~Lissa Prahayu Fukazawa
Diam-diam aku menengok ke arah kanan dan kiri. Mencoba mengantisipasi bahwa makhluk sialan itu tidak ada disini. Dan aku menghembuskan napas lega ketika mendapati tidak ada tanda-tanda orang itu datang kemari.
"Lissa?" Aku terlonjak, begitu terkejut ketika suara cukup berat seseorang di belakangku memanggil namaku. Di dalam hatiku yang terdalam, aku berdoa pada Tuhan bahwa sosok pria dibelakangku ini bukanlah pria menyebalkan itu. Dengan gugup, kemudian aku berbalik menengok ke arah pria tersebut. Dan lagi-lagi aku dapat bernapas lega ketika pria yang dibelakangku bukanlah dia.
Kedua mataku tertuju pada sepasang bola mata bermata hitam pekat. Pria tersebut memiliki rambut yang panjang bahkan melebihi bahunya sendiri. Dia tersenyum padaku, dan disitu aku mendapatkan sebuah senyuman yang begitu ramah dan hangat. Mungkin bagi seorang wanita normal lainnya, pria ini masuk dalam kategori pria yang tampan atau bahkan sangat tampan.
"Uk, ukyo?" sapaku tak yakin bahwa pria tampan dihadapanku ini adalah Ukyo. Terakhir aku bertemu dengannya mungkin sekitar satu tahun yang lalu. Dan seingatku pula, saat terakhir bertemu dengannya rambutnya masih berpotongan rapi. Tidak terlihat berantakan seperti sekarang.
"Lama tidak berjumpa. Kamu tampak lebih cantik," pujinya setelah menatapku dari ujung kepala hingga ujung kakiku, lalu dia tersenyum kembali. Aku hanya tersenyum kaku mendengar pujiannya. Hari ini aku hanya mengenakan celana jeans bewarna hitam, dan crop tee bewarna senada untuk atasannya. Dipadu dengan heels bewarna putih. Banyak yang mengatakan walaupun aku mengenakan pakaian sederhana, aku terlihat sangat sempurna. Mungkin karena gestur tubuhku yang penuh dengan lekukan. Aku terlihat pantas mengenakan apapun.
"Kamu terlihat hmm.. sedikit berubah." Ukyo tertawa pelan saat mendengar komentarku tentang penampilannya. Tidak ada yang salah dengan kemeja kotak-kotak yang ia kenakan. Hanya saja aku sedikit merasa bahwa Ukyo yang dulu aku kenal kini sudah berubah. Pria ini adalah Ukyo Takumi, anak kedua dari pasangan Honda Takumi dan Anzu Yamada. Ukyo juga sekaligus teman sekelasku saat aku sekolah dulu.
"Aku merasa bosan dengan diriku yang dahulu," jawabnya begitu tenang. Aku tak begitu memahami apa yang diucapkannya barusan, dan yang kulakukan hanya mengangguk.
"Kenapa kamu disini? yang lain sudah berkumpul di belakang rumah." Ukyo bertanya sekaligus mengingatkan. Aku mendesah tak nyaman mendengar itu. Ya, disinilah aku sekarang berada. Mengintip dari dalam salah satu ruangan tamu kediaman paman Ken dan bibi Stella. Dan di taman belakang, semua orang sedang berkumpul disana untuk merayakan ulang tahun bibi Stella.
Apa yang kulakukan sekarang?
Apa sebaiknya aku kabur saja dari sini?
Sibuk dengan pikiranku sendiri, aku tak menyadari bahwa Ukyo telah berulang-ulang kali memanggil namaku. Aku terkejut ketika Ukyo sedikit meremas bahu kananku untuk menyadarkanku ke alam nyata. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya sembari menyerngit aneh.
Sejujurnya, aku ingin berteriak kencang padanya, mengatakan jika aku sedang tidak dalam keadaan baik sekarang. Bagaimana tidak, bila aku juga turut berkumpul dengan mereka tentu saja aku dapat bertemu pria bajingan itu. Pria yang bahkan sedetikpun saja aku muak melihatnya. "Hmm.. apa ada Ello disana?" tanyaku begitu hati-hati.
Salah satu alis Ukyo terangkat, ia menatapku dengan pandangan yang bahkan aku sendiri tidak mengerti. "Ello?" tanyanya.
"Apa pria itu disana?" Aku kembali bertanya padanya. Namun, bukan sebuah jawaban yang aku terima. Melainkan sebuah kekehan cukup keras dan menyebalkan dari dia yang aku dapatkan.
"Jadi, selama ini kamu masih membencinya?" tanya Ukyo tak percaya. Aku hanya mendengus tak suka mendengar pertanyaannya. Sudah jelas, bahkan perlu di garis bawahi hingga akhir hayatku aku akan membenci bajingan tengik itu. "Jawab saja pertanyaanku!" kesalku mengeluarkan nada tinggi andalanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Black Fire ( Love Seasons )
ChickLit( WARNING 18++ ) "Kamu mempunyai payudara yang besar, Lissa. Kenapa selama ini kamu menyembunyikannya?" tanyanya begitu heran. "Aku benci memiliki payudara, brengsek!" "I will make you understand. Lubang wanita di khususkan untuk para pria. Dan kali...
