Cultuurstelsel

6.7K 759 105
                                        


Aku telah akrab dengan bathara bayu di sepanjang waktu. Tapi rasanya malam itu dia menyampaikan hasrat berbeda, seperti membisikkan sebuah dentingan lembut dari swargaloka. Apa yang lebih menggairahkan selain mendengarkan tembang-tembang jawa penuh rasa disaat Asmara tengah bersenandung?.

Aku sedang terduduk di tepi sebuah jendela. Menunggu subuh yang masih ada diambang hari, dari tempatku terduduk. Aku Membayangkan teater dan panggung drama yang tidak pernah bisa kulihat mungkin seumur hidupku. Hanya mendengar dari mulut ke mulut tentang euforianya yang mengalun membuai bersamaan dengan gamelan yang ditabuh, aku ingin menjadi lakon Ratu Kencana Wungu yang bisa membuat Dhamarwulan bersimpuh dihadapannya. Semua itu tentang cinta, semua itu tentang duri asmara yang entah dari mana tiba-tiba mengusik kalbu dengan rasa manisnya.

"kamu gak tidur nduk?". tanya ibu yang keluar dari kamar untuk melakukan tahajud. Aku menoleh kearahnya. Kemudian menggeleng dengan semburat senyum yang telah sejak tadi terpampang di rona wajahku.

Ibu mendekat, mengamati wajahku sekali lagi. "opo to nduk? Kok kelihatan seneng gitu malam-malam. Ngedeni ae" ledek ibu membuatku tersipu malu. Yeah, aku malu untuk mengatakan aku suka dengannya. lelaki yang belum kuketahui identitasnya tapi sudah bisa membuat hatiku berdesir.

"loalah, anak wedok-ku sudah besar rupanya. Jatuh cinta sama siapa hayooo?". ibu menebak. (anak wedok=anak perempuan)

"bukan jatuh cinta bu". aku menepis tebakan ibu dengan malu-malu sembari menyibakkan rambut dari telinga. Meski tidak ada rambut disana.

"pasti sama Mardikun anaknya kyai Roji'un kan?". tanya ibu.

Aku kemudian terdiam, mencoba menyembunyikan perasaanku yang bahkan tidak untuk Mas Mardi. Memang Mas Mardi adalah orang yang baik, dia sangat baik denganku. Dia juga banyak membantuku dalam berbagai hal. Dia juga banyak mengajariku tentang hidup yang harus selaras dengan tiang agama.

"ibu ingin punya mantu Kyai. Bisa membawa ibu masuk surga" ujar ibu penuh. harap, aku mengangguk. Dengan senyuman, ibu masuk ke bilik langgar. Aku masih terduduk diposisiku yang melipat dengkul. Aku menggenggam seragam milik lelaki belanda itu, menghirup kembali aroma tubuhnya yang khas. Ketika aku menghirup aroma tubuhnya, kembali aku diingatkan akan parasnya yang menawan dengan mata biru yang tajam.

Subuh datang menjelang. Aku masih terduduk, sesaat setelah adzan yang disuarakan Mas Danu mengangkasa. Aku mengambil air wudlu, juga mukena untuk malakukan sholat subuh berjamaah. Subuh itu terasa khitmat, hingga doa setelah sholatpun terasa menenangkan. Diantara doa-doa meminta selamat dan rejeki. Disana Tanganku yang telah terbiasa dengan bludru yang berdebu, untuk yang pertama kalinya aku menyelipkan doa untuk seseorang lelaki yang namanya sulit untuk ku eja.

Sigfreid van Schmidthamer

Ba'da subuh aku segera membersihkan rumah. Lalu melanjutkan untuk masak di pawon. Untuk menyalakan api membutuhkan kesabaran, meniup bambu agar kayu bakar tetap menyala di tungku pawonan. Asap yang keluar membuat badanku berbau sangit. Setelah nyala api telah stabil, ibu memasukkan bahan-bahan makanan diatas panci untuk diolah.

"nduk, bawa sarapan buat bapakmu di pasar". suruh ibu. aku mengangguk nurut, dengan di bungkus daun jati makan pagi dan siang ayahku dan kakak laki-lakiku segera siap untuk kuantar ke pasar.

Jarak rumahku ke pasar tidaklah jauh. Mungkin hanya beberapa kilo melewati hamparan sawah dan sebuah desa lagi untuk sampai disana. Dahulu bapak memiliki sepeda unta, sewaktu kecil aku dan Mas Danu sering di gonceng bapak naik sepeda ke pasar dengan membawa beberapa barang jualan. hanya saja karena satu dua alasan yang membuat tiga empat alasan lainnya terjadi akhirnya sepeda itu dijual.

Perempuan Jawa [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang