3 | Tanya

5.2K 327 46
                                    

Cek typo ya😌

______

Darren meraih gelas yang berisi es jeruk. Kemudian menempelkan sedotan nya ke bibir, menyeruput isi gelas tersebut. Setelah selesai, dia meletakkan kembali gelas nya di atas meja.

"Ren, kemarin lo nganter Icha pulang?"

Gilang menarik kursi yang kosong, lalu menghempaskan tubuhnya di sana. Pandangannya tertuju ke arah pemuda yang duduk di hadapannya. Sekilas dia mengalihkan pandangan, menoleh ke arah Tio yang berada di samping tempatnya.

"Iya, Lang. Kenapa emang?" Alis Darren saling bertautan.

"Nggak papa si, Icha cuma nitip jas hujan ini. Katanya terima kasih." Gilang meletakkan jas hujan yang terbungkus di atas meja. Perlahan dia mendorong jas hujan tersebut ke arah Darren.

Darren memandang sekejap jas hujan yang tergeletak di atas meja. Ya, jas hujan itu memang miliknya. Dia beralih memandang Gilang. Sepasang bibirnya mengatup. Ada yang mengganjal dalam hatinya, dia segera angkat bicara. "Kenapa Icha nya nggak ngembaliin langsung ke gue? Dan kenapa ... harus melalui perantara lo, Lang?"

Kedua sudut bibir Gilang tertarik pelan, dia mengangkat bahu ke atas. "Gue nggak tau, mending lo tanyain langsung aja." Gilang menghela napas. "Eh tunggu, Ren. Darimana lo kenal Icha? Kok nggak cerita ke gue?" Kini, Gilang yang mengajukan pertanyaan.

"Seharusnya gue yang tanya itu ke lo, Lang."

Gilang mengerutkan kening.

"Kalian lagi ngomongin apa sih?" celetuk Tio, menghentikan gerakan tangannya yang akan menyendok potongan bakso. Sepasang matanya menilik ke arah temannya yang sedang terlibat obrolan. Sungguh, dia tak mengerti apa yang sedang keduanya bincangkan.

"Udah bagus lo diam aja, Yo," sahut Darren, memutar kedua bola matanya.

Gilang terkekeh renyah. Dia menggeser gelas milik Tio, lalu menegaknya sedikit.

Hal tersebut langsung mendapat tatapan dari Tio, "Lang, lo kalau mau minum beli lah. Main nyeruput aja punya orang," desisnya.

Gilang menyenggol bahu Tio, "Ya elah, Yo. Kayak nggak biasanya."

Tio mendengus kasar.

Gilang kembali menatap Darren. Sebelum menimpali ucapan Darren yang sempat tertunda karena pertanyaan Tio, dia menghela napas sejenak, baru mengeluarkan suara. "Gue kenal Icha dari Ayah. Dan alasan gue nggak pernah cerita ke lo, ya karena gue tau itu nggak penting."

"Kok bisa Ayah lo kenal Icha?"

"Iya bisa, karena Icha anak dari teman Ayah."

"Berarti lo dekat banget sama Icha atau ... punya hubungan spesial?"

Gilang tertawa ringan seusai mendengar pertanyaan yang diajukan Darren. Dia bangkit dari kursi, lalu menghampiri Darren. Punggung tangannya mengecek kening Darren, sekadar untuk memastikan  suhu badan Darren panas atau tidak. "Nggak panas," ujarnya, kembali ke kursi.

Tio yang melihat hal tersebut, menyemburkan tawa. "Darren sehat kali, Lang," celetuknya.

"Iya si, Yo. Gue cuma memastikan, soalnya nggak biasanya Darren kepo sama gue," sahut Gilang.

Darren [Sudah Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang