28

18.8K 1.8K 360
                                        

Istirahat dulu ya..capek kejar-kejaran terus 😄😄

Happy reading ya😘😘

🍁🍁🍁

"Jadi ngapain disini? Terus ini rumah siapa?" tanya Arumi, mereka sedang di gazebo taman belakang.

Eru bersandar pada papan kayu di belakangnya, Arumi duduk bersila di samping Eru menghadap laki-laki itu. Setelah drama bujuk membujuk akhirnya Arumi mau membatalkan niatnya pulang. Arumi juga sudah menelepon Rianti, kalau dirinya mungkin pulang telat.

"Nyusul orang minggat karena cemburu."

Arumi memutar tubuhnya lurus ke depan, mukanya merenggut, mulutnya mengerucut, matanya melirik sengit. Dia tahu siapa yang dimaksud laki-laki di sampingnya itu.

Eru memiringkan tubuhnya langsung mengecup lembut bibir Arumi, sebentar saja dirinya takut tidak bisa mengontrol gairahnya. Arumi memukul keras lengan Eru, sejak tadi dikit-dikit cium bibir. Memang bibirnya es krim yang harus dijilat terus agar lelehannya tidak jatuh, tidak ada puasnya!

"Udah dong nggak usah manyun gitu," Eru meraih tubuh Arumi kemudian mendekapnya erat, bibirnya terus menciumi puncak kepala Arumi.

"Bikin kesel terus sih. Udah aku pulang aja!" Arumi menjauhkan tubuhnya, ia melepaskan tangan Eru yang melingkari badannya. Matanya berkaca-kaca pasti sebentar lagi air matanya menetes. Entah kenapa ia jadi lebih sensitif sejak hatinya diliputi cemburu, layaknya induk ayam baru bertelur mood-nya naik turun.

"Jangan dong, nanti aja ya..ya.." rayu Eru, dia sudah mulai gusar saat mata Arumi berkaca-kaca

"Abis ngeledek terus! emang nggak boleh cemburu? nggak boleh marah? nggak boleh jengkel? Ya udah nggak jadi cinta aja!" Arumi sudah akan berdiri tapi ditahan laki-laki itu sampai terduduk kembali.

Eru duduk bersila di hadapan Arumi, ibu jarinya mengusap tetesan air mata perempuan itu, "eh? Kok malah nangis? Maaf ya aku keterlaluan ngeledeknya, janji deh nggak ledekin kamu, Honey."

Arumi masih saja terisak, Eru menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ternyata perempuan itu unik, dalam waktu singkat bisa nangis untuk keberapa kalinya. Hah! Kudu extra sabar, untung saja dirinya sudah biasa menghadapi sifat Arumi yang suka berubah-ubah. Eru juga sudah terbiasa meladeni sifat manja Lady, jadi sedikit banyak ia belajar cara-cara menangani perempuan.

"Udah dong nangisnya, boleh kok marah, cemburu, jengkel boleh kok, tapi cintanya tetep ya jangan dikasih yang lain," Eru menggapai tubuh Arumi menariknya masuk dekapannya. Dia seperti tidak pernah puas memeluk Arumi, dirinya sudah lama menunggu saat-saat ini.

Arumi mengangguk, tidak mengeluarkan kata-kata. Arumi juga heran, sebelum pria itu datang ia biasa saja hanya rindu yang ia rasakan. Tapi saat mereka berhadapan, rasa marah cemburu jengkel mengikis rindunya. Setelah menangis perasaannya lebih lega. Ia seperti orang tersesat yang akhirnya menemukan jalan pulang.

"Abang...Abang..." suara nyaring juga cempreng membuat Arumi kembali menatap bingung Eru. Laki-laki itu mengurai pelukannya, sebenarnya ia tidak rela tapi harus karena dia tak mau Lady melihat.

Siapa? Apa perempuan itu istrinya? Bagaimana mungkin Eru---

"Aww..." hidung Arumi dicubit sedikit keras oleh Eru.

"Buang pikiran negatif dari otakmu, Hon. Nggak seperti yang kamu pikir."

Perempuan muda dengan paras cantik lari ke arah mereka, senyum lebar tercetak jelas di bibirnya.Wanita itu naik ke gazebo memeluk erat Arumi. Arumi sempat ragu membalas pelukan wanita itu, alisnya bertemu apa yang harus ia lakukan. Eru seakan tahu pikiran Arumi mengangguk pelan, Arumi membalas pelukan Lady.

JODOH ARUMI (SUDAH TERBIT) REPOST Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang