"Dek, bentar lagi kan libur semester. Erlangga gak pulang?"
"Uhuk... uhuk." Seketika aku tersedak oleh makanan yang hendak kumakan saat mendengar bunda menanyakan Erlang padaku.
"Eungg... gak tau, Nda."
"Lho kok gak tau? Emang Erlang gak bilang sama kamu, Dek?" Kali ini gantian ayah yang bertanya.
Boro-boro bilang, ngasih kabar aja juga gak pernah, Yah!
"Belum sempet, Yah. Erlangnya sibuk." Dengan terpaksa, akhirnya aku pun memilih jawaban yang menurutku aman. Meskipun aku harus membohongi kedua orangtuaku. Maafin Rena, Yah, Nda.
Setelah itu tak ada lagi pertanyaan yang terlontar dari ayah dan bunda. Aku pun melanjutkan makan malamku dengan tenang. Setelah selesai, aku membantu bunda untuk mencuci piring yang telah kami gunakan.
"Kamu bohong sama Bunda ya, Dek?" tanya bunda ketika kami sedang mencuci piring.
"Hah? Bohong apa, Nda?"
"Itu masalah Erlang," jelas bunda seraya melirik sekilas untuk memerhatikan raut wajahku.
"Aku gak bohong, Nda. Erlang emang sibuk kok. Saking sibuknya dia lupa sama aku." Raut wajahku berubah masam saat membicarakan tentang Erlang.
"Wajar lah, Dek. Dia kan dapet beasiswa di sana, makanya dia gak boleh main-main kuliahnya."
Aku pun mengembuskan napas kasar. "Iya, Nda, aku ngerti. Cuma yang aku permasalahin itu dia yang gak ngabarin aku sama sekali. Ini udah hampir sebulan dia ngilang gak ada kabar, Nda. Udah mati di negeri orang kali dia."
"Hushh kamu gak boleh gitu ngomongnya."
Aku hanya bisa mencebikkan bibirku. "Lagian aku kesel sama dia, Nda."
"Ya tapi tetep aja gak boleh gitu. Itu sama aja kamu nyumpahin dia, Dek."
Hah kenapa bundaku sendiri malah membela Erlang? Laki-laki yang membuat anaknya hampir gila karena gak dapet kabar. Aku pun segera menuju ke kamar setelah menyelesaikan pekerjaanku.
Renata Zahra. H
Bunda nanyain kamu tuh
Katanya kamu pulang gak nanti libur semester?
Kayaknya enggak yah, kamu kan sibuk banget
Sampe ngabarin aku aja gak bisa
Apa jangan-jangan kamu udah mati di negeri orang?
Jujur saat ini aku mulai kesal pada Erlang. Mungkin saat awal-awal aku sedih karena dia gak ada kabar. Tapi sekarang aku sudah gak peduli lagi. Kalau pun dia beneran sibuk seperti apa yang dibilang bunda, aku akan mencoba memaklumi. Tapi kalau tidak, entahlah. Apa aku harus memutuskannya?
Ting
Aku langsung mengambil ponselku begitu mendengar ada notifikasi yang masuk. Apa aku berharap itu Erlang? Sejujurnya iya. Tapi ternyata apa yang kuharapkan tak sesuai dengan kenyataannya.
Sarah Febrina
Ren, gmn perkembangan foto yang mau lo ajuin buat lomba?
Renata Zahra. H
Yaa lumayan lah. Gue dapet beberapa foto bagus kemarin
Rencananya sih lusa mau hunting lg
Sarah Febrina
Ok deh
Gue punya sepupu yg juga mau hunting, mau bareng gak?
Renata Zahra. H
Cowok? Apa cewek?
Sarah Febrina
Cowok cuyy
Ganteng deh. Mau kenalan gak?
Renata Zahra. H
Gak, Sar
Gue blm berminat buat kenalan sama cowok lg
Lagian gue kan juga masih punya pacar
Sampai saat ini, aku masih jaga hati aku buat kamu, Lang. Apa kamu juga di sana? Aku cuma berharap semoga usaha aku gak sia-sia buat mempertahankan hubungan kita.
KAMU SEDANG MEMBACA
Again
Short StoryJarak. Apakah hanya karena jarak kita menjauh? Mungkin jarak hanya sesuatu tak kasat mata. Tapi, jangan meremehkan hadirnya jarak. Karena jarak bisa membuatmu kehilangan segalanya. April 2017
