Rival

3.8K 346 50
                                        


God membaca buku dengan serius di perpustakaan, Copt dan Tee pergi entah kemana. Sedari tadi ia mendengar bisik-bisik disekelilingnya, ia tau itu para wanita yang mengagumi ketampanannya. God tidak peduli, ia sudah terlalu terbiasa dengan ini. Sebentar lagi akan diadakan ujian blok, God harus menggunakan waktunya dengan baik di kampus, karena ketika ia sudah sampai di asrama, God tau dia tidak akan bisa berkonsenterasi belajar karena ada Bass didekatnya.

Tiba-tiba God merasakan kebisikan disekelilingnya menghilang, ternyata Got dan kedua temannya memasuki perpustakaan. Seluruh fakultas kedokteran memang mengenal tiga serangkai ini, jika God, Copt, dan Tee dikenal sebagai si tampan yang pintar, maka Got, Puenthai, dan Sunan dikenal sebagai si tampan yang berandal. Tidak, mereka tidak bodoh. Bagaimana mungkin mereka dapat mengambil jurusan kedokteran dengan IQ rendah? Hanya saja sikap semena-mena dan sombong mereka membuat ketiganya disebut berandal.

Selain itu bos dari masing-masing grup yaitu God dan Got memiliki hubungan yang tidak baik. Nama yang hampir sama tidak membuat sikap mereka bersahabat. Hingga Got yang memiliki nama asli Gotsapong Parkhananikorn, lebih suka di panggil Park. Kecuali oleh kedua sahabatnya yang tetap memanggilnya dengan Got.

Park, Puenthai, dan Sunan duduk di sisi sebelah kanan perpustakaan, hanya berjarak 3 meja dari tempat God berada. Membuat God dapat memperhatikan setiap gerak-gerik ketiganya termasuk mendengar obrolan mereka.

"Hei aku sudah tau nama Nong dari Fakultas MIPA yang tempo hari datang ke sini!" ujar Sunan bersemangat. God langsung mengarahkan tatapannya kepada mereka, sepertinya ketiga pria tampan itu tidak menyadari keberadaan God.

"Siapa?" tanya Puenthai, sementara Park membuka buku yang sudah ia ambil. Seolah-olah tidak peduli dengan perbincangan kedua temannya.

"Namanya Bass Suradet! Astaga, ia merupakan anak tunggal dari pembisnis terkaya di Thailand! Kau bisa mencari nama ayahnya dengan mudah di internet" jelas Sunan.

"Huah pantas saja ia semempesona itu. Pasti selalu melakukan perawatan. Kulitnya saja seputih salju, kemarin aku sangat ingin menyentuh kulitnya ohhh pasti halus sekali" kata Puenthai.

God yang mendengarnya mengepalkan tangan kuat, berusaha meredam emosi dengan kata-kata yang disampaikan pria bertindik itu. Sialan!

"Ya ya kau benar. Dia sangat manis sekali. Tapi apa hubungan Nong itu dengan God?" tanya Sunan, mengingat God yang secara tiba-tiba datang dan menyerat bocah menggemaskan itu.

Puenthai menaikkan kedua pundaknya "Tidak tau, mungkin kakak adik?"

"Bodoh! Kau lupa God anak tunggal?!" tanya Sunan sewot, memukul pelan lengan salah satu temannya itu.

"Ah aku lupa, lagipula kenapa harus selalu ingat tentangnya?" jawab Puenthai.

Meskipun mereka berenam (read: God, Copt, Tee, Park, Puenthai, dan Sunan) berada diangkatan yang sama, mereka tidak terlalu dekat. Tidak ada masalah khusus sebenarnya, hanya saja julukan yang berbeda diantara kedua grup dokter itu cukup menjadikan alasan bagi mereka untuk tidak dekat satu sama lain. Bagaimanapun juga karakteristik mereka sangat berbeda, si tertib dan si pegacau mana bisa disatukan?

"Jangan-jangan mereka berpacaran?" tebak Sunan, "Lihat saja wajah God kemarin, seperti ingin memukul kita saja"

Untuk sesaat Park mengalihkan pandangannya kepada Sunan, menaikkan alisnya namun kemudian kembali larut dalam buku yang dibacanya.

"Bisa jadi, ah tapi sayang sekali. Aku juga ingin dekat dengan Nong imut itu." harap Puenthai, "Wajahnya tidak bisa lepas dari ingatanku"

Sunan mengangguk setuju, Nong bernama Bass itu mengalihkan dunia mereka hanya dengan satu kali bertemu "Aku juga, bagaimana kalau kita ke fakultasnya saja?"

My Innocent BassStories to obsess over. Discover now