Part 1

51 1 0
                                        

2 tahun sudah terlewati tanpa kehadirannya dan selama itu pula aku terus mencoba untuk lepas dari bayang-bayang dirinya.

Tapi......, entah kenapa setiap kali aku mencobanya kau selalu hadir di setiap mimpi-mimpiku ini.

“Bangun sayang,” kata nya terdengar lembut membangunkan diriku yang tertidur di pangkuannya.

“Hmm,” aku mengeliat terbangun dan seketika itu aku melihat dirinya tengah memandang diriku ini.

“Yank,” lirihnya sambil tersenyum padaku.

“Iya yank,” jawabku sambil membalas tatapannya dan,

“Woi Zal bengong ajha lu,” kata seseorang yang menyadarkan diriku yang tengah melamun.

“Masih keinget dia ya lu,” katanya yang tak lain adalah Febriyani Ayu Safitri (23tahun) sambil ia menarik sebuah kursi dan menaruhnya tepat disamping ditempatku berada.

“Gak,” jawabku singkat dengan terdengar sedikit jutek padanya.

“Alah bohong lu gue nih temen lu dari SMA,Kuliah,dan sampai kita kerja bareng jadi gue tahu sifat lu itu,” katanya tajam lansung mengena padaku.

Iya Ayu adalah teman lamaku sejak masa-masa kita SMA dulu bahkan kuliah pun kita satu kampus dan sampai akhirnya kami berkeja pun tetap bertemu lagi. Dan itulah membuat Ayu mengenal baik semua sifatku dan karakter ku juga.

“Hmm,dah selesai kan ngomongnya gue pergi dulu mau ngopi diluar,” kataku  sambil berdiri dari meja kerja ku. Aku tak mau makin tersudut dengan ucapan yang dikeluarkan Ayu.

“Eh, tunggu dulu Zal....,” katanya sambil menahan tanganku dan menarik ku untuk duduk.

“Ayo lah mana nih Erizal yang selalu gue kenal ceria dulu. Masa gara-gara putus dari pacar lu jadi buat lu kaya gini Zal! Nih udah 2 tahun loh move on dong!” kata Ayu yang sedikit terasa menyindirku.

“Ini bukan urusan lu Yu!” kataku sedikit membentaknya.

“Bukan urusan gue gimana! Lu tuh temen gue Zal! Gue gak mau lihat lu kaya gini!”

  Aku hanya terdiam tak menanggapinya,

“Lu tahu Zal ternyata lu egois dan keras kepala!” kata Ayu sambil menantap tajam ke arahku.

  “Maksud lu?” tanyaku sambil memincingkan mataku sambil melihatnya.

  “Bodo, pikir ajha sendiri ! Gue malas ngomong sama orang yang susah di nasihati berulang-ulang!” katanya ketus sambil bangkit berdiri dari kursinya.

  “Mau kemana Yu?” tanyaku.

  “ Ke kantin!” jawabnya sambil beranjak pergi.

  “Egois? Keras kepala?” bathinku bertanya-tanya dengan ucapa Ayu barusan.

Sejenak aku masih memikirkan perkataan yang terlontar dari mulut Ayu barusan. “Ah, sudah lah ngapain juga aku mikirinnya!”, kataku yang memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi dan lansung beranjak pergi menunju ke tempat warung yang sudah menjadi langgananku.

“Bu White coffe satu ya,” kataku memesan pada bu Santi pemilik warung yang menjadi langgananku setiap hari.

“Ya mas Rizal. Tumben siang-siang gini baru kesini?” tanya bu Santi sambil menyiapkan kopi pesananku.

“Iya bu lagi banyak kerjaan dikantor,” keluhku sambil menghidupkan sebatang rokok Malrboro Merah yang telah ku ambil sebelumnya.

“Walah mas dah nih kopinya biar santai ajha,” kata bu Santi sambil memberikan kopi pesananku.

My Last LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang