8. Another Boy Who Can Fly

4.3K 364 46
                                        

Keheningan tidak bertahan lama ketika seorang pria bungkuk paruh baya memenuhi koridor panjang ini dengan suara langkah cepatnya. Pijakan tergesa-gesanya membuat gema yang memenuhi ruangan dingin dan serba putih ini. Lantai marbel yang terlapisi dengan karpet merah yang kontras dengan tema warna ruangan ini menuntun pria itu menuju pintu kayu besar yang terletak tak jauh dari hadapannya. Ekor jubah putihnya berkibar-kibar seraya melewati pilar-pilar besar yang berbaris di kedua sisi koridor. Kedua tangan yang saling menggenggam di dalam lengan jubahnya yang lebar dan terlihat seperti menyatu itu membawa sesuatu yang sangat penting. Dan meskipun tertutupi dengan topih kerucut putih dengan lambang bintang emas di depannya, peluh sudah berhasil keluar mengalir kening berkerutnya itu. Bukti tanda bahwa sesautu itu harus segera sampai ke tujuan. Dan meskipun ini akan bisa lebih cepat terlaksana jika dia melakukannya dengan berteleportasi, tapi pria paruh baya itu tahu betul kalau menggunakan magic seperti itu diruangan ini adalah sebuah larangan. Maka yang hanya bisa dia lakukan adalah bergerak secepat mungkin yang dia bisa.

Namun akhirnya dia sampai juga di tujuan. Dengan mengambil nafas sejenak, pria tua itupun mulai mengetuk pintu yang terbuat dari kayu hardwood sebanyak tiga kali. Dia menunggu sejenak sampai terdengar suara tanda pintu itu sedang terbuka dengan cara terbelah dua di tengahnya. Menampilkan ruangan temaram yang sangat berbeda dengan ruangan diluarnya.

Pria tua itupun masuk dengan pandangan dibawah penuh hormat. Hal yang ditangkap pertama kali olehnya seperti biasanya adalah ruangan itu sangat pengap. Dan aroma rempah-rempah sangatlah kuat.

"Aku punya pesan buat anda, yang mulia" katanya kemudian.

Disana, tepat dihadapan pria tua itu terdapat sebuah kursi besar berwarna merah gelap penuh ukiran-ukiran yang asthetic dan lambang bintang emas diatasnya. Disana pula, terdapat seseorang yang sedang menduduki kursi tersebut dengan anggunnya. Seorang wanita dengan pancaran energi berwana putih berada di sekelilingnya yang bagi sebagian orang akan merasa tercekik bila berada di dekatnya. Dari jarak inipun pria tua itu dapat merasakan.

"Sampaikan" ucap wanita tersebut dengan suara yang sangat lembut dan gemulai namun juga terdapat kesan berbahaya darinya.

Pria tua itupun sedikit mendongakkan kepalanya sebelum bergerak maju. Dikeluarkannya sebelah tangannya dari dalam lengan bajunya yang 'menyatu' itu sebelum menampilkan sebuah gulungan kertas yang kemudia dia berikan kepada wanita yang disebutnya yang mulia itu.

Wanita tersebut tidak membuat satupun gerakan untuk mengambil gulungan tersebut. Dia hanya mengangkat sebelah tangannya yang dari tadi ditaruh di atas lengan kursi itu sebelum gulungan tersebut dengan sendirinya terangkat ke udara. Dengan lepasnya benda itu darinya, pria tua itu bergegas mundur ke tempat semulanya. Sementara wanita tadi dengan sedikit gerakan dari jemari-jemarinya, langsung membuat gulangan kertas itu terbuka menghadap keatas. Kemudian dia menjentikkan jarinya yang langsung mendapatkan reaksi dengan munculnya cahaya dari kertas tersebut. Dan layaknya proyektor, wajah seseorangpun muncul disana. Seorang pria dewasa dengan rambut ikal hitam dan berewokan yang tumbuh lebat diwajahnya serta sebuah luka yang membekas dari atas alis sebelah kanan sampai bagian bawah mata kanannya. Pria itu memberikan anggukkan hormat sebelum mengeluarkan suara.

"Yang mulia, hamba punya kabar baik untuk anda" ucapnya.

"Katakan" perintah wanita tersebut.

"Setelah sekian lama, penantian anda akhirnya akan segera berakhir. Pasukan kami berhasil melacak jejak energi yang sangat yang kami yakin ini berasal dari 'The One'" jelasnya sebelum bibir pria itu mulai melengkung "dan anda pasti tak akan menyangka dimana kami menemukan letaknya".

"Dimana?"

senyumannya semakin lebar.

"Arilona"

I am The Luna [On Hold]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang