"Bagaimana, Rania?"
Tiga orang itu sekarang sedang menunggu jawaban gadis yang sedang berdiri di depan lemari lab yang berisi beberapa jas. Raut Wajahnya terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu.
Tadinya ia nampak bingung, mengapa pada saat jam pelajaran, namanya dipanggil. Memperintahkan dirinya untuk segera turun ke lab biologi.
Jika ia menerima tawaran itu, hari-harinya pasti akan bertambah sibuk.
Jika menolak, mungkin dirinya akan kehilangan kesempatan. Karena tidak mungkin mengikuti ajang itu tahun depan, sebab kelas dua belas tidak boleh mengikutinya.
Rania menatap wajah anak-anak yang sudah mengikuti pelatihan itu sejak 2 bulan yang lalu.
Hanya tiga orang untuk tiap satu bidang. Jika dirinya setuju, maka ia akan termasuk ketiga orang itu.
Seorang anak laki-laki di seberangnya yang sedang duduk mengangguk dan tersenyum, meyakinkan dirinya.
Sementara anak perempuan yang berada di sebelah laki-laki itu sebaliknya, memasang wajah masam. Tidak terima gadis itu akan berada dalam timnya.
Akhirnya Rania mengangguk, "Saya setuju, Pak."
Mendengar keputusan muridnya yang setuju, guru itu tersenyum.
"Baik. Mulai sekarang, tim biologi sudah pas."
"Ada Raka, Inggrid, dan Rania. Betul, kan?"
"Iya, pak," Laki-laki yang tadi meyakinkan itu sekarang nampak bersemangat.
"Sekian untuk pertemuan kali ini. Kalian sekarang bisa kembali ke kelas masing-masing." Guru laki-laki separuh baya itu bangkit dari kursinya, membubarkan pertemuan. Membuat ketiga anak itu bergegas keluar dari lab.
"Enggak nyangka ya, lo yang awalnya gue ajarin malah ikut OSN juga," Ucap laki-laki yang sejak tadi terlihat senang ketika Rania menyetujui untuk bergabung, ia berjalan di sebelahnya.
Rania hanya mengangguk. Tersenyum dengan sangat tipis.
"Oh ya, ini Inggrid."
Laki-laki itu nampak baru teringat sesuatu, ia menoleh ke arah belakang, tepatnya kepada seorang perempuan yang sejak tadi seperti tidak menyukai kehadiran Rania.
Mau tidak mau, Rania menghentikan langkahnya, menghadap ke belakang. Sementara itu, Inggrid sekarang berdiri di hadapan Rania.
"Inggrid, XI MIPA-1."
Ia tersenyum, walau terlihat dipaksakan.
"Rania, XI MIPA-3."
"Lo anak pindahan beberapa bulan yang lalu, kan?" Tanya Inggrid menyelidik.
"Iya."
"Betul. Rania itu orang yang gue ajarin. ehm... satu minggu doang, karena emang dia pintar," Raka menjelaskan, bagaimana ia bisa mengenali gadis yang sejak dulu sama, tetap pendiam dan irit bicara.
Inggrid hanya manggut-manggut.
'Jadi ini, orang yang udah ngambil sesuatu darinya.'
❄️❄️❄️
"Anak itu niat untuk datang atau enggak, sih?"
"Mentang-mentang dia lebih pintar, jadi menghina gue."
Reihan meracau sendiri, ia kembali melihat jam dari ponselnya. Sudah dua puluh menit ia duduk sendirian di sana seperti orang yang jomblo, ya memang benar sih.
Ia menatap sekelilingnya, bahkan pengunjung perpustakaan ini sudah berbeda dengan yang tadi saat ia datang. Ya karena, ia memang sudah cukup lama menunggu di sana.
Dari kejauhan, ia melihat seorang laki-laki yang sebaya dengannya sedang berjalan menuju arahnya. Ia tidak mengenali laki-laki itu. Langkah laki-laki itu semakin dekat.
"Jadi lo yang namanya Reihan?"
Laki-laki berkaos hitam itu menyapa, menepuk pelan bahu Reihan, sifat ramahnya muncul.
Reihan menatap dengan bingung.
Laki-laki itu tertawa, "Gue Raka, satu sekolah dengan lo juga."
Reihan hanya mengangguk, sebenarnya ia masih belum sepenuhnya mengerti.
"Lo nunggu Rania, kan? Dia lagi di supermarket seberang. Bawa sesuatu buat lo, katanya enggak enak karena lo pasti udah nunggu lama," Raka seperti bisa membaca isi pikiran Reihan.
Reihan termenung mendengarnya, ternyata perempuan itu punya hati nurani juga.
"Lo jangan kesal atau marah dengan dia, ya? Rania dan gue baru pulang dari rumah Pak Eko, latihan untuk persiapan OSN."
"Lo pasti kebayang, kan? Mumet dan capeknya dia," Tambah Raka lagi, sekarang ia sudah duduk di hadapan Reihan.
Ia sekarang mengerti, kenapa tiba-tiba 'Raka yang sksd' ini menghampirinya.
Reihan yang sejak tadi memaki gadis itu, merasa bersalah. Ingin sekali menarik kata-katanya itu.
Dan benar. Tidak berapa lama, gadis yang mengenakan kemeja army itu datang, membawa sekantong plastik yang berisi makanan dan minuman yang tadi ia beli.
Langkahnya terlihat gontai. Ia duduk di sebelah Raka. Mengeluarkan isi kantong plastik itu di atas meja.
Seperti biasa, ia memberi catatan sebagai bahan bacaan untuk Reihan lagi. Catatan baru.
Reihan menatap wajah Rania.
Wajah itu nampak sedikit pucat. Mungkin kelelahan.
"Apa yang nggak lo pahami?" Rania bertanya.
Reihan yang ketahuan sedang memperhatikan wajahnya yang sedang pucat itu, langsung kembali membaca buku catatan.
Reihan tidak bergeming.
Ingin sekali ia menyuruh gadis itu untuk segera pulang. Lebih baik bagi gadis itu untuk beristirahat.
Namun lagi-lagi, karena rasa gengsinya yang tinggi. Mengalahkan rasa iba kepada gadis itu.
Mulutnya tercekat, seperti ditahan oleh sesuatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lost Souls
Roman pour AdolescentsApakah jiwa dan raga dapat dipisahkan? Selain disebabkan oleh kematian. Jika jawabannya iya, Apakah, Ketika sang jiwa hilang, Yang entah pergi kemana... Kamu tahu cara menghidupkannya kembali? Ya. Dengan mengembalikan jiwa itu seperti semula. Raga h...
