5. Kencan Rame-Rame

6.4K 1K 23
                                        

"Lo yakin kencannya disini?" Tanya Abi tidak percaya.

Meidina dan Abi memasuki sebuah cafe atau lebih mendekati restouran clasic yang berada di perbatasan kota. Menurut Abi, tempat ini sangat tidak cocok untuk kencan anak muda tapi lebih cocok untuk kencan paruh baya yang ingin mengenang masa lalu. Tapi Meidina keukeuh jika tempat kencannya dengan Navis di tempat ini.

"Jangan bilang si Navis Navis itu orangnya old fashion banget." Cibir Abi.

"Kagak, Bang Navis cukup stylish kok." Jawab Meidina membantah.

"Gantengan mana dia sama gue?" Tanya Abi.

"Yah ganteng dialah, pake nanya lagi." Jawab Meidina langsung yang dihadiahi jitakan oleh Abi.

Sudah sebulan sejak rencana perjodohan Meidina-Navis dan sejak itu hampir setiap akhir pekan mereka berkencan ceritanya supaya saling mengenal. Malam itu Tantra yang baru pulang dari luar kota langsung menolak acara perjodohan yang ibu dan tante Rahma rencanakan. Tidak ada sejarahnya pria muda menang debat lewat dua emak-emak, jadilah penolakan Tantra tidak berarti apa-apa. Ibu dan tante Rahma mengatakan jika perjodohan anak-anak mereka sudah mereka rencanakan sejak mereka muda, tapi karena anak pertama mereka sama-sama laki-laki jadi perjodohan ditangguhkan hingga salah seorang mereka punya anak perempuan. Dan karena Nadira sudah ada yang meminang jadilah Meidina yang harus menerima perjodohan itu.

Kedua ibu itu mengatakan jika mereka tidak akan memaksakan perjodohan itu, mereka hanya meminta Meidina dan Navis untuk saling mengenal terlebih dahulu. Tapi tidak memaksa macam apa jika kedua ibu itu sudah merancang pernikahan yang diadakan dua bulan setelah kencan pertama mereka. Bahkan mereka sudah menyewa gedung dan memboking salon, jadi mau tidak mau pernikahan antara Meidina dan Navis pasti terjadi.

Sebenarnya Meidina tidak terlalu keberatan dengan perjodohan ini. Teman-teman seperjuangannya sudah memutuskan untuk menikah begitu lulus kuliah dan juga usia 23 menjelang 24 sudah merupakan usia yang cukup untuk menikah. Lagipula Navis juga pria yang tidak buruk untuk dijadikan teman kondangan. Navis itu tipe pria pribumi yang bisa dibilang lumayan tampan, meskipun tidak setampan oppa-oppa korea atau segagah macam CEO dalam cerita novel. Dia seorang pegawai di salah satu perusahan ibu kota yang katanya memiliki rekening lumayan tebal. Navis bisa dibilang calon suami yang patut diperhitungkan.

Menurut Meidina yang sudah 2 kali berpacaran yang sayangnya setiap pacaran hanya dalam hitungan bulan, Navis itu tidak terlalu buruk meskipun sebenarnya komunikasi diantara mereka tidak terlalu baik. Satu hal yang sangat tidak disukai Meidina, yaitu Navis yang sepertinya seorang hater oppa-oppa kesayangannya. Navis memang lebih tua 4 tahun dibanding Meidina, wajar jika dia tidak suka hal-hal yang berbau korea. Tapi Meidina tetap kesal mendengat Navis mengatakan 'apa bagusnya sih pria-pria cantik bermata sipit itu?'

Karena tahu Navis macam hater, Meidina tidak pernah membahas tentang korea dihadapan Navis. Lagipula mereka tidak pernah kencan berdua karena Tantra akan selalu menjadi orang ketiga dipertemuan mereka. Menurut kacamata Tantra sebagai laki-laki, Navis itu kurang layak dijadikan pendamping hidup karena menurutnya Navis itu tipe pria setengah-setengah. Meidina tidak tahu apa maksud setengah-setengah yang dimaksud kakaknya, tapi yang pasti menurut Meidina, Navis itu bukan setengah wanita setengah laki-laki.

Tantra tidak mengizinkan Meidina pergi berdua saja dengan Navis, dan karena akhir pekan ini Tantra ada acara dikampusnya, Abilah yang kebagian mengantar Meidina. Kebetulan sahabatnya itu menjadi pengagguran setelah emaknya tidak ingin ditinggal ke kalimantan sana oleh putra bontotnya itu.

Butuh waktu 10 menit hingga akhirnya Navis sampai ke cafe itu, terlihat jelas jika pria itu tidak terlalu antusias dengan pertemuan mereka, apalagi lagi-lagi ada orang ketiga di kencan mereka.

MEIDINA (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang