Intermezzo - 1

1.7K 130 25
                                        

"Pagi, bunda! Pagi, ayah!" sapaku manis pada kedua orang tuaku, sambil mencium kedua pipi mereka.

Pagi ini tampak begitu cerah dan indah. Masih tetap sama seperti pagi-pagi kemarin. Aku kini sedang sarapan bersama kedua orang tuaku. Dan seperti biasanya, suasana sarapan pagiku bersama keluargaku terasa begitu hangat. Walaupun aku terlahir sebagai anak tunggal, tapi aku tidak merasa kesepian. Ayah dan bunda selalu membuat hari-hariku terasa ramai, karena perhatian dan kasih sayang mereka yang begitu besar.

"Pagi, sayang! Apa hari ini kamu jadi pergi ke rumah temanmu?" Aku tersenyum ke arah bunda. Bunda punya kebiasaan menanyakan hal-hal yang sebelumnya pernah dia tanyakan. Bunda beralasan, itu dilakukannya hanya untuk memastikan keadaan. Dan aku, dengan segala kesabaranku, selalu bersedia menjawab pertanyaannya sambil tersenyum manis.

"Jadi dong, bunda. Aku mau menjenguk Vika bareng sama Devi. Sudah lima hari ini Vika nggak datang ke sanggar. Ibunya bilang Vika sakit thypus." Senyum manisku tak pernah meninggalkan wajahku, yang orang bilang cantik seperti malaikat.

"Kamu yakin penyakitnya itu nggak menular, sayang?" Aku memaklumi kecemasan bunda. Dia hanya seorang ibu yang terlalu menyayangi putri semata wayangnya, yaitu aku.

"Tenang bunda, nggak perlu takut. Aku itu kuat. Aku kan anaknya bunda sama ayah," jawabku manis. Aku kemudian merasakan tangan ayah, yang besar dan hangat, mengusap sayang puncak kepalaku.

"Kalau ada apa-apa, segera telepon ayah atau bunda, ya," kata ayah kemudian. Aku menganggukkan kepala dengan semangat. Tidak lupa juga melemparkan sebuah senyuman manis.

"Beres, ayah," sahutku riang sambil mengangkat kedua ibu jari tanganku.

"Apa Gio ikut mengantarmu, sayang?" Bunda bertanya sambil sibuk mengolesi rotinya dengan selai strawberry.

"Gio ada meeting pagi, bun. Devi nanti yang jemput aku. Kita berdua pergi pakai mobilnya." Pandangan bunda kembali ke arahku.

"Biar mang Dirman saja ya, yang mengantar kalian, sayang. Lebih aman." Aku pun hanya bisa menghembuskan napas perlahan. Aku kembali harus memaklumi sikap paranoid bunda tentangku.

"Memangnya bunda hari ini nggak ke mana-mana?" tanyaku lembut. Mang Dirman adalah salah satu sopir pribadi keluargaku, yang sering mengantar bunda pergi ke manapun.

"Nggak kok, sayang, bunda hari ini nggak ke mana-mana. Tante Sonya sama teman-teman arisan bunda mau datang ke rumah nanti siang. Jadi biar mang Dirman saja ya, yang mengantar."

Apa aku sudah pernah bercerita, kalau bundaku itu adalah seorang sosialita? Bunda setiap hari selalu punya kegiatan dengan teman-temannya sesama sosialita. Entah itu arisan, sekedar kumpul minum teh atau belanja barang-barang bermerek mahal keluaran terbaru.

Sebenarnya aku tidak tahu apa manfaat dari kegiatan bunda itu. Yang aku tahu, bunda terlihat bahagia dan menikmati semua kegiatannya itu. Karena alasan itulah, aku tidak pernah protes. Ayah pun tidak pernah terlihat memberikan larangan pada bunda terkait kegiatan sosialnya.

"Oke deh kalau begitu, bun. Nanti biar mobil Devi ditinggal di sini saja." Aku akhirnya mengalah, seperti biasanya. Aku memang tipe-tipe anak manis yang jarang membantah perintah orang tua. Bahkan seingatku, aku tidak pernah membantah keinginan kedua orang tuaku, khususnya keinginan bundaku tersayang.

Setelahnya kami tidak membahas lagi tentang itu. Jadi aku bisa sarapan dengan tenang dan nyaman. Hariku memang selalu sempurna. Tidak pernah terjadi perdebatan yang berarti di dalam keluarga kecilku ini. Jika dilihat dari kaca mata orang luar, keluargaku termasuk keluarga kaya yang sangat harmonis. Hanya ada canda dan tawa kebahagiaan di dalamnya.

Intermezzo (Selingan Indah)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang