[4] Masa Lalu

41 6 0
                                    

31 Desember 2016

Dua pasang remaja itu sedang berjalan di bawah terang nya rembulan malam ini yang sedang di hiasi oleh banyak nya kembang api dari berbagai penjuru kota. Sesekali sang perempuan kaget karena suara ledakan kembang api yang datang begitu tiba tiba, sementara sang laki laki tertawa kecil saat sang perempuan terkejut.

"Jangan ketawa!" Rengek Reina berkali kali merasa kesal serta malu di tertawai. Walau ditertawakan oleh teman atau sahabat sendiri, tetapi tetap saja dia malu.

"Siapa juga yang ketawa. Ge'er." Jawab Kavin masih tertawa pelan.

"Udah ah Reina balek aja." Ketus Reina langsung membalikkan badan nya. Ia tidak berniat balik betulan, ia hanya ingin membuat Kavin berhenti tertawa.

"Yaudah balek aja sono." Kavin sengaja tidak menghiraukan Reina, ia masih terus lanjut berjalan.

Reina melihat kebelakang, Kavin malah meninggalkan nya dan jalan terus saja. Padahal mereka sudah jauh berjalan dari perumahan hingga ke alun alun kota tetapi Kavin tidak menariknya atau lainnya, membuat Reina sangat sangat kesal.

"Ish." Gerutu Reina langsung berjalan cepat menyamakan langkah nya dengan langkah Kavin yang terbilang besar.

"Kata mau pulang." Sindir Kavin menatap sekilas perempuan yang tinggi nya hanya diatas bahunya sedikit.

"Tanggung aja udah mau nyampe soalnya." Sahut Reina tidak mau kalah oleh Kavin.

Kavin lagi lagi dibuat terkekeh pelan oleh Reina. Tangan kiri laki laki itu kini sudah terjulur ke atas bahu milik Reina. Membuat sang empunya bahu hanya bisa diam karena kaget tiba tiba saja di rangkul.

"Ntar gue mau bilang sesuatu." Ucap Kavin tiba tiba tepat di telinga Reina. Seketika tubuh Reina merinding karena suara Kavin yang sangat nge-bass tepat di telinga nya.

Sesampai di alun alun. Mereka berdua duduk di salah satu ayunan yang dihiasi oleh lampu warna warni. Sedari tadi mereka hanya duduk menunggu pergantian tahun. Sudah dua harum manis dan satu eskrim telah habis di makan oleh Reina sendirian. Tak lupa dengan setiap jajanan yang lewat di depan mereka, Reina selalu berhentikan dan membeli.

Sementara Kavin hanya duduk diam memandangi tingkah Reina, sesekali ia mengajak Reina berfoto tetapi di tolak oleh Reina karena pasti hasilnya gelap dan tidak nampak apa apa. Alhasil, Kavin pun memfotokan Reina seorang diri yang sedang menyantap harum manis bewarna merah muda. Dalam sekali tekan, lampu dari ponsel Kavin menyala dengan cepat. Membuat Reina tak sempat menutupkan wajah nya.

Alhasil sedari tadi Reina meminta ponsel Kavin namun tidak di kasih kasih oleh si sang empunya.

"Kavin ih! Hapus dong foto Reina! Kalo mau ngajak foto oke! Itu jelek banget pasti muka Reina," Kesal Reina sambil mencubit perut Kavin pelan.

"Hmm ...," Kavin berpura pura tidak mendengarkan Reina. "hapus gak ya?" lanjut nya membuat Reina semakin kesal.

"Yaudah ah terserah Kavin!" Reina langsung memberhentikan aksi mencubit Kavin dan fokus ke arah ponsel nya.

"Gitu aja marah. Kan buat kenang kenangan," ujar Kavin merangkul Reina yang masih saja mencibir mulut nya.

"ya ya ya," jawab Reina setengah tidak peduli.

"Rein," panggil Kavin dengan suara khas nya. Entah kenapa panggilan Kavin membuat suasana menjadi menengang. Bahkan Reina tidak menjawab ia hanya diam menunggu perkataan selanjutnya.

"Lo nyaman sama gue?" Tanya Kavin berhasil membuat Reina terdiam. Perempuan itu masih mencerna baik baik. Ia nyaman sama Kavin sangat nyaman. Reina seperti sudah tau kemana arah pembicaraan ini sekarang.

"Iya Vin," jawab Reina berusaha menutupi kegugupan nya.

"Kalo lo nyaman kenapa kita gak jadian? Gue juga nyaman sama lo. Gue sayang sama lo. Gue pengen selalu di deket lo Rein. Entah kenapa lo seperti candu bagi gue. Gak ada yang bohong dari perkataan gue. Gue benar benar pingin lo itu jadi milik gue. Tingkah lucu lo, bikin gue jatuh hati setiap saat, setiap detik saat lihat senyum di wajah lo. Jadi Rein mau jadi pacar gue?" Kavin kini menatap Reina sangat lekat.

"Gue–"

Reina terbangun begitu saja saat ia tidak bisa menahan semua rasa sakit ini. Kedua tangan nya mengusap wajah, ternyata ia menangis karena mimpi barusan. Bahkan kepala nya kini terasa sangat sakit.

Tidak hanya kepala yang sakit, dada nya menjadi sangat sesak, bahkan kini tangan Reina mulai memukul pelan dada nya agar rasa sakit serta sesak itu menghilang. Setiap kata atau kalimat Kavin seperti tusukkan berkali kali di hati nya.

"Ah ..." isak Reina di tengah memukuk dada nya yang semakin sakit rasa nya. Dan tanpa ia sadari Reina menangis begitu tersedu sedu membuat dada nya kian bertambah sakit.

"Gue gak bisa sama lo lagi Rein,"

Lagi, ini bukan pertama kali perkataan Kavin yang terkadang datang tiba tiba di otak nya. Memenuhi semua isi kepala nya. Reina memegang kepala nya yang sudah sangat sakit.

"Gue sayang, sama lo Rein,"

"Gue mau kita udah,"

"Gue gak bisa jauh dari lo,"

"Gue benar benar ingin sudahin semua ini,"

Perkataan Kavin kali ini terngiang begitu banyak di otak nya. Satu perkataan saja sudah sangat sakit bagi nya.

Tanpa di sadari juga, Reina kini sudah menyakiti diri nya sendiri. Ia memukul kepala nya sangat keras dengan tangan nya berkali kali. Sesekali ia menarik rambut nya hingga beberapa helai terlepas.

Di sekujur tubuh Reina serasa sangat panas dan sesak. Bukan hanya dada nya saja ternyata.

"ARGH!!" Teriak Reina frustasi memukul kepala nya semakin banyak dan kuat agar ia lupa ingatan seketika dan beban ini hilang semua.

Tiba tiba Yei datang begitu saja saat mendengar suara teriakan dari kamar sebelah. Ia berteriak kecil kaget melihat Reina. Ini bukan pertama kalinya, namun selalu membuat Yei panik dan kasihan melihat Reina.

Tante Reina langsung memeluk erat Reina dan memegang kedua tangan nya agar ia tidak melukai sekujur tubuh nya sendiri. Reina menangis terseduh di atas baju piyama milik Yei. Jika itu bisa meringankan beban Reina, Yei rela baju nya basah.

Tangan Yei mengelus puncak kepala Reina. Salah satu alasan gadis itu memotong rambut nya ialah, hampir sama seperti saat ini. Ia berteriak dan menarik rambut nya sendiri. Ia berkata Kavin sangat sering sekali memegang dan mengelus rambut nya. Dan itu yang membuat nya sangat sakit.

Hidup Reina sangat lah sepi. Memiliki kedua orang tua namun tidak pernah di anggap ada. Bisa di hitung berapa kali ia makan bersama bersama kedua orang tua nya yang kini berada di luar negeri untuk pekerjaan.

Sementara abang nya, meninggal satu tahun yang lalu akibat candu terhadap rokok, dan tak jauh dari kejadian itu Kavin juga ikut pergi.

Kavin awalnya datang membawa bahagia. Namun bahagia itu tidak lah lama. Ia datang membawa bahagia hingga rasanya Reina lah orang yang paling bahagia di dunia ini, lalu pergi meninggalkan bekas yang teramat dalam.

Dan Reina melewati semua masa kelam yang sangat menyiksa itu sendirian. Ia harap ia pergi dari dunia ini sekarang juga.

TBC

You, Clouds, RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang