~Lissa Prahayu Fukazawa
Aku menatap majalah playboy dengan mata berbinar-binar.
Hari ini adalah hari weekend, aku dan kedua kakak kembarku sedang bermalas-malasan di atas ranjangku yang berukuran king size. Dan hari ini pula, kakakku yang kedua bernama Lilo diam-diam telah membeli sebuah majalah dewasa. Bukan pertama kalinya kakakku itu suka membeli barang aneh seperti ini. Lilo melakukan ini sudah sekitar lima tahun yang lalu. Itupun dia selalu mengajak aku dan Liam untuk ikut membacanya.
Kami bertiga adalah saudara kembar. Pertama ada Liam Hayu Fukazawa, kedua ada Lilo Hayu Fukazawa dan terakhir ada aku sebagai wanita seorang diri, Lissa Prahayu Fukazawa. Walaupun kami ini kembar namun masalah sifat kami sangat berbeda jauh. Kakakku yang pertama atau Liam. Dia lebih suka hal-hal yang berbau imut, manis dan kekanak-kanakan. Dan kata ibuku, Liam ini sangat mirip dengan kelakuan ayah yang sangat childish. Tak jarang pula bila dia lebih sering dimarahi oleh ibu karena sifatnya yang manja.
Kakakku kedua, Lilo. Bagai langit dan bumi, Lilo adalah tipe pria yang brengsek. Begitu kata teman-teman wanitaku yang berhasil dicampakan olehnya. Lilo sangat berantakan, cuek, dan mesum. Entah darimana sifat itu berasal. Namun kata ayahku, sifat itu menurun dari ibuku yang dulunya berkelakuan bar-bar.
Sedangkan aku?
Aku netral. Aku tidak terlalu suka menjadi brengsek, namun aku juga tidak suka menjadi childish. Dan di antara saudaraku yang lain, akulah yang paling pintar. Mungkin hanya itu kelebihanku.
Walau kami berbeda sifat, namun kami mempunyai satu persamaan. Yaitu dalam tipe memilih wanita idaman. Kami bertiga suka dengan wanita berambut lurus dan bewarna blonde.
Apa aku gila?
Ya, kalian boleh berpendapat seperti itu dan aku juga tidak terlalu memperdulikan pendapat orang lain tentang diriku.
Sejak kapan aku memiliki ketertarikan sesama jenis? Entahlah aku juga tidak tahu. Mungkin sejak usiaku 15 tahun. Karena pada saat itu aku jatuh cinta pada teman kelasku sendiri yang duduk tepat di sampingku. Dia begitu manis dan hangat.
Apa kedua kakakku dan kedua orang tuaku tahu tentang penyimpangan seksualku?
Mereka sudah tahu. Kedua kakakku hanya bisa pasrah dan mendukung yang terbaik apapun itu soal diriku, sedangkan ayah dan ibuku saat awal-awal mereka mengetahui tentang diriku sebenarnya, mereka marah besar. Bahkan mereka hendak membawaku untuk pergi ke psikiater ternama. Namun sedikit demi sedikit, mereka berdua dapat menerima segala kekuranganku ini. Walaupun hingga detik ini ibuku masih terlihat kesal bila aku membicarakan soal wanita dihadapannya.
Aku sudah sangat puas dapat di terima di keluarga ini.
"Wow.. big breasts." Aku ikut melirik apa yang dikagumi oleh Lilo. Disana terdapat gambar seorang model wanita ternama yang mengenakan bikini bewarna merah yang begitu seksi sedang berjemur di atas pasir pantai.
"Palsu," jawabku singkat. "Darimana kamu tahu dadanya palsu?" tanya heran Liam ikut menanggapi. Sedangkan Lilo hanya diam dan menanti jawabanku dengan sabar.
Aku menghela napas lalu berkata. "Aku pernah menyentuhnya." Jawabanku itu sontak membuat kedua kakakku menatapku dengan tatapan tak percaya. "Serius. Aku pernah bekerja dengannya di salah satu majalah fashion ternama, dan setelah menyelesaikan sesi foto, kami berdua pergi ke club. Aku sedikit tertarik dengannya dan kami berdua melakukan foreplay," jelasku begitu datar.
"Hmm.. ma, maksudmu apa dia.." ujar Liam terbata-bata. Aku tahu apa yang akan diucapkan kakakku itu. Kedua kakakku tak pernah mengatakan kata-kata semacam lesbian, LGBT, atau yuri kepadaku. Mungkin mereka tak mau membuat hatiku tersinggung dan terluka karena ucapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Black Fire ( Love Seasons )
Chick-Lit( WARNING 18++ ) "Kamu mempunyai payudara yang besar, Lissa. Kenapa selama ini kamu menyembunyikannya?" tanyanya begitu heran. "Aku benci memiliki payudara, brengsek!" "I will make you understand. Lubang wanita di khususkan untuk para pria. Dan kali...
