Janji Tristan

56 9 3
                                    

Mei, 2014 ...

Suasana romantis mengiringi perjalanan dua sejoli yang dimabuk asmara. Diiringi alunan lagu Just The Way You Are dari Bruno Mars menambah aura keromantisan di sana. Sesekali sang pria ikut bernyanyi sembari melirik pujaan hatinya. Sementara sang kekasih hanya tertawa dengan wajah merah merona.

Her laugh her laugh

She hates but I think it's so sexy

She's so beautiful

And I tell her everyday

Lanjut nyanyian Tristan. Dee menutup wajahnya dengan kedua tangannya untuk menyembunyikan rasa malunya, membuat Tristan terkekeh geli melihat tingkah kekasihnya.

"Sudah deh, sejak kapan kakak jadi gombal begini?" Tristan hanya tersenyum manis mendengar gerutuan Dee.

"Biasanya selera musik kamu nggak seperti ini deh, terdengar terlalu muda buatmu, Kak!" sindir Dee halus dengan menahan senyumannya, "biasanya lagu-lagu kakak itu seperti The Beatles, Andrea Bocelli atau ..." Dee tidak bisa menahan tawanya ketika melihat wajah Tristan yang cemberut, kesal mendengar godaannya.

"Ciyee ... yang lagi bahagia dari tadi tertawa melulu nih," goda Tristan balik membuat Dee terdiam dan semburat merah di pipinya kembali muncul setelah mencerna ucapan tersirat sang kekasih. Tristan tertawa ketika melihat Dee salah tingkah.

Tristan mengambil tangan Dee dan mengecup tepat di jari yang tersemat cincin pemberiannya beberapa waktu lalu.

"Aku senang jika kamu bahagia, karena perasaanku pun sama bahagianya denganmu, Dee."

Tristan tidak menyangka bahwa hubungannya dengan Dee bertahan sampai saat ini. Dulu ia sangsi terhadap jalinan kasihnya akan berjalan langgeng, melihat usianya yang terpaut delapan tahun dari Dee serta niat awalnya untuk mengabulkan keinginan sang ayah yang menjodohkannya. Namun seiring berjalannya waktu cintanya pada Dee semakin besar dan ia tidak ingin kehilangannya. Itu sebabnya Tristan berani mengambil langkah ke tahap serius dengan melamar sang kekasih.

Tak lama berselang mereka tiba di rumah Dee. Saat ini keduanya tengah berada di ruang keluarga menemui orang tua Dee. Bermaksud meminta restu untuk melamar secara langsung kepada ayah kekasihnya.

Sesuai prediksinya lamarannya disambut baik oleh kedua orang tua Dee, suara jeritan kebahagiaan memenuhi ruangan itu. Nyonya Faustine langsung menghambur memeluk putrinya dan mengucapkan selamat. Tristan tersenyum senang melihat respon positif dari calon ibu mertuanya itu. Namun senyum Tristan tidak bertahan lama ketika mendengar interupsi seseorang.

"Apa? Lamaran siapa?" tanya Dara beruntun tak percaya dengan pendengarannya. "Dee, itu nggak benar, 'kan?" lanjutnya menatap tajam sang adik yang terlihat gugup.

"Dee ... bukankah aku sudah jelaskan semuanya, kenapa kamu masih percaya sama dia?"

"Dara, sampai kapan kamu berhenti menuduhku? Bukankah aku sudah bilang kalau kamu salah paham, dan aku sudah membuktikannya padamu!" Tristan membela dirinya, tidak terima dengan tuduhan Dara.

"Never! Aku bukan Dee yang bisa kamu bohongi yah," Tristan mengeram marah.

"Cukup! Hentikan!" tuan Faustine mencoba melerai pertikaian di depannya.

"Dad ..." Dara hendak membantah.

"Dara, cukup!" seru ayah Dee, "kita bisa bicarakan ini dengan baik-baik, oke."

"Tentu saja daddy lebih percaya sama dia. Aku 'kan memang bukan bagian dari keluarga ini, jadi semua orang tidak percaya padaku!" setelah mengatakan itu, Dara berlari menaiki tangga ke kamarnya.

A Celebrity's Wedding StoryWhere stories live. Discover now