Wen Li Qiu, gadis berusia 18 tahun yang tinggal bersama nenek angkatnya sejak ia kecil dan membuat sebuah usaha toko bunga. Julukannya adalah matahari berjalan, bercahaya dan mencahayai namun hanya sepintas.
Bahagia dalam keadaan yang menurutnya cu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dua bulan kemudian ....
"Wahhh, Li Qiu. Lihat ini. Buah ini terlihat sangat enak," panggil Fei pada Li Qiu.
Saat ini mereka berdua sedang berada di pasar untuk mengisi kebutuhan pokok. Keduanya terlihat begitu menikmati suasana pasar yang ramai di mana begitu banyak dagangan yang menggiurkan.
"Paman, kami beli 2 kantung buah ini, ya." Sembari menyodorkan uang Li Qiu menerima kantung berisi buah berwarna orange kehijauan itu.
"Pasti enak sekali," seru Fei membuat Li Qiu tersenyum menanggapi.
"Bukankah ini pengumuman dari istana?"
"Wahh, lihat-lihat lowongan pekerjaan."
"Sepertinya aku akan melamar."
"Ini kesempatan yang bagus!"
Mendengar orang-orang berbicara di depan papan pengumuman membuat Li Qiu dan Fei menoleh dengan raut penasaran. Orang-orang beramai-ramai berkumpul di sana sambil berbicara mengenai pekerjaan di istana.
"Mau lihat?" Tawar Fei pada Li Qiu.
"Ayo."
Li Qiu dan Fei mendatangi orang-orang yang berkerumun itu dan melihat sebuah pengumuman dengan stempel istana tertera di kertas tersebut.
"Wahh, menjadi sekertaris istana? Pasti bagus sekali," seru Fei.
"Kau ingin mendaftar?" Tanya Li Qiu.
"Ah, tidak ... Tidak. Lagipula aku tidak pandai membaca dan menulis. Mana mungkin bisa lolos," ujar Fei.
"Hal itu bisa dipelajari. Aku akan mengajarimu jika kau mau. Lagi pula pendaftarannya cukup panjang. Ada waktu." Tawaran Li Qiu membuat senyuman pasrah tertera di wajah Fei.
"Terima kasih atas tawarannya. Tapi, aku tetap tidak akan mampu. Kau tahu, menjadi sekertaris di istana juga tidak hanya bisa menulis dan membaca. Tapi, memiliki tulisan yang indah dan pemahaman yang bagus juga yang utama," ungkap Fei menyerah. "Seharusnya yang mendaftar itu kau!" Lanjutnya.