5. Snowflakes*

8.2K 612 86
                                        


Steve Snow memiliki semuanya.

Dia tampan, dia kaya, dia terkenal.

Dia juga hebat dalam berbagai bidang olahraga, bergaul dengan orang-orang keren, dan berpacaran dengan gadis tercantik di sekolahan.

Orang-orang mengatakan hidupnya sempurna.

Setiap cowok di sekolahnya ingin menjadi sepertinya. Setiap cewek di sana ingin berada di ranjangnya.

Dan meskipun dia bukan "apel termerah di atas pohon" dalam bidang akademik atau bagian pemberontak dalam dirinya kadang membawanya dalam masalah, tapi itu tidak juga menghentikan pujian yang berdatangan dari para guru karena setiap kemenangan yang diraihnya selalu membuat nama untuk sekolahnya.

Dia juga memiliki keluarga yang suportif. Mendukung segala keputusan yang dibuat. Bangga akan setiap hasil yang dia dapat. Dan seperti yang selalu dikatakan ibunya "we'll love you no matter what"

Orang-orang akan mengatakan dia telah memiliki apa yang mereka impi-impikan.

Tetapi...

Kenapa Steve Snow masih merasa kurang?

Kenapa disetiap pesta gila yang didatanginya, atau setiap kemenangan yang diraihnya, atau setiap ciuman panas dan percintaan liar yang dibaginya dengan pasangannya, Steve masih merasa belum puas?

Kenapa disetiap cinta dari para penggemarnya, atau disetiap pujian dari para gurunya, atau disetiap rasa bangga yang selalu ada didalam senyum kedua orang tuanya, Steve masih merasa belum sempurna?

Kenapa dia merasa masih ada bagian didalam dirinya yang belum utuh?

Kenapa dia merasa seperti ada ruang kosong yang selalu membuatnya tidak cukup?

Apa ini karena dia adalah orang yang serakah?

Apa ini karena dia adalah orang yang tamak?

Tapi Steve Snow tahu betul dia bukan orang yang begitu. Dia bukan manusia yang serakus itu. Dia hanya seorang cowok yang merasa ada bagian yang hilang untuk menyempurnakannya.

Dan awalnya dia mencoba berpikir ini mungkin karena sifat alami setiap manusia.
Ini adalah sifat tidak-pernah-merasa-puas mereka. Dan dia mencoba berpikiran seperti itu.

Sampai pada suatu hari, perasaan ini membuat semua yang dilakukan Steve terasa hambar.

Dia kehilangan semangat untuk bertanding, dia kehilangan minat untuk setiap pesta, dia kehilangan hasrat melakukan apapun dengan pasangannya.

Steve Snow merasa jenuh untuk semuanya.

Dia mencoba mencari cara untuk menghentikan perasaan seperti ini. Dia tidak tahu mengapa dia menjadi seperti ini tapi yang jelas dia ingin hal ini berakhir.

Bahkan Davin yang merupakan sahabat baiknya pun menyadari keanehan ini. Dia tahu ada sesuatu yang mengganggu sahabatnya. Dan dia ingin membantunya.

"Hmm ... itu mungkin karena kamu merasa gugup dengan pertandingan minggu depan" usul Davin ketika suatu hari Steve memutuskan untuk mengeluhkan tentang masalahnya. Dan cowok bermata kelabu itu mencoba mempercayainya.

Meskipun setelah dia memenangkan pertandingan itu, Steve masih merasakan kekurangannya itu.

"Oh oh! Aku tahu! Ini mungkin karena kamu melewatkan pestanya Jessie semalam. Man, seharusnya kau ada disana dan menyaksikan betapa gilanya pesta itu" simpul Davin di lain hari ketika Steve kembali mengeluh.

Hal kecil yang tidak diketahui oleh sahabat baiknya itu adalah Steve sebenarnya datang ke sana hanya saja Davin terlalu wasted untuk menyadari keberadaannya.

I am The Luna [On Hold]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang