Detik, menit waktu terus berjalan
Seperti kaki ini tetap terus berjalan
Mengikuti arah jalanan
Di mana sebagai tujuanSebuah lantunan musik kudengarkan
Seraya tetap berjalan
Melintasi stasiun aku lewatkan
Seraya tetap berjalan
Aku melihat aku dan kamu bersamaan
Menunggu kereta arah pulang dalam perjalanan
Seraya waktu tetap berjalan
Aku di sana dengan dirimu mengukir candaan
Tawa terlahirkan di antara senda gurau kita lakukan
Dan aku di sini, melihat itu merupakan kenangan
Entah mengapa tak terlupakanSeraya tetap berjalan
Menyusuri jalanan
Angkasa telah menampakkan kelabuan
Petanda akan hujan
Rintik telah turun memeluk permukaan
Tidak lagi tetap berjalan
Aku berlari mencari tempat peneduhan
Di dekat jalananAku memandang dari kejauhan
Rintikan hujan menghantam permukaan
Melantunkan lirih rintihan hujan
Daun berjatuhan bersama rintikan
Setiap rintik membawa kenangan
Telah kuperkirakan
Rintikan telah jatuh sebanyak jutaan
Kenangan aku dengan dirinya di bawah hujan
Seraya meneduh di bawah pisang dedaunan
Berjalan menyusuri hujan serta berlarian
Dan kini air mata telah diwakilkan
Oleh rintik rintih hujanAku tenggelam dalam kenangan
Bagai aku hidup dalam dua dunia sekalian
Kenyataan serta kenangan
Dimana tak jarang aku temukan
Keduanya nyaru tak tampak akan perbedaan
Mana kenangan
Mana kenyataan
Ini semua ilusi menyakitkan

KAMU SEDANG MEMBACA
Ukiran Rasa
PuisiSebuah rasa dalam perasaan yang terukir dalam segala rasa sedari duka hingga bahagia pun ada. Namun duka merana mengarungi hampir segala waktu rasa karena hati ini, rapuh serta merana.