Aku memandangi Devi dengan tatapan bertanya. Perjalanan ke rumah Vika dengan mengandalkan Devi maps, alias ingatan dari kepala Devi, ternyata menemui jalan buntu. Sepertinya mobil yang dikendarai mang Dirman tersesat. Sejujurnya di dalam hati aku ingin mengomeli Devi, karena sejak awal dialah yang berperan sebagai si penunjuk jalan, tapi aku tidak tega. Devi sudah pernah satu kali mengantarkan Vika pulang, jadi aku mengandalkan petunjuknya untuk menemukan arah yang benar. Tapi rupanya ingatan Devi sama sekali tidak bisa diandalkan.
"Aduh! Kayaknya tadi kita salah belok deh, mang," kata Devi sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Aturannya habis pertigaan tadi, kita belok ke kiri, mang," lanjut Devi, tapi masih dengan nada tidak yakin. Aku menghembuskan napas lelah.
"Serius dong, Dev. Rumah Vika di sebelah mana, sih? Dari tadi kita cuma muter-muter nggak jelas begini," protesku kesal.
"Sorry, babe. Aku ke sana kan pas malam hari, jalannya gelap. Jadi ya, aku nggak terlalu yakin," sahut Devi dengan nada penuh penyesalan.
"Terus gimana dong? Atau nggak kamu telepon Vika aja, tanyain arah yang benar." Aku mencoba memberi jalan keluar bagi kebuntuan kami. Sebelumnya aku sudah meminta mang Dirman untuk menepikan mobil, sementara Devi menelepon Vika untuk menanyakan arah yang benar.
Pandanganku aku arahkan ke luar mobil, mencoba mengamati daerah tempat mobilku berhenti. Ternyata mang Dirman menepikan mobil di sebuah jalan yang lumayan sepi. Mobil-mobil yang melalui jalan ini hanya terlihat sesekali. Aku pun tidak tahu, daerah apa ini. Rasa paranoid-ku mulai bekerja. Aku sedikit takut jika mobilku terlalu lama berhenti di jalan sepi seperti ini.
"Gimana, Dev? Vika ngomong apa?" Aku langsung bertanya saat melihat Devi memasukkan ponselnya ke dalam slim bag-nya.
"Kita memang salah belok tadi, babe. Kata Vika, setelah pertigaan tadi kita harusnya belok ke kiri." Jawaban Devi membuatku mendengus kesal, karena lagi-lagi kami harus putar balik arah untuk yang ketiga kalinya.
Namun baru saja aku ingin menyuruh mang Dirman untuk kembali menjalankan mobil, sesuatu yang buruk menimpa kami. Sebuah motor tiba-tiba berhenti tepat di depan mobilku. Posisinya menghalangi mobilku yang ingin melaju. Mang Dirman mencoba membunyikan klakson mobil, sebagai isyarat agar motor itu segera menyingkir.
Berapa kali pun mang Dirman menekan klakson mobil, pengendara sepeda itu seperti tidak menghiraukannya. Kedua orang pengendaranya malahan sengaja memarkirkan sepeda itu tepat di depan mobilku. Dan untuk apa yang mereka lakukan selanjutnya, kami semua sama sekali tidak ada yang menyangkanya.
Kedua pria ber-helm hitam itu langsung saja mengeluarkan sebuah senjata api, setelah turun dari sepeda motornya. Aku dan Devi serentak menjerit ketakutan, saat salah satu dari mereka mengetuk kaca mobil, yang berada tepat di samping Devi, dengan menggunakan ujung sebuah pistol. Penodong itu berteriak kencang, menyuruh kami untuk segera keluar dari dalam mobil.
Aku dan Devi perlahan keluar dari mobil, sambil menahan rasa takut. Sedangkan mang Dirman sudah diseret keluar oleh si pengendara motor yang satunya lagi. Melihat betapa kasarnya perlakuan pria ber-helm itu pada mang Dirman, tubuhku menggigil oleh rasa takut. Ya Tuhan, selamatkan lah kami. Siapa pun tolong!! Batinku menjerit panik.
"Tolong! Jangan sakiti kami. Ambil saja semua barang berharga kami," cicitku ketakutan pada perampok yang tadi menyeret tubuh mang Dirman secara kasar. Aku hanya ingin mencegah mang Dirman agar tidak dipukuli.
"Tutup mulutmu, cantik! Dan jangan menggoda kesabaranku. Ayo cepat, kumpulkan semua barang-barang berharga kalian!" Aku sedikit menahan napas, ketika perampok itu mengarahkan pistolnya kepadaku. Mataku terpejam rapat dan tubuhku bergetar hebat, saat dinginnya ujung pistol itu mulai membelai pipiku. Keringat dingin pun membasahi dahi dan punggungku. Ya Tuhan, apa hari ini adalah hari terakhirku di dunia? batinku takut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Intermezzo (Selingan Indah)
ChickLitTelah tersedia di Google Play Books (Repost) Sofia merasa hidupnya terlalu sempurna. Terlahir dengan wajah cantik dan juga dikaruniai otak yang pintar. Berasal dari keluarga kaya raya, dengan orang tua yang sangat menyayanginya dan memanjakannya, hi...
