"Hampir saja aku menyerah, tapi karena teringat janjiku padamu. Itu membuatku bisa bertahan sejauh ini, meski rasa sakit masih menghantui fisik ku." - Assyfa Valentina Putri
***
Paris, Perancis.
Dua minggu telah berlalu, selama itu juga Assyfa berada di rumah sakit terbesar yang ada di Paris. Sejak awal ia datang di negara ini, tiba - tiba kondisinya semakin memburuk. Waktu berada di dalam pesawat ia akan mulai meninggalkan tanah air tercinta, Assyfa sudah berniat ingin cepat - cepat mengabari sahabatnya. Namun baru saja ia menginjakan kaki di Paris, kesehatannya tidak stabil dan berakhirlah ia di rumah sakit ini. Sepuluh hari dalam keadaan koma, tante maupun om Assyfa sempat pasrah melihat kondisi Assyfa yang semakin memburuk. Bahkan orang tua Assyfa pun berniat akan menyusul Assyfa di Paris tapi niat itu mereka urungkan, karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan para sahabat anak semata wayangnya itu.
Gisca tante Assyfa tersenyum melihat kondisi Assyfa yang perlahan mulai membaik."Gimana keadaan mu sayang? Sudah mulai enakan? Atau masih ada yang sakit?" tanya Gisca sembari mengelus puncak kepala Assyfa
"Syfa baik - baik aja tan. Jangan khawatir ya." jawab Assyfa tersenyum tipis
"Yaudah kamu istirahat aja ya, tante mau keluar sebentar." ucap tante Assyfa
Assyfa mengangguk menanggapinya, Gisca berjalan mendekat kearah Assyfa dan mengecup singkat keningnya.
"Baik - baik ya sayang! Nanti tante pasti balik lagi kok." ucap Gisca lagi, lalu berjalan munuju pintu dan keluar ruangan.
Setelah Gisca sudah benar - benar keluar, Assyfa menghela nafas pelan. Assyfa mengambil ponselnya di nakas, lalu ia tersenyum melihat wallpaper yang ada di ponselnya.
"I miss you fa" ucap Assyfa lirih
"Maafin gue udah ingkar janji ke lo dan yang lain" ucapnya kembali
Setetes air mata mulai mengalir di pipi chubby Assyfa, nafas Assyfa mulai sedikit sesak mengingat kebersamaanya dengan ketiga sahabatnya. Belum lama Assyfa tinggal di Paris namun ia sudah merindukan ketiga sahabatnya itu. Jika mengingat mereka bertiga rasanya Assyfa ingin kembali saja ke Tanah Airnya.
"Ga gue gaboleh nyerah. Gue harus kuat, ini demi kesembuhan gue. Demi harapan gue untuk kedepannya juga. Tapi . ." belum selesai ia melanjutkan ucapannya, suaranya mulai tercekat.
Air mata Assyfa perlahan mulai mengalir dengan deras, Assyfa mengingat kembali ucapan dokter kepada tantenya satu hari setelah ia bangun dari komanya. Fikirannya mulai menerawang tentang segala kemungkinan yang akan terjadi dalam hidupnya kelak.
"Apa yang harus gue lakuin kalau seandainya yang di katakan dokter Reisa itu benar - benar terjadi. Dan kalau seandainya mereka bertiga tau tentang penyakit gue, gimana reaksi mereka nantinya?" batin Assyfa
Cklek
Assyfa buru - buru menghapus kasar air matanya setelah mendengar pintu ruangannya terbuka. Di ambang pintu ruangan itu sosok laki - laki yang seumuran dengan Assyfa, menatap Assyfa dengan senyuman yang merekah. Sosok yang tak lain adalah anak dari tantenya, yang bernama Reynard Aldan Lazuardi. Reynard berjalan menuju brangkar Assyfa dengan membawa sebucket bunga mawar, lalu ia duduk di kursi yang ada di sebelah brangkar Assyfa.

KAMU SEDANG MEMBACA
Antara Cinta dan Persahabatan
Teen Fiction"Maafin gue harus berpura -pura acuh tentang perasaan lo ke gue, bukan gue ga cinta sama lo. Tapi gue gamau suatu saat lo kembali sedih sama kepergian gue untuk yang kedua kalinya." - Asyyfa Valentina Putri "Lo satu - satunya alasan gue untuk bertah...