~Giardina Ello Candellar
Aku tersenyum, melambaikan salah satu tanganku ke udara sebagai tanda salam sopan.
Seperti biasa, sorotan lampu blitz kamera berlomba-lomba untuk mendapatkan hasil fotoku yang terbaik. Puluhan wartawan sedang berdesak-desakan ingin mencari posisi yang tepat untuk mengajukan beberapa pertanyaan.
Berbeda denganku yang terlihat tenang dan ceria, justru seseorang yang berada disampingku menampilkan ekspresi wajah yang begitu kaku dan masam. Ia terlihat sangat membenci semua keadaan ini.
Hari ini, aku sedang melakukan jumpa pers sebuah promosi film ber-genre romance dewasa yang akan segera berproduksi. Disini aku berperan sebagai seorang pria bernama Ace jo Wyman. Kisah ini diangkat dari novel best seller karya Yuu Kamoi yang berjudul My Ex. Karena ini film perdana yang diangkat dari novel beliau, maka minat konsumen pada film ini begitu tinggi.
"Apakah kepulangan anda kembali ke tanah kelahiran, karena mendapatkan peran penting ini tuan Candellar?" Salah satu wartawan mulai bertanya. Aku berdeham kecil lalu menjawab. "Tidak. Tujuan saya kembali kesini karena merindukan kedua orang tua saya. Mereka sudah terlalu tua, bukankan akan lebih baik jika saya menemani mereka berdua disini?" ujarku begitu santai yang mendapat respon tawa kecil dari para wartawan.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan anda di New York? Bukankah banyak sekali tawaran film yang ditujukan pada anda disana?" Kali ini seorang wanita berdandan menor yang bertanya padaku. Aku menyilangkan kedua tanganku di dada. "Saya tidak terlalu memperdulikan soal uang. Saya bermain film karena keinginan saya dan untuk kesenangan saya sendiri. Perkara tentang saya yang meninggalkan New York juga karena saya sudah bosan dengan wanita-wanita bule disana."
Lagi-lagi, aku mendengar suara gelak tawa yang memenuhi ruangan ini.
"Bagaimana perasaan anda ketika mendapat peran sebagai tokoh utama pria dalam novel My Ex ini?" Seorang pria berkacamata tebal mulai serius membahas tentang film. Aku tersenyum dan berkata. "Saya mengucapkan banyak terima kasih pada produser film ini, Jun Tasashi dan tentu saja Yuu Kamoi pemilik novel karena sudah mempercayakan saya untuk memerankan Ace."
Yuu Kamoi dan produserku tersenyum saat aku mengucapkan kata-kata tulus tersebut.
"Saya sudah membaca novelnya. Dan menurut saya, sikap dan sifat Ace yang di tulis oleh Yuu Kamoi begitu berbanding terbalik dengan sifat saya. Ia memiliki sifat yang begitu kaku, dingin, dan tertutup. Sedangkan kalian semua tahu, bahwa saya memiliki sifat yang lebih suka terang-terangan, dan bebas. Mungkin ini menjadi sesuatu tantangan yang besar untuk diri saya sendiri." Aku kembali beragumen. Sebetulnya, aku tak pernah membaca novel tersebut. Membaca adalah hal yang paling membosankan dalam hidupku. Aku bukanlah type pria yang kutu buku. Bahkan saat aku duduk di bangku sekolah dulu, aku selalu mendapat banyak masalah karena meraih nilai merah.
Lalu bagaimana bisa aku mengerti dan akan memerankan Ace jo Wyman bila membaca bukunya saja tidak? Jawabannya mudah. Aku menyuruh managerku, Alice, untuk membacakan buku itu padaku seperti menceritakan dongeng pada anak kecil. Dan saat aku akan melakukan casting, cukup tuliskan dialog percakapan mereka saja padaku. Maka, aku akan memerankan peran tersebut dengan sempurna.
"Tapi, banyak sekali pro dan kontra dalam pembuatan film ini. Bahkan tak sedikit pula para fans dari pecinta Ace jo Wyman tak terima bila anda yang memerankan tokoh tersebut." Pria berkumis tipis itu membacakan secarik kertas yang ada di tangannya. Aku menghela napas. "Pro dan kontra selalu ada di dalam dunia hiburan. Saya hanya bisa mengatakan lihat saja nanti setelah film ini selesai digarap. Kalian boleh menilai saya layak atau tidak untuk memerankan Ace."
KAMU SEDANG MEMBACA
Black Fire ( Love Seasons )
Literatura Kobieca( WARNING 18++ ) "Kamu mempunyai payudara yang besar, Lissa. Kenapa selama ini kamu menyembunyikannya?" tanyanya begitu heran. "Aku benci memiliki payudara, brengsek!" "I will make you understand. Lubang wanita di khususkan untuk para pria. Dan kali...
