Pantai selalu menawarkan keindahan yang sulit di abaikan. Meskipun hanya menawarkan suasana panas dan deburan ombak menurut Meidina, tetap saja banyak orang berbondong-bondong menuju pantai. Meidina tidak terlalu berminat mendekat ke bibir pantai. Entah kenapa dia merasa bulu kuduknya meremang dengan sendirinya. Meidina memilih untuk berdiri tidak jauh dari tempat parkir, kebetulan ada saung yang menjual berbagai makanan dan minuman disana.
Akram memesan makanan dan minuman untuk mereka sementara Meidina duduk dibagian luar saung itu. Mata wanita itu mengedar ke sekelilingnya, seingatnya dia tidak pernah pergi ke pantai. Tapi melihat keadaan sekelilingnya, dia merasa tidak asing seolah dia pernah mendatangi tempat ini. Dua orang gadis yang berjalan sambil tertawa di kejauhan menarik perhatian Meidina. Entah kenapa dia merasa tidak asing dengan pemandangan itu, apalagi ditambah beberapa orang mendekati si gadis dan mereka tertawa bersama. Meteka sepertinya rombongan anak-anak yang mungkin masih berumur belasan.
"Apa yang sedang kamu lihat?" tanya Akram ikut duduk di samping Meidina.
"Anak-anak remaja itu." jawab Meidina tanpa mengalihkan perhatian dari anak-anak muda yang sedang asyik bercengkrama seraya tertawa dari kejauhan.
"Anak-anak pada usia mereka memang masanya senang bermain dan bersenang-senang dengan banyak teman." ucap Akram melihat kearah yang Meidina lihat.
"Ajjushi juga dulu seperti itu?" tanya Meidina.
"Tentu saja, bahkan saat akhir-akhir masa SMA, bermain hingga menginap rame-rame di rumah terman adalah hal yang sering dilakukan. Beralasan belajar bersama padahal ujung-ujungnya bermain."
"Aku tidak mengingatnya." ucap Meidina pelan. Tangannya memainkan sedotan es kelapa dihadapannya tapi matanya masih belum teralaih.
"Tidak mengingatnya?" tanya Akram heran.
"Mei gak terlalu ingat masa-masa remaja Mei, seingat Mei mulai suka EXO setelah dikenalkan oleh kak Lilian dengan lagu what is lovenya, waktu itu Mei sudah memasuki masa kuliah."ucap Meidina.
"Lilian?"
"Iya kak Lilian, jangan bilang A Tantra yah Mei ngomong tentang kak Lilian. A Tantra itu masih sensitive mendengar nama kak Lilian, padahal sudah dua tahun sejak kak Lilian pergi. Kasihan sekali kisah cinta si Aa itu. Tahu gak meskipun sin Aa sama kak Lilian dekat nyatanya mereka Cuma temenan aja. Eh pas A Tantra mau nyatain perasaan kak Lilian keburu pergi untuk selamanya." cerita Meidina.
"Lilian itu sudah meninggal?" tanya Akram.
"Iya, sudah meninggal katanya sih sakit kanker otak tapi meninggalnya karena tertabrak mobil." jawab Meidina.
"Kak Lilian itu baik banget orangnya, dia itu seperti kakak perempuan yang tidak aku miliki. Yang pertama kali ajak Mei nonton drama korea itu kak Lilian, dia juga yang bikin Mei suka K-POP. Mei inget drama yang pertama kali kita tonton itu Love Rain, di drama itu juga pertama kali Mei lihat Yoona SNSD yang cantiknya sebelas dua belas dengan Mei." ucap Meidina dengan tawa diakahir kalimatnya.
Seperti biasa membicarakan apapun berbau korea pastilah membuat Meidina begitu bersemangat. Cerita-cerita itu berhasil membuat perasaan tidak nyaman yang hadir tiba-tiba dihati Meidina teralihkan. Beruntunglah Akram bukanlah tipe pria yang kesal diajak membicarakan hal-hal berbau K-POP. Meskipun Akram tidak tahu apa-apa, tapi dia menjadi pendengar yang baik, terkadang menanggapi dengan jawaban logis jika Meidina bertanya padanya.
Obrolan mereka berhenti sesaat karena makanan yang mereka pesan datang. Meidina langsung berbinar melihat hidangan berbagai seafood dihadapannya. Mungkin benar kata orang, makan hidangan laut dipantai adalah hal yang paling luar biasa. Meidina yang sangat tidak suka menyianyiakan makanan langsung menyantap makanan dihadapannya. Kapan lagi makan di warung tidak jauh dari pantai seperti ini pikirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MEIDINA (SUDAH TERBIT)
General FictionHarga buku 103.000 Untuk pemesanan hubungi WA +6282174504261 "Maaf, apa kamu menjalani operasi plastik?" tanya gadis itu dengan muka penuh penasaran. Orang yang diajak bicara tidak menjawab dan hanya melirik gadis itu sekilas. "Apa kamu juga meminum...
