"Kamu nggak apa-apa kan, Ram?"
"Ini udah lima kalinya kamu bertanya. Aku baik-baik sa–" suara Rama terputus, dia menghembuskan napas panjang.
Sejenak lengang.
"Ram, kita udah enam tahun saling kenal. Sejak SMP kita selalu ikut organisasi yang sama. Aku mengerti dengan jelas mana wajah Rama yang baik-baik saja dan yang sedang kepikiran sesuatu. Kamu mungkin bisa menyembunyikannya dari orang lain tapi tidak dariku. Ayolah Ram, ceritalah. Tak biasanya kau selalu mengalihkan pembicaraan saat aku bertanya keadaanmu. Berarti ini masalah serius."
"Nuri, kau memang hebat. Bisa dibilang kau cewek yang paling mengerti aku setelah ibuku."
"Jadi ada apa? Jangan seenaknya mengganti topik pembicaraan!"
Kali ini Nia benar-benar telah menghentikan acara memilah buku dan menunggu Rama.
Dia seratus persen menguping sekarang.
"Aku sudah kalah, Nur. Aku sudah gagal."
"Kalah? Kalah apa? Dari siapa? Kamu ikut taruhan?"
"Enggak. Aku sudah kalah dari orang-orang yang selama ini aku hina, aku ejek, aku rendahkan. Sekarang mereka sudah berhasil membuktikannya. Mereka berhasil membuktikan kalau omonganku salah dan separuh jalan menggapai impian mereka. Aku malu! Aku iri! Dulu, aku yang setiap hari selalu mengejek dan menyebut mereka pemimpi malah termakan omonganku sendiri. Lihatlah aku, Nuri! Aku. Orang yang telah menyerah untuk mewujudkan mimpinya menjadi ahli komputer malah pasrah terlempar ke peternakan. Aku sudah gagal!" kalimat terakhir Rama diiringi dengan gebrakan tangannya ke meja membuat Nia ikut terkaget.
"Jadi begitu. Yaudahlah Ram. Pilihanmu enggak buruk juga kok. Siapa tahu nasibmu lebih baik dengan pilihanmu yang sekarang ini," Nuri berusaha menghibur.
"Lagipula, siapa saja mereka?" tambahnya.
"Teman sebangkuku yang aneh, sok indigo dan selalu kusuruh jadi peramal saja, sekarang dia sudah jadi mahasiswa teknik sipil UDM. Dia jadi calon kontraktor, Mono. Kedua, cewek yang selalu kuolok-olok karena nilai biologinya jelek padahal dia mau jadi dokter dan lihat dia sekarang, dia lolos seleksi menjadi mahasiswa kedokteran UDM, Nia. Aku sudah gagal. Nuri! Aku kualat! Dua orang yang aku remehkan telah hampir berhasil mewujudkan impian mereka."
Rama berhenti sejenak untuk bernapas.
"Kemarin begitu mendengar mereka berhasil lolos, aku langsung bingung, mau aku taruh mana mukaku? Aku tak berani menatap wajah mereka. Apa yang akan mereka katakan padaku yang dulu selalu mengejek dan sekarang telah gagal? Sebenarnya aku tidak ingin datang cap tiga jari hari ini. Aku malu. Aku malu jika bertemu dengan mereka dan mereka tertawa-tawa balas mengejekku. Tapi aku memberanikan diri, dengan semua rasa malu yang terlihat jelas di wajahku, aku menyelamati mereka."
Nuri tetap mendengarkan dengan sabar begitu juga Nia.
"Aku tak tahu lagi Nur, besok ketika aku bertemu mereka di kampus. Apakah aku akan berani menatap mereka yang jauh di atasku. Mungkin sekarang mereka berdua sedang menertawaiku atas kegagalanku ini. Sudahlah aku telah pasrah. Akulah orang yang sudah gagal."
Nuri mulai merespon.
"Hei, mana Rama yang kata orang selalu ceria dan bersikap positif? Sejujurnya aku tidak suka dengan mereka berdua karena telah membuatmu seperti ini. Ayolah, Ram. Bersikaplah seperti biasanya. Tuhan telah memberikan garis takdir pada masing-masing makhlukNya dan kau wajib mempercayai itu. Mereka ya mereka. Kamu ya kamu. Soal siapa yang lebih sukses nanti itu tergantung dari usaha kita selama empat tahun kuliah. Kalau menurutku inilah waktu yang tepat untuk mulai membuktikan pada mereka bahwa kau bisa sukses walau hanya di Fakultas Peternakan. Kau mau kan janji pada dirimu sendiri untuk tidak akan seperti ini lagi?"
Rama menjawab,
"Thanks, ya Nuri. Kamu memang selalu pandai menghiburku. Tidak sia-sialah kita berteman sejak SMP."
"Well, kuharap tidak hanya sebatas teman saja."
"Hah? Apa maksudmu?" nada Rama terdengar kebingungan.
"Mungkin ini bukan waktu yang tepat. Rama, sebelum aku keduluan cewek lain, aku ingin bilang kalau ... Kalau semakin lama kita berteman, semakin besar perasaan sukaku padamu. Aku hanya ingin kau tahu saja agar tidak terjadi salah paham nantinya."
"Terima kasih, Nuri. Sebenarnya aku juga ..."
Di bagian ini Nia tidak ingin menguping lebih lanjut dan memutuskan untuk pergi. Dari hasil mencuri dengar tadi setidaknya Nia mendapatkan beberapa penjelasan. Saat keluar Nia bertemu dengan Mono yang juga hendak mengembalikan buku.
"Sepertinya kau terlihat telah menguak sesuatu," kata Mono menyelidik.
"Justru aku sedang mencarimu. Ini, aku ingin memberikan ini sebagai ucapan terima kasih. Terima kasih telah mengajariku dan membantuku selama ini."
"Kau yakin memberikannya pada orang yang benar? Jika memang untukku kenapa tak kau berikan saat di kelas tadi?"
"Sudahlah, yang penting sudah aku berikan. Aku duluan, ya."
Sudahlah. Lagian ini juga sudah berakhir. Rama bukanlah miliknya. Dia milik siapa pun yang anak itu ingin memilikinya dan sudah tentu bukan Nia orangnya. Biarlah ini menjadi sekelumit memori yang menghiasi masa SMAnya.
Dia mengerjapkan mata berkali-kali agar tak banyak kesedihan yang terlihat di raut wajahnya.
Bodohnya, sudah jelas kebersamaan yang lama akan mengalahkan semuanya. Kenapa dia harus merasa iri pada Nuri?
Gadis itu telah memiliki lebih banyak kenangan bersama Rama. Nia kalah telak. Kehidupan baru telah menunggu Nia.
Dia siap menghadapi masa depannya.
Tbc

KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Milikku
Подростковая литератураNia. Seorang cewek yang duduk di bangku kelas tiga SMA yang tidak sampai tiga bulan lagi dia dan teman-temannya akan menempuh ujian nasional. Seperti anak-anak yang lain, di tahun terakhirnya belajar di SMA Nia juga mempunyai impian,Cita-cita dan Tu...