Y

1.4K 219 11
                                    

Typo(s)
______________


Suasana makan malam begitu berbeda. Walaupun tampak hening -hanya dentingan suara alat makan yang terdengar. Namun, ada kesan lain yang lebih membuat ruang makan terasa hangat.

Sesekali Reileen mencuri pandang pada Chanyeol yang duduk didepannya. Pria itu terlihat tampan saat makan. Tak banyak bicara dan begitu natural. Ia sama sekali tak kejam walau terkenal sebagai mafia.
Tanpa sadar, Reileen tersenyum simpul. Ini pertama kalinya ia merasa senyaman ini di dekat orang asing. Ya, Chanyeol membuatnya nyaman.

"Kenapa melamun?" Tanya Chanyeol membuyarkan lamunan Reileen.

Gadis itu menggeleng seraya tersenyum tipis. Ia kembali melanjutkan makan ketika Chanyeol kembali fokus pada makanan di depannya.

Reileen kembali memandangi Chanyeol. Ah, kenapa ia baru sadar jika orang yang menculiknya itu adalah pria yang tampan dan masih muda? Jika di pikir-pikir umurnya tak beda jauh dari dirinya. Hanya karena dia yang setiap hari memakai jas membuatnya terlihat seperti pria tua. Ia juga terlihat mempesona, gagah dan pintar. Reileen benar-benar mengaguminya.

Ah, tidak-tidak, aku tidak boleh mengagumi Park Chanyeol. Dia sudah mempunyai tunangan, kan? Batinnya berujar.

Reileen menyudahi acara makan malamnya. Tiba-tiba moodnya hancur. Ia baru ingat jika orang yanga da dihadapannya ini sudah mempunyai tunangan. Pria itu sudah terikat dan tadi ia begitu berharap untuk menjadi pendamping seorang Park Chanyeol.

Sekarang ia harus membuang jauh-jauh harapannya. Lihatlah, bahkan Chanyeol pun tak memandangnya sedikitpun. Harusnya ia bersyukur sudah diajak makan malam di luar kamar -tidak seperti yang biasa ia lakukan. Bukan menjadi serakah hanya karena Chanyeol melakukan hal ini.

Ia harus membuang perasaannya jauh-jauh. Ia tak ingin menyakiti siapapun hanya karena keegoisannya.Lagipula siapa dia? Hanya seorang tawanan. Tak sebanding dengan tunangan Chanyeol.

"Yak! Kapan kau akan menghabiskan makananmu jika kau melamun terus?" Kata Chanyeol.

"Hah?" Reileen mengerjapkan matanya. Ia seperti anak kecil yang masih mencerna ucapan pria di depannya.

"Lihat makananmu!" Kata Chanyeol, lagi.

Reileen menurut, ia melihat makanan di depannya. "Ada apa dengan makananku?"

Chanyeol terlihat kesal. Ia mengambil piring Reileen. Hal itu membuat Reileen membelalakan matanya.

"Ada apa?" Tanya Reileen penasaran.

"Cepat makan." Chanyeol mengarahkan sumpit didepan mulut Reileen. Gadis itu kembali terkejut dengan tindakan Chanyeol.

"Tapi kenapa kau melakukan ini?"

"Kau hanya membuka mulutmu dan makan makanan yang aku suapi. Dan satu lagi, jangan banyak bicara." Tandas Chanyeol.

Reileen terdiam.

Tindakan Chanyeol yang seperti ini kembali membuatnya bingung. Chanyeol melakukan kebaikan lagi. Dan ia rasa, ia mulai menyukai si penculik. Ah, bahkan jika pun ia di kurung selamanya di mansion Chanyeol tidak masalah. Ia dapat keuntungan juga. Lagipula, Chanyeol tak pernah kasar padanya.

"Nah, kau melamun lagi!"

"Maafkan aku, Chanyeol. Aku hanya bingung, kenapa kau berbuat seperti ini?"

"Makan dulu, setelah itu aku akan menjawab pertanyaanmu." Ucap Chanyeol sambil mengoyang-goyangkan sumpit di depan bibir Reileen. Dia melakukannya sangat baik, seperti sedang menyuapi seorang bayi.

Dengan ragu Reileen memakannya. Ia benar-benar canggung disuapi seperti ini. Walaupun ini bukan kali pertama seorang pria menyuapinya, tapi ketika disuapi Chanyeol rasanya benar-benar berbeda. Pria itu tulus melakukannya.

"Jadi apa?" Tanya Reileen.

"Habiskan makananmu dulu." Balas Chanyeol sambil memberi suapan terakhir pada Reileen.

"Ini sudah habis." Ujar Reileen seraya meminum air yang disiapkan pelayan.

"Mungkin kau akan bosan karena mendengarkan ceramahku lagi." Reileen menggeleng cepat. Sedangkan Chanyeol hanya mengulas senyum.

"Kau tahu? aku sangat tidak suka jika ada seseorang yang membuang-buang makanan. Padahal diluar sana banyak sekali yang membutuhkannya. Bahkan ada juga yang memakan makanan bekas orang lain." Jelas Chanyeol.

Reileen kembali terenyuh. Pandangan seorang Park Chanyeol benar-benar membuatnya kagum. Bahkan ia sempat berpikir bahwa Chanyeol bukanlah seorang manusia. Ia lebih pantas disebut malaikat.


"Dan kau, kau malah tak memakan makanan yang telah kuberikan!" tambahnya. Ia menyentil dahi Reileen sebelum meninggalkan meja makan.

"Yak! Sakit!" Reileen mengaduh membuat Chanyeol menghentikan langkahnya dan berbalik badan.

Pria itu tampak tersenyum lebar ketika melihat Reileen mengerucutkan bibirnya.

"Selamat malam, Presdir."

Senyum Chanyeol memudar. Kini raut wajahnya terlihat dingin dan menatap tajam pria disampingnya.

"Ya, Sekretaris Kim. Ada apa?" Tanya Chanyeol.

"Ini tentang Do Kyungsoo. Dia --"

"Kita bicarakan di ruang kerjaku." Kata Chanyeol seraya berjalan ke ruang kerjanya dan Sekretaris Kim mengikuti di belakangnya.

Reileen hanya mendengus kesal. Ia tidak tahu apa yang Chanyeol dan pria tua itu bicarakan. Yang jelas ia tidak rela senyum Chanyeol memudar dalam waktu yang singkat. Ia ingin melihat senyum itu lagi. Ia benar-benar ingin mengumpati pria tua itu.







to be continue

Ada yg mau gantiin Reileen? Hehe
Thanks for reading and vomment 💕

loeys ♡

Falsch • PCYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang