Sampai dirumah, keadaan rumah masih sama seperti sebelumnya. Ibu ku di rumah sakit, ayahku di kantor. Aku menaiki tangga dan menuju kamarku kurebahkan tubuhku.sesaat kuingat sesuatu didlm tasku,ku ambil dan ku buka. Ku baca dengan seksama sehingga aku terlelap tanpa sadar.
Dddrrrttt dddrrrttt
"Halo hem"
"----"
"Baiklah, aku siap-siap dulu"
Setelah menerima telfon aku segera siap-siap dan menuju rumah sakit.
"Kim Arra, hai" "Eoh wo... Woojin? " ucapku terbata saat baru keluar rumah hendak mengunci pintu.
"Mau kemana? " "Ke.. Kerumah sakit" "Boleh aku ikut" "Eh boleh " "Baiklah "ucapnya senyum serasa berjalan berdampingan denganku menuju halte bus. Ah sebentar, apa aku menyetujui dia ikut bersama ku kerumah sakit, kenapa, kenapa aku ijinin si. Ah paboo.
"Arra, boleh aku tanya" "Eh boleh" jawabku sambil memandang luar jendela bus
"Kenapa kau membenci woojin"tanya nya membuatku terhenyak ,tidak kenapa dia tanya kenapa aku membenci woojin bukan kah dia itu woojin.
"Arra"teriaknya membuyarkan lamunan ku, aku segera menoleh ke arahnya dan menerjapkan mataku beberapa kali.
"Ka...karen... "
Kling Bus tiba di halte dekat rumah sakit, aku menggantungkan kalimatku dan segera berdiri. Dia mengikuti ku dari belakang..
Rumah sakit
"Eomma" panggil arra dan menghampiri ibunya yg sedang duduk di samping tempat tidur jaehwan.
"Arra, eomma akan ke pengadilan. Mengurus urusan perceraian eomma dan appa"
"Hah mak.....maksud eomma, eomma akan bercerai. Bagaimana bisa di keadaan kak jae eomma dan appa egois" arra terisak dan segera berlari keluar ruangan jaehwan, ibu arra menangis tersedu dan hendak mengejarnya namun suara seseorang menghentikan niatnya.
"Tante, biar saya yg ngomong dengan arra. Tante disini aja" ya itu suara seseorang yang sejak tadi dengan arra,dia menyaksikan semua pembicaraan arra dan ibunya.
-----
"Akhirnya aku menemukanmu" arra tersedu dengan rambut menutupi wajah akibat tiupan angin kencang di atas gedung.
"Tidak,jangan mendekat,jangan melihatku,aku kacau atas semua yang terjadi pada keluarga ku. Aku hiks aku sudah tidak sanggup,aku hiks ak...." tanpa memperdulikan larangan arra tuk mendekatinya,woojin berlari menuju arra dan segera memeluknya,kini arra terisak dalam dekapan woojin.
5 menit
10 menit kemudian Arra berhenti menangis, namun masih sesenggukkan. Arra malu menatap woojin namun woojin tersenyum melihat tingkah arra.
"Apa yang kau lakukan disini, kau melihat semuanya aku malu"
"Tidak perlu malu, aku temanmu. Mari kita ke kamar kak jae, ibu mu akan terlambat nanti" ajak woojin berdiri dan mengulurkan tangannya, namun tak segera di sambut oleh arra. Kemudian woojin tersenyum, dengam ragu arra menerima d an berdiri.
"Hadapi semuanya arra, jangan kau hindari. Jika kau menyerah dan menghindar, kau akan kecewa nantinya" arra tersenyum dan berjalan menuju kamar jaehwan.
Arra dan woojin berada di kamar jaehwan, jaehwan masih tertidur akibat pengaruh obat. Woojin memainkan handphonenya sedangkan arra tertidur duduk dengan kepala di tempat tidur jaehwan.
Dengan inisiatif woojin melepas jaket merah kesayangannya dan menyelimuti punggung arra.
 A
nggap aja ini jaket nya 😂
"Arra"suara serak ala orang bangun tidur.
"Emm bang jae,udah bangun. Bang jae mau minum? " "Tidak, aku mau ke toilet sakit perut" "Ah baiklah" arra berdiri dan langsung membantu jaehwan menunggu di luar kamar mandi. Tiba-tiba mata arra tertuju pada jaket yang berada di lantai.
"Eoh ini milik woojin, kemana dia" arra mengeluarkan hp dari dalam saku celananya, dan akan menghubungi seseorang.
"Ah iya aku tidak punya no nya, ya sudahlah senin nanti aku kembalikan"
"Arra" panggil jaehwan. "Eoh sudah kak? " "Iya" arra membantu jaehwan menuju ranjang pembaringan pasien. Arra sibuk menyelimuti jaehwan, jaehwan hanya melihat kasihan.
"Arra" "Hem" "Maafkan kakak" ucap jaehwan dengan ekspresi menyesal.
"Sudahlah kak, semua sudah terjadi" "Tapi ra, gara-gara kakak eomma appa... Hiks hiks" arra duduk di samping jaehwan, dan memegang tangannya erat.
"Ini bukan salah kakak, ini memang sudah takdir kita. Jadi kita hadapi semua dengan ikhlas" arra tersenyum sesekali air mata menetes.
Di sekolah
"Eunsang" "Eh arra sini duduk aku mau nanya? " "Eh bentar, aku nyari woojin. Mana dia? " "Eoh tumben, wah pdkt ya haha" "Eh enggak lah, ada bisnis" "Bisnis apa? Cinta?" ledek eunsang,arra hanya memukul pundak eunsang pelan. Dan matanya tertuju pada seseorang yang baru memasuki kelas.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Woojin" "Ni makasih" ucap arra sambil meletakkan jaket dimeja woojin,tanpa disadari semua mata dikelas sedang tertuju pada keduanya. Arra yang dikenal sangat benci dengan woojin kok jadi akrab kan heran ditambah lagi si arra ngembalikan jaket woojin.
"Sama-sama, gimana kak jae? " "Udah mendingan" jawab arra tersenyum.
"Ccciiiyyeeee" sorakkan teman sekelas mereka menyadarkan mereka, sesegera mungkin arra kembali ketempat duduk dan segera buka buku dengan pipi merona....