Dibawah sabit yang mendekati separuh, ku menengadah menyaksikan kerlap-kerlip disekitarnya. Segumpal awan menyerupai kapas dengan rona kelabu, mengawang-awang diantara rendah dan tinggi. Berkali-kali ia diterpa angin, namun tak kunjung bergerak melebihi laju siput.
Kuangkat sebelah tangan demi menggapai kapas-kapas itu, seolah ingin merasakan lembut dinginnya diantara jemariku. Sia-sia, kedua tanganku tak cukup panjang untuk menjangkaumu, wahai abu-abu..
Hembusan napas tak terhitung lagi, terasa berat dan menghimpit hati yang senantiasa sepi. Kulihat separuh dari lingkaran yang nyaris membentuk penuh itu, lengkungnya indah dan berpendar cerah
Oh, andai senyummu yang menyerupainya bisa kunikmati sekali lagi, ku yakin mimpiku akan menjadi lebih indah malam ini
Renungku melamunkanmu, sembari dalam hati menghitung sepi tanpa hadirmu. Kenangan demi kenangan yang pernah kita rangkai berkelebat dalam benakku, seperti putaran cerita dari film-film lama. Akankah khayalan tentang 'kita' bisa menjelma? Kendati tak satupun angan-angan yang terwujud, tak sekalipun keinginan untuk bersatu dapat terlaksana, tak sedikitpun pernah untaian kata mewakili segala
Kita adalah ketidaksabaran diatas sebuah ikatan ganjil. Sebuah gamang diatas ketidakpastian. Keangkuhan diatas segala egois yang tersirat, namun terbaca jelas dan tersurat.
Kita adalah ranjau yang saling melengkapi, mendamba ingin dan kata rindu, namun rancu dan penuh gusar. Seperti saat kau mengatakan bahwa aku yang kau ingin, seperti aku yang mengakui bahwa kau sungguh berbeda. Tapi tidak lebih dari seperti kita yang berkias kata tanpa kesungguhan rasa
Mungkin kau benar menginginkanku, sebatas kagummu akan aku. Mungkin aku benar mengatakan kau berbeda, sebatas hatiku yang menilai sanjunganmu. Baiklah, mungkin ini tidak dapat dikatakan 'sebatas' jika nyatanya kau dan aku benar-benar memaknainya.
Tapi, jika benarpun, apa yang kita dapat sejauh ini diluar luka dan rasa sesak didada?
Tidakkah menurutmu semua hanya keisengan yang menjelma nyata? Kekhilafan yang membawa sesal? Kepura-puraan yang terlanjur melibatkan perasaan?
Aku bodoh. Kau bodoh. Kita bodoh.
Bahkan awan kelabu yang kutatap tadi enggan menemani lagi. Mungkin ia tidak ingin berteman dengan seorang bodoh sepertiku, atau lebih memilih mencari tempat dimana kesatuannya berkumpul, lalu menyatu dan menumpahkan muatan berat yang menghimpit. Sungguh bahagianya ia jika memang seperti itu. Sementara aku dilema sendiri akan perihal kamu yang tak kunjung dapat kutemui
Sekarang hanya geming dari aku dan separuh putih dilangit cerah. Paling tidak ada satu yang akan mendengar segala resah dan kekalutanku--diluar abu-abu yang beranjak pergi
Oh, indahnya dirimu wahai putih yang berpendar separuh. Mungkinkah bagian dari sesalku juga menyaksikanmu? Barangkali dari pijakan bumi yang berbeda. Mungkinkah dia juga dilema seperti dilemaku akan dia? Atau malah sibuk mencari-cari kekaguman yang lain setelah aku tak terlihat lagi?
Perjalananku masih panjang, pencarianku masih dalam tahap perencanaan. Meski kakiku terus melangkah, tidak kupungkiri hatiku masih belum beranjak pergi. Entah apa yabg ia pikirkan disana. Mungkin sibuk bertanya mengapa diri begitu rapuh, mungkin sibuk mencari tahu mengapa sesal tak kunjung hilang. Atau kemungkinan terburuk, ia sedang menanti kepastian yang tak pasti. Masih perihal serpihan sesal dari ketidakpastian lampau kau dan aku.
Wahai dirimu yang putih diantara hitam, separuh diantara hamparan kelam.. Betapa panas rasa didada menanggung rindu seorang diri. Aku merindu dalam diam, kepada dia yang bahkan tak terpikir lagi apakah pernah merindukan aku.
Aku menyesali segala angkuh yang menguasaiku kala itu, mengalahkan rasa peduliku yang jauh lebih berharga. Tapi, apakah dia sudi untuk menyesali angkuhnya, teruntuk seseorang yang mungkin tak terpikir pernah ia beri perhatian berlebih dibanding dirinya?
Jika awan kelabu masih mengawang disini, kuharap ia sudi menumpahkan muatan dinginnya kepadaku. Dingin yang menjelma rintik-rintik yang kusambut suka cita. Mengalahkan hangat rintik-rintik dari kedua pelupuk mata.
Duri, 03/06/17
KAMU SEDANG MEMBACA
Nightthinker
Ficción GeneralRangkaian kata dari apa - apa yang tercipta dalam hening.
