"AINUN..." teriakan seorang pria menggelegar dipagi hari diikuti oleh tawa meledak seorang wanita.
Bapak Hamdan selaku kepala keluarga dirumah itu, seolah terbiasa dengan suasana pagi seperti pagi ini. Pria yang memasuki usia akhir kepala 5 itu itu terlihat asyik menikmati kopi hitam dengan sepiring pisang goreng yang di sediakan oleh istrinya tercinta itu sambil membaca koran. Berbeda dengan sang kepala keluarga, permaisuri dirumah itu langsung memuntahkan omelannya ketika melihat untuk kesekian kalinya anak-anaknya ribut dipagi hari. Wanita paruh baya yang konon katanya dulu lebih cantik dari BCL itu terus saja mengomeli anak-anaknya yang masih saja bersikap kekanakan meskipun mereka sudah dewasa.
"AINUN..." teriak Tantra, anak tertua dikeluarga itu pada adiknya yang usianya 7 tahun lebih muda darinya. Tantra tahu adiknya tidak suka dipanggil dengan nama Ainun karena nama itu sama dengan nama pemilik kedai gado-gado yang berbadan semok di ujung jalan. Jadi ketika kesal maka nama Ainun lah yang akan dia sebut ketika memanggil adiknya.
Tantra Al hakim, pria berusia akhir 20an memasuki 30an itu sangat kesal karena kelakuan adiknya yang membangunkannya dengan cara mencabut bulu kakinya. Meidina Ainun sang adik itu terlihat berlindung dibelakang tubuh tambun sang ayah ketika Tantra mendekatinya dengan wajah kesal yang terpatri di muka bantalnya.
"Abah, liat si Aa kejar-kejar Mei..." ucap Meidina mengadu pada sang ayah.
"Tantra sudah, harusnya kamu berterima kasih pada adikmu kalau tidak ada adikmu mungkin kamu akan kesiangan sekarang. Makanya jangan dibiasakan tidur setelah sholat subuh gak baik itu." nasihat abah.
Meidina memeletkan lidahnya pada Tantra mendengar nasihat abahnya sedangkan Tantra hanya manyun saja. Sebenarnya Tantra dan Meidina itu sangat dekat sejak kecil, bahkan meskipun usia mereka berjarak cukup jauh tapi mereka seperti anak kembar yang kemana-mana selalu bersama. Hanya saja namanya juga saudara yah begitulah tidak selamanya akur karena terkadang ada masanya mereka saling berselisih karena hal sepele.
"Tantra baru tidur jam 2 malam bah, makanya tidur lagi setelah sholat subuh. Lagian si Mei juga masa iya bangunin Tantra pake cabut bulu kaki segala." ucap Tantra beralasan. Sebenarnya pria itu tahu adiknya memilih mencabut bulu kakinya karena memang dia pasti sangat susah untuk dibangunkan.
"Makanya cari istri, jadi ada yang bangunin kamu dengan cara halus." ucap ibu ikut nimbrung sekaligus curcol ala mama minta mantu pada putra sulungnya. Seperti ibu-ibu kebanyakan ibu Sita juga sangat ingin anak sulungnya segera berumah tangga apalagi mengingat usia anaknya juga sudah cukup umur. Dia juga ingin memamerkan cucunya seperti apa yang teman-temanya lakukan.
"Ibu..." rengek Tantra pada ibunya karena kembali ibunya membahas hal yang tidak dia sukai.
"Tuh benar kata ibu..." ucap Meidina menimpali membuat kakaknya itu semakin kesal, dan memberikan pelototan pada adiknya.
"Kamu juga Mei, ibu seusia kamu udah nikah sama abahmu, lah kamu habis lulus bukannya cari kerja atau nggak cari jodoh malah ngedon aja dikamar sama laptopmu itu. Lama-lama ibu bakar tuh poster-poster cowok cantik yang mejeng dikamarmu." omel ibu Sita pada putri keduanya.
"Mei udah kerja bu jadi manager keuangan di pabrik, iya kan bah?" bantah Meidina dan meminta dukungan abahnya.
Abah mengangguk mengiyakan ucapan putrinya karena memang benar Sejak putrinya lulus 6 bulan lalu, Meidina menjadi pengurus keuangan di pabrik krupuk dan kripik turun temurun milik keluarganya. Awalnya dia meminta bantuan anaknya itu saat pekerja yang mengurus bagian keuangan cuti melahirkan. Karena karyawan itu memutuskan untuk resign setalah dia melahirkan jadilah Meidina dia angkat menjadi karyawannya. Kebetulan juga hanya putri keduanya itu yang memilih menjadi sarjana ekonomi.
KAMU SEDANG MEMBACA
MEIDINA (SUDAH TERBIT)
Fiksi UmumHarga buku 103.000 Untuk pemesanan hubungi WA +6282174504261 "Maaf, apa kamu menjalani operasi plastik?" tanya gadis itu dengan muka penuh penasaran. Orang yang diajak bicara tidak menjawab dan hanya melirik gadis itu sekilas. "Apa kamu juga meminum...
