dari tempatku terduduk. Memang aku sedang duduk simpuh di bawah kakinya. Dengan sikap layaknya pembantu dengan ndoronya.
"sebagai Nyai kamu tidak hanya bertanggung jawab atas kehidupan rumah tangga tapi juga kehidupan ranjang. yang pertama kamu harus melayani tuan majikanmu sampai puas. Membuat beliau puas agar tidak membuangmu. Tapi tenang saja Tuan Belanda akan memberikan bayaran yang setimpal" ujar Nyai Juminem. "iki deloken" (ini lihatlah) tunjuk beliau kepada emas-emas yang menghiasi tubuhnya. "rumah iki dan kabeh batur-bature iku sing wenehane tuan belanda"(rumah ini dan semua pembantunya adalah pemberian tuan belanda) pamer beliau menunjuk segala perabotan mewah di rumahnya.
Aku terdiam. Membuang. Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh otakku. Nyai Juminem melanjutkan bicaranya. "kita dan tuan belanda ora oleh rabi. Yo bener, ancen gak bedo adoh soko lonte. Tapi jelas bedo lo, Nyai iku luweh terhormat. Gak sembarangan oleh gawe nyai. Harus saudagar lek gak ngono Londo sing ndue darah biru" (translate : kita dan tuan belanda tidak boleh menikah. Ya, benar memang tidak beda jauh dari pelacur. Tapi jelas berbeda, nyai itu lebih terhormat. Gak sembarangan boleh memaki Nyai. Harus sudagar atau enggak belanda dengan darah biru). canda Nyai.
Aku mengangguk paham. Tapi semakin ragu atas pilihanku. Mugkinkah Freid juga akan membuangku sama seperti Nyai Juminem. Perbincangananku dengan Nyai Juminem membuatku kekeh tapi juga ragu. Aku melihat hidup Nyai Juminem yang bahagia dengan tuan belandanya. Seperti yang dia ceritakan ini adalah kali ke delapan dia dijual ke tuan Belanda Lainnya.
Sebelumnya dia telah memiliki 11 anak. tidak mau pusing mengurusi anak-anaknya. Apabila anaknya memiliki wajah belanda beberapa mantan majikan Nyai Juminem membawanya ke belanda saat usai tugas di nusantara, ada juga yang dititipkan ke teman belandanya. Yang berwajah indonesia di titipkan ke panti asuhan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perempuan Jawa [END]
Historical Fictioninlander dimata belanda. hindia-belanda adalah negeri para monyet, hanya dihidupi oleh sekumpulan manusia pemilik strata terendah dari kehidupan. mereka dengan bangga memamerkan darah eropanya yang mereka anggap lebih tinggi dari bangswan kekratonan...
![Perempuan Jawa [END]](https://img.wattpad.com/cover/99668051-64-k645634.jpg)