2.Lamaran Untuk Si Bungsu

6.9K 1K 31
                                        

I'll search the universe
neol dasi chajeul ttaekkaji
nohji anheul geoya tikkeul gateun gieokdo
gyejeore saegyeojin uriui chueogeun dasi
myeot beonigo dorawa neol bureul tenikka

(EXO-Universe)

Gadis berkrudung baby blue itu menggerak-gerakan kepalanya menikmati musik. Sementra telinganya mendengarkan musik, tangan gadis itu sibuk menghitung uang untuk gaji para pegawai pabrik. Ada sekitar 60 orang yang bekerja di pabrik milik keluarganya itu. Para pekerja yang didominasi oleh ibu-ibu itu, mendapatkan gaji mereka perminggu. Tugas Meidinalah menyiapkan gaji-gaji untuk mereka karena abahnya tidak mau menghitung uangnya sendiri dengan alasan takur kalibur (salah hitung) katanya.

Panggilan masuk ke ponsel pintarnya mengganggu keasyikan gadis itu mendengarkan musik. Meidina mengangkat ponselnya itu dan mencibir melihat nama ibunya yang tertera di layar. Jarak rumah dan pabrik hanya berjarak 5 meter, kenapa juga ibunya memilih menelpon daripada berteriak memanggil namanya.

"Assalamualaikum ibuku yang cantik..." sapa Meidina.

"Waalaikum salam, kamu sedang apa Mei?" tanya ibu disebrang telepon.

"Menghitung dunia bu." jawab Meidina.

"Jangan bercanda, ibu sedang serius..."

"Mei gak bercanda bu, Mei emang lagi ngitung dunia alias duit." ucap Meidina sambil terkekeh.

"Kamu ini, masih lama gak?"

"Sebentar lagi mungkin." jawab Meidina tidak yakin.

"Kalau sudah selesai cepat yah, ibu mau minta kamu anterin ibu."

"Anter kemana bu?" tanya Meidina heran karena tidak biasanya sang ibu memintanya untuk mengantar ibunya.

"Ketemu temen ibu, abis itu belanja."  jawab ibu.

"Tumben minta anter sama Mei."

"Ah udah cepet selesaikan pekerjaanmu dan segera pulang ke rumah." ucap ibu seraya menutup telepon.

Meidina hanya menggelengkan kepala akan sikap ibunya, dia menganggap ibunya kurang seru jika diajak mengobrol. Tapi meskipun ibunya mesin pengomel, dia tetap menyayangi ibunya itu. Meidina menyelesaikan pekerjaannya, tinggal 10 amplop yang belum dia isi dan dia secepatnya mengisi amplop-amplop itu. Menyimpannya di laci meja kerja milik ayahnya dan mengkuncinya. Meidina menyimpan kunci ditempat rahasianya yang hanya diketahui olehnya dan abah. Bukannya dia dan abahnya tidak percaya pada para pekerja hanya saja bila menyangkut uang banyak kadang orang suka khilaf bukan.

Meidina meninggalkan post it untuk ayahnya, karena dia tidak mungkin menghubungi ayahnya yang sedang berada dikebun. Ayahnya itu tipe bapak-bapak gaptek yang hanya bisa menggunakan ponsel untuk menelpon saja, dan pria paruh baya itu juga lebih sering meninggalkan ponselnya di kamar daripada membawanya.

Meidina segera meluncur kerumahnya sebelum omelan ibunya yang mirip rentetan petasan itu meledak. Sebelum keluar pabrik dia menyempatkan diri untuk berpamitan pada para pegawainya
Benar saja Nyonya Sita sudah siap dengan hijab Syari cantiknya ketika Meidina sampai ke rumahnya. Beruntung ibunya sedang dalam mood bagus sepertinya sehingga omelan ibunya tidak keluar ketika Meidina dengan cengiran khasnya mendekat kearah sang ibu.

"Gak usah nyengir, ganti baju sana!" perintah ibunya.

"Kenapa mesti ganti baju segala?" tanya Meidina heran, dia memakai celana jogger berwarna baby blue yang serasi dengan hijabnya dan juga kaos sweater berwarna putih. Dia tidak merasa ada yang salah dengan dandanannya. Mereka hanya akan pergi belanjakan, bukan ke kondangan.

MEIDINA (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang