k ; call

73 13 0
                                    

"Park Jimin, Park Yein. Kalian tidak bisa menikah, marga kalian sama" Apa katanya? Menyebalkan!


"Ya! Song-Song Couple bisa menikah" Sanggahku.


Ku dengar ia terkekeh, mungkin matanya berbentuk sabit saat ini.


"Terkecuali mereka! Kau dan Jimin tetap tidak bisa"

"Terserah padamu, Tuan Kim" Jawabku dengan mendengus halus.


Hening, ku putuskan berbaring menatap langit kamarku yang penuh dengan origami burung yang digantung. Sejenak berpikir tentang beberapa hal yang tidak begitu penting.

"Yein, kau tak merindukanku?" Ucapnya tiba-tiba, tentu menghilangkan lamunanku. Belum ku menjawab, ku dengar ia menghela napas.

Senyumku mengembang, mengingat sudah lama tak membahas ini, "Jangan membahasnya" tuturku lembut.


Tak ada jawaban darinya, hanya beberapa kata keluhan. Ku tebak, ia sedang menangis sekarang. Kim memiliki hati yang lembut, seingatku.

Suaranya mulai seimbang, "Maaf.."  Lirihnya.

"Jangan katakan." Sanggahku, terlambat namun itu pesanku beberapa kali setiap membahas ini.


"Kau harus percaya, aku akan kembali" yakinnya, dengan penuh tekanan disetiap untaian kata.

Omong kosong, itu yang baru saja ku dengar, "Kututup, sampai jumpa" ujarku.

°°°


Entah percaya atau tidak, ia sepupuku 'katanya'. Akupun ragu dengan itu, namun dengan kalimat itu aku percaya. Saat ini aku masih mempunyai orang yang peduli denganku, tak peduli dia berbohong atau tidak.

Kim menjadi bagian terpenting dalam hidupku, ia salah satu alasanku untuk melangkah lebih jauh dari pada saat ini.


°°°

/to·be·continue/

Meine Augen ; pjmTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang