7. Kesempatan

135 4 0
                                    

-Selamat Membaca-

Hati gue udah telanjur stuck sama lo, jadi susah buat pindah.

~~~~~

Naufal merasa dirinya terlalu pengecut karena selalu menghindari Amel. Saat gadis itu ingin bertanya atau melakukan kontak mata kepadanya, ia selalu menghindar dan terkesan menjauh. Naufal tau bahwa ia tidak seharusnya bersikap seperti itu pada Amel, tapi apa daya hatinya sudah terlanjur kecewa oleh kenyataan yang ada.

Kakinya melangkah dan membawanya kehalaman belakang sekolah, perasaan nya tak menentu dan bimbang. Apa yang harus dia lakukan disaat seperti ini? Ingin rasanya menghampiri Amel dan mengajaknya berbincang, tapi Naufal tetaplah Naufal yang terlalu gengsi untuk menghampiri Amel.

"Ini nih yang dari tadi dicariin! Eh malah bengong disini dianya, lo lagi galau ya?" Tanya Reza dengan candaan.

"Lagi mikirin Amel tuh?" Celetuk Deva tiba-tiba

"Berisik lo berdua, gih sana jangan ganggu gue!" Usir Naufal.

"Ya elah, kita gak bakal kemari juga kalo bukan disuruh Beni buat cari lo bego! Males banget" jawab Reza.

"Emang si Beni ngapain cari gue?"

"Tau dia tuh, tiba-tiba nyuruh kita buat nyariin lo, penting katanya. Buruan lo ditunggu diruang OSIS" balas Deva.

Tanpa mengucapkan satu katapun Naufal langsung melesat pergi dari hadapan kedua sahabatnya.

------

"Eh fal sini, Lo tau kan kalo sekolah kita mau ngadain ulang tahun?" Tanya Beni dan dibalas dengan anggukan Naufal.

"Nah lo mau ya jadi pengisi acara?" Bujuk Beni.

"Nggak ah males gue" ucap Naufal tak tertarik.

"Masa untuk sekolah sendiri gak mau sih fal, yaelah jahat banget lo." Bujuk Beni lagi.

"Gak gue gak mau!" Balas Naufal sedikit kesal.

"Yakin lo gak mau? Gue sih rencanainnya lo duet sama Amel, gue tau lo jahuin Amel tapi lo tau gak sikap lo itu buat dia merasa dia punya salah sama lo! Dia kemaren sampai nyariin gue buat nanya lo itu kenapa"

"Tapi dia udah punya pacar ben, dan lo tau pacar dia itu Alvian. Gue gak mau dibilang ngerebut milik orang lain lagi ben! Lo tau kan persabatan dan perasaan gue pernah hancur diwaktu bersamaan! Gue nggak mau itu terjadi lagi."

Beni menghela nafasnya "Gue tau fal, tapi lo jangan ngebuat Amel merasa seperti dia punya salah sama lo dong fal! Setidaknya lo bisa anggap dia sebagai teman atau adek kelas lo mungkin"

Naufal menggeleng "nggak ben, gue gak yakin gue bisa ngangep dia seperti adek kelas, lo tau kan kalo gue tertarik sama dia? Dan lo tau kan kalo misalnya gue udah tertarik sama orang gimana?"

"Ya gue tau fal, lo bakan memperjuangin orang tersebut sampe orang tersebut yang nolak lo?" Naufal mengangguk

"Tapi setidaknya lo harus jelasin sama dia kenapa lo ngehindar Naufal! Jadi anggap aja duet ini kesempatan lo buat jelasin semuanya sama Amel! Dan lo harus mau." tutup Beni dan langsung pergi meninggalkan Naufal sendiri diruangan Osis

Naufal terdiam, ada benarnya juga apa yang dikatakan Beni tadi.

-------

Amel membaringkan tubuhnya, jam sudah menunjukan pukul 20:30, ingin rasanya ia menghubungi kak Naufal, untuk menanyakan tentang sikap kak Naufal yang menjauh.

"Arggg line gak ya? Gak ah, masa cewek yang nge Line duluan ahrggg" sungut Amel sambil mengacak- acak rambutnya.

Line.

Suara notifikasi baru membuat gadis cantik itu menghentikan kegitannya. Matanya membulat kala melihat nama seseorang yang beberapa hari ini memenuhi pikirannya. Tanpa pikir panjang Amel langsung mengambil handphone nya yang berada diatas nakas.

Naufalarkana : Malam. Mel..
Amelshera : Malam juga kak
Naufalarkana : Lagi ngapain mel? gue ganggu gak?

"Aduh kak biar lo ganggu juga gue bakal ladenin kali" batin Amel.

Amelshera : Gak ganggu kok kak :) aku cuman lagi nonton aja
Naufalarkana : oh kirain lagi ngapain. Mel udah tau mau di adain pensi?
Naufalarkana : Kata Beni lo ngisi acara ya?
Amelshera : Udah tau kok kak, iya kata kak Beni aku disuruh duet, tapi nggak tau sama siapa
Naufalarkana : Beni bilang lo duet sama gue :)

"Astagah demi apa? ini seriusan?" Amel memekik dalam batin.

Amelshera : Seriusan kak?
Naufalarkana : Seriusan, tadi beni bilang sama gue. Lo gak suka ya?
Amelshera : Gak gitu, aku malah seneng kalo duet sama kakak
Naufalarkana : Bagus deh kalo gitu. Besok kita mulai latihan ya. Apa pensinya tinggal 10 hari lagi.
Amelshera : Iya kak
Naufalarkana : Besok istirahat pertama gue tunggu diruang musik.
Amelshera : Siap kak :)

Read

"AAAAAAAAAAAAA" pekikan Amel menggema diseluruh kamarnya bahkan busa terdengar sampai keruang tamu rumahnya. Ia menggengam handphone nya dengan gemas dan merasa ada ribuan kupu-kupu berterbangan didalam perutnya.

Ceklek
Bunyi pintu yang terbuka mengalihkan tatapan Amel dari handphone nya. Dahinya mengkerut kala melihat sosok abangnya di depan pintu kamarnya.

"Ngapain bang?" Tanya Amel bingung.

"Lo ngapain sih dek? Teriak-teriak ngak jelas ganggu tau gak" ujar Kevin terlihat kesal.

"Heheheh maafin Amel bang, gimana Amel lagi seneng sih"

"Emang lo seneng kenapa?" Tanya Kevin dengan muka yang penasaran.

"Lo emang beneran mau tau?" Amel sedikit terkekeh, karena melihat muka abang kesayangannya terlihat begitu serius.

"Iya, buruan kasih tau gue penasaran kenapa lo seneng banget!"

"Lo yakin mau tau?" Terlihat Kevin mengangguk sekilas. "Yaudah sini deh deketan, gue bisikin" kata Amel.

Kevin mendekat, dengan telinga yang sudah berada di depan bibir Amel. Siap untuk mendengarkan alasan adek kesayangan nya.

"LO KEPO!" Amel berteriak dengan sangat kencang di telinga Kevin, membuat sang kakak meringis sambil memegang sebelah telinga nya.

"Sialan lo, budek nih telinga!" Kevin menjitak jidat Amel dengan keras.

"Aduhhhhh, sakit Bang kevinnnnn" teriak Amel kesakitan.

"Biarin! Siapa suruh lo ngerjain gue! Dasar adek kurang ajar!" Umpat Kevin dan langsung meninggalkan Amel yang masih memegangi jidatnya.

--------

Halu...
Gimana lama ya updatenya?
Hehehe maaf deh ya🌹
Jangan lupa vote dan komen.

See you❤️

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 05, 2017 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

My Wild BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang