Pria itu menoleh ke belakang, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Reileen yang sedang berjongkok –memegangi lututnya dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Chanyeol segera mendekati Reileen dan membawa gadis itu dalam dekapannya. Chanyeol mengusap lembut rambut panjang Reileen yang sedari tadi tergerai bebas. Ia benar-benar tak mengerti dengan keadaan gadis yang berada dalam dekapannya.
“Kenapa hm?” Tanya Chanyeol lembut. Reileen hanya terdiam tak menanggapi. Hal itu membuat Chanyeol semakin khawatir.
“Tidak perlu khawatir. Aku di sini, semua akan baik-baik saja,” ucap Chanyeol.
“Dan Sehun, aku yakin dia akan selamat. Kau tidak perlu khawatir, dokter sedang menanganinya,” tambah Chanyeol.
Reileen mendongak untuk menatap pria itu. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum ia dapat melihat seulas senyum di wajah pria itu. Entah mengapa semua ketakutannya lenyap begitu saja. Ah, pria ini sepertinya pandai menenangkan hati seorang gadis.
“Sudah lebih baik?” Tanya Chanyeol, lagi. Reileen hanya mengangguk mengiyakan.
“Aku mempunyai trauma dengan suara tembakan. Dulu saat aku kecil, aku sempat mendengar suara tembakan. Seseorang menembak penjahat tepat di depan mataku, makannya aku takut dengan benda itu. Jadi, sejak kecil, aku selalu cemas ketika mendengarnya,” jelas Reileen.
Chanyeol cukup terkejut mendengarnya. Jadi dia yang membuat Reileen ketakutan. Pria itu kembali mengusap rambut Reileen. Reileen yang tersadar jika semua ini tidak benar, langsung ia menjauh dari tubuh pria itu. Ia menundukkan kepalanya. Mengatur detakan jantungnya yang sudah tiga hari ini berdetak tak normal ketika melihat Park Chanyeol.
“Kenapa?” Tanya Chanyeol bingung.
Reileen menatapnya ragu. Ia mengusap tengkuknya untuk mengurangi suasana canggung diantara keduanya, kemudian berdehem pelan.
“Kau takut padaku, ya? Maaf, sebenarnya aku tidak bermaksud menyakiti Sehun. Itu diluar kendaliku,” tutur Chanyeol.
“Tidak… bukan itu maksudku. Aku hanya takut...” Reileen menggantungkan kalimatnya, membuat Chanyeol menunggu.
“Yah, padahal aku sudah penasaran,” ujar Chanyeol sambil mengerucutkan bibirnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tiba-tiba Reileen merasakan hawa panas di kedua pipinya. Sudah pasti pipinya merona merah. Ah, sial, jadi ini pesona Park Chanyeol? Bahkan ketika cemberut seperti itu pun sangat terlihat manis dan menggemaskan.
Tidak, Reileen. Kau tidak boleh seperti ini. Park Chanyeol sudah memiliki gadis lain, kata Reileen membatin.
“Hei, kau kenapa? Kenapa dengan pipimu? Kau sakit?” Tanya Chanyeol.