A

1.6K 249 6
                                    

Typo(s)
________________

Sudah dua minggu sejak hari kelabu waktu itu. Reileen sudah terbiasa menempati kamar tempatnya di sandera.

Chanyeol memasuki kamar Reileen untuk memberi makan malam. Ya, sepertinya Chanyeol sedang sibuk hingga telat memberinya makan, karena biasanya pria itu selalu membawa makanan saat petang tiba.

Chanyeol menghampiri Reileen yang sedang duduk di sofa. Gadis itu sudah tidak terikat di ranjang lagi. Tiga hari setelah penculikan, Chanyeol melepaskan semua ikatannya. Entah apa alasan pria itu, Reileen pikir, Chanyeol adalah pria yang –sedikit baik.

“Makanlah, Reileen.” Kata Chanyeol seraya memberikan nampan berisi makanan dan minuman untuk Reileen.

“Terima kasih,” balas Reileen. Ia mengambil nampan itu. Menit berikutnya, ia mulai menyantap makanan di depannya.

Chanyeol membuka dasi yang ia pakai, menggulung lengan kemeja hitamnya. Lalu, ia menyenderkan tubuhnya di sofa. Matanya menerawang jauh, tanpa menghiraukan Reileen yang duduk disampingnya.

“Kau lelah bekerja, ya?” Tanya Rei, sekedar berbasa-basi. Sungguh, ia tak begitu pandai mencairkan suasana, namun ia juga tak ingin berlarut-larut dalam suasana canggung.

“Ya, begitulah. Kekasihmu itu, Oh Sehun mulai berulah dan membuatku pusing.” Ucap Chanyeol.

Mendengar nama kekasihnya disebut, Reileen langsung menatap Chanyeol. Ia merindukan kekasihnya, tapi disisi lain ia juga membenci pria itu. Sehun benar-benar tak mencarinya. Setidaknya pria itu harus mencoba menyelamatkannya. Tapi ini… bahkan Reileen tak melihat usahanya sama sekali.

“Sekarang kau masih percaya bahwa Sehun orang baik-baik?” Tanya Chanyeol. Ia menegakkan tubuhnya dan balas menatap Reileen.

“Entahlah, pria itu tak bisa diandalkan lagi.”

“Sepertinya, kau salah menculikku, Tuan Park. Sehun tak menghawatirkanku, atau bahkan, dia sama sekali tak mengingatku.” Lanjut Reileen, seraya meletakkan makanan di meja yang ada dihadapannya.

“Aku tidak pernah salah mengambil tindakan.” Tegas Chanyeol.

“Terserah.”

“Apa maksudmu?” Tanya Chanyeol tak mengerti.

“Ya, terserah. Apapun yang akan kau lakukan padaku, aku akan menurutimu. Bahkan, jika kau ingin mengambil nyawaku, silahkan. Lagipula, hidupku tak berguna.”

Chanyeol menatapnya tajam. Ia benar-benar tak suka jika ada seseorang yang menyepelekan hidupnya.

“Kau tahu? Dulu aku ingin bunuh diri, namun Sehun yang menyelamatkanku.” Tambah Reileen.

Chanyeol masih menatapnya tajam. Ia masih ingin tahu penjelasan gadis di sampingnya. Apalagi, saat nama Sehun disebut, dan juga tentang bunuh diri.

“Saat sekolah menengah, orang tuaku membuangku di tempat kumuh. Ah, dia bahkan tak mengijinkanku untuk tinggal di panti asuhan. Aku membiayai hidupku sendiri, aku ingin hidup dan membuktikan kepada mereka bahwa aku bisa sukses tanpa bantuan mereka. Aku hanya ingin orang tuaku sadar, bahwa aku bukan anak pembawa sialan, aku bukan anak yang terlahir karena kesalahan.”
Reileen menghela napasnya. Hidupnya benar-benar miris.

“Untungnya, aku mendapat beasiswa, jadi aku tak memikirkan biaya sekolahku sampai aku lulus SMA. Di akhir tahun lalu, hidupku benar-benar kacau, aku di pecat, aku tak bisa membayar flat –yang sudah kusewa sejak lulus sekolah menengah, akhirnya kehidupanku kembali pada titik terburuk.”

Ia menerawang jauh, bagaimana kehidupannya dulu. Sebenarnya, ia tak mau mengungkit masalah itu, terlalu sakit dan tak pantas untuk diceritakan. Tapi, ya sudahlah.

“Saat itu, saat salju pertama turun, aku berada di titik lemah. Aku mencoba bunuh diri, hingga akhirnya dewa penyelamatku datang. Ia meraih pergelangan tanganku yang sudah tergores silet, membungkusnya dengan sapu tangan coklat milik dewa penyelamat.”

“Maksudmu Sehun? Apa dewa penyelamat itu… Oh Sehun?” Tanya Chanyeol penasaran.

“Ya, seorang pria yang bernama Oh Sehun. Dia datang bagai dewa penyelamat. Merawatku hingga aku bisa hidup seperti sekarang, melunasi semua hutangku, memberiku pekerjaan ringan –hanya merawat anjing peliharaannya yang bernama Vivi, memberiku tempat tinggal berupa apartment, dan juga… dia telah mengenalkanku pada kata cinta. Dia membuatku mencintainya pada pandangan pertama.” Jelas Reileen diiringi seulas senyum tipis yang menghiasi wajahnya.

Chanyeol berdesir ketika melihat senyuman tulus itu. Entah mengapa, ia mengingat seseorang yang sama persis dengan Reileen.

“Sehun meyakinkanku bahwa hidupku tak begitu buruk. Dia membujukku agar selalu hidup dengan baik, dia juga menjadi sahabatku, hingga akhirnya –tanpa ragu aku mengungkapkan perasaan cintaku padanya. Dan dia menerima. Saat itu aku benar-benar senang. Aku berjanji pada diriku sendiri akan menghargai hidupku, dan mengisi sisa hidupku untuk membalas kebaikan Sehun.”

“Aku tidak ingin mendengarnya.” Sergah Chanyeol.

“Ah, maaf, aku sudah bercerita banyak padamu. Maaf telah membuatmu tidak nyaman, Tuan.”

Bodoh sekali, kenapa ia menceritakan masa lalunya pada orang asing yang sedang menculiknya.

“Jadi tolong, jika kau ingin membunuhku, aku rela kau melakukannya. Aku tidak peduli lagi tentang membalas kebaikan Sehun. Dia bahkan tak lebih dari seorang penghianat.” Kata Reileen datar.
Chanyeol tersenyum misterius saat mendengarnya.

“Aku memang tidak tahu diri, ya?” Reileen tersenyum miris. “Sekarang dia bahkan tak memikirkanku, tapi aku selalu memprioritaskannya diatas siapapun. Ah, sepertinya aku benar-benar mencintainya.”

Kali ini Chanyeol mendengus kesal. Entah mengapa mood-nya hari ini benar-benar buruk. Sejak tadi pagi di kantornya, dan sekarang mendengar penuturan dari mulut Reileen. Dan yang mengejutkan, alasannya seperti ini dari seorang bernama Oh Sehun.

“Jadi tolong, bunuh saja aku. Aku tidak ingin hidup lagi.” Ucap Reileen.

Chanyeol melayangkan tatapan tajam pada Reileen. Ia benar-benar tak suka dengan ucapan gadis itu.

“Tidak! Sudah kukatakan, aku tak akan membunuhmu, Nona Kim!” bentak Chanyeol.

“Kalau begitu… lepaskan aku, biarkan aku pergi dari sini.”

“Tidak akan!”

Chanyeol berdiri, berjalan keluar dan menutup pintu secara kasar. Hingga membuat Reileen tergelonjak kaget.
Reileen masih terdiam sambil memandangi pintu kamar. Ia benar-benar tak mengerti dengan pemikiran pria itu. Apa gunanya dia disini?






to be continue

loeys♡

Falsch • PCYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang